SAAT LEGENDA BERBAGI SELAKSA PENGALAMAN
By Isfandiari MD
“Datang ke rumah Om ya, kita ngobrol soal kebudayaan!” Callingan ini bukan dari orang sembarangan. Beliau tokoh betawi terkemuka, politisi dan penyiar TVRI legendaris. Anak Betawi Tenabang yang sangat dihormati, seorang nasionalis sejati! “Siap Om, besok saya langsung kerumah, terima kasih undangannya,” sambut saya antusias. Ini kesempatan langka yang jarang dialami, diundang tokoh sekaliber Rusdi Saleh.
Tak sulit mencari kediamannya. Ada di jantung kota jakarta, wilayah Pejaten-Mampang. Komplek bank Niaga, zona asri cenderung hening walau ada di belantara padatnya Jakarta. Di depan komplek Satpam langsung menyambut,”Pak Rusdi ? gampang itu, di depan rumahnya ada lambang Burung Garuda!” sambut satpam komplek.
Beres seruput teh manis manis suguhan orang rumah, om Rusdi berkisah. Tergambar kegelisahan sosok yang lahir bulan Juli 1942 ini. Sebagai anak Betawi ia intens menyimak banyak hal. Ikhwal tokoh-tokoh Betawi, budaya Betawi, soal anak muda sampai kisah sejarah masa lampau. Diluar inti obrolan, saya terkesima dengan tone suaranya. Teringat era 80-an waktu beliau bacakan Berita Nusantara atau Dunia Dalam Berita jam 21.00 dulu. Aksentuasi tegas, suara bariton yang renyah dan wajah ganteng beliau. Walau sudah berusia 80 tahun, suaranya masih terasa ‘nuansa’ penyiar: adem di telinga!
Selaksa hal seru jadi bahan perbincangan. Putra H. Mohammad Saleh, pejuang kemerdekaan yang diberi penghargaan oleh Bung Karno dan Pak Harto ini sangat kritis. Ingatannya tajam, gambarkan peristiwa Konfrensi Asia Afrika di Bandung saat beliau diajak ayahnya di usia 13 -san. Kenangan atas sahabatnya, almarhum Mahbub Djunaidi yang sama-sama anak Tanah Abang.”Mahbub itu tokoh besar! Wartawan paling populer di jamannya, kesayangan Bung Karno. Tulisannya luarbiasa, belum ada tandingannya. Salah satunya karya di Duta Masyarakat, koran yang dipimpinnya. Katanya Pancasila lebih sublim ketimbang Declaration Of Independence-nya Thomas Jefferson dan Manifesto Komunis-nya Karl Marx. Ia juga tokoh Nahdlatul Ulama, Politisi dan ketua PWI khan?” katanya nada bertanya. “Bagus dia dijadikan nama jalan di dekat Tugu Pak Tani, tapi kurang ideal! Harusnya jadi pengganti jalan Kebon Sirih. Juga soal Ismail Marzuki, kita belum ideal memberi pengormatan pada tokoh satu ini,” jelasnya gelisah sambil menyorot banyak tokoh Betawi lain yang luput dari perhatian masyarakat dan pemerintah.
Romantika-nostalgia tentu menjadi bahan sejarah yang penting disimak. Om Rusdi menjadi saksi sejarah masa revolusi. Masa kecilnya ada di jaman revolusi fisik, ikut mengungsi ke Solo dan Jogja. Menjadi saksi pertemuan akbar Bung Karno dan rakyat Indonesia di Lapangan Ikada, hadir in person saat terjadi percobaan pembunuhan atas Bung Karno oleh anggota DI/TII dalam shalat Idul Adha, 14 Mei 1962 oleh Sanusi alias Fatah, Soleh, Uci Sanusi Fikrat, atau Sanusi Ufit bersama Kamil alias Harun bin Karta dan Jaya Permana alias Embut atau Hidayat bin Mustafa.
Ia juga ada di sekitar lokasi saat bung Kerno dicoba dihabisi dalam peristiwa penembakan Cikini, 30 November 1957. Sebagai jurnalis semua peristiwa itu dicatatnya dengan rapi dan diceritakan dalam bukunya: Nasionalisme Sang Penyiar, ditulils wartawan senior Lahyanto Nadie, terbit di Februari 2021 oleh Pustaka Kaji. Di dunia pers ia bukan cuma penyiar ter-ganteng , Om Rusdi juga wartawan TV pertama yang lakoni wawancara antarbenua saat peluncuran satelit PALAPA dari Florida Amerika Serikat. Tak sembarangan, nara sumber yang dia wawancara tak lain orang nomor satu saat itu, Presiden Soeharto. Di jaman itu cuma ada 3 negara yang punya satelit, Amerika, Rusia dan Indonesia. Semuanya menjadi rekam jejak beliau dan catatran penting perkembangan pers nasional.
Baca Juga : MAHBUD DJUNAIDI : BUNG KARNO, PELANGI ITU
Kiprahnya memang beragam. Selain jurnalis, ia politisi jempolan, anggota DPRD dua periode (1987-1992 dan 1992-1997), duduk di Komisi C wakili partai Golkar. Jasanya pada partai sangat besar. Suara suara Golkar terangkat sampai 50% setelah di babat PPP di angka 35% pemilih. Jadi jelas, jika Rhoma Irama didaulat jadi vote getter untuk PPP, Golkar punya vote getter andalan, bernama Rusdi Saleh.
Kalangan mahasiswa juga wajib angkat topi padanya. Si Om aktivis di era ‘panas’ masa itu, kisaran 1966-1969 di organisasi IPMI (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia), KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) juga IWARDA (Ikatan Warga Djakarta). Di prime age-nya ia seangkatan Goenawan Mohammad, Ismi Hadad, Bur Rusuanto, Fikri Juffry, Willy Karamoy juga Anwar Nono Makariem. Tokoh yang terakhir ini ayahnya Nadiem Makariem, mantan Mentri Pendidikan dan bos transportasi Go-Jek yang kena kasus.
Jadi beruntung Gasride.net diundang sowan ke Om Rusdi Saleh. Moga diundang lagi untuk informasi-informasi ‘kelas’ tinggi dari sang legenda. Sehat selalu Om, yo’re awesome!!

Tentang Penulis
Isfandiari Mahbub Djunaidi adalah seorang jurnalis senior, penulis, dan Wasekjen PBNU yang juga merupakan putra dari sastrawan legendaris Mahbub Djunaidi [Penerbit Javanica]. Mewarisi darah literasi sang ayah, ia aktif menulis karya bertema biografi dan subkultur, termasuk buku “Bung: Memoar Tentang Mahbub Djunaidi” [Penerbit Javanica]. Di luar ranah keagamaan dan literasi, ia dikenal luas sebagai tokoh pergerakan motor di Indonesia, Gus is panggilan akrabnya juga menjadi Pimpinan Umum dimedia online gasride.net, serta membagikan cerita dan esai kesehariannya lewat Instagram @isfanoutsider_.
