Oleh : Isfandiari MD
BOJONGSARI, 22 Oktober 2026 — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Bojongsari menyelenggarakan Apel Akbar Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Lapangan Perseka, Curug, Kecamatan Bojongsari, pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” sebagai penegasan bahwa peran strategis santri dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus mempersiapkan masa depan Indonesia.
Rangkaian kegiatan diawali dengan gerak jalan yang diikuti oleh para santri dari berbagai pondok pesantren menuju Lapangan Perseka. Peserta mulai diberangkatkan pada pukul 07.00 WIB. Suasana kebersamaan dan semangat para santri tampak mewarnai perjalanan menuju lokasi apel.
Setibanya di lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan upacara pengibaran bendera Merah Putih yang dimulai pukul 08.00 WIB. Upacara dipimpin oleh Ketua Tanfidziyah MWC NU Bojongsari, KH Syukron Hidayatullah. Pengasuh pondok pesantren Al Marhamah. Pelaksanaan upacara menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat nasionalisme, cinta tanah air, serta komitmen santri dalam menjaga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Usai upacara, kemeriahan peringatan Hari Santri Nasional dilanjutkan dengan atraksi pencak silat dari masing-masing pondok pesantren juga doorprize buat santri berprestasi di Kecamatan Bojongsari. Penampilan tersebut tidak hanya memperlihatkan keterampilan bela diri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi pesantren yang mengajarkan kedisiplinan, keberanian, sportivitas, dan penghormatan terhadap sesama.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh agama dan penggerak Nahdlatul Ulama di wilayah Bojongsari, di antaranya kiai Haji Hadi Hadiyatulah, yang dikenal sebagai salah satu motor penggerak ke-NU-an serta sebagai Mustasyar . Ketua Rois Am Ustaz Badrudin juga para pengasuh pondok pesantren turut hadir. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan peran pesantren dan organisasi keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, kegiatan juga dihadiri unsur pemerintahan dan keamanan, termasuk Camat Bojongsari, jajaran Koramil, Kapolsek, serta seluruh kepala desa se-Kecamatan Bojongsari. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara ulama, santri, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun wilayah yang harmonis, aman, dan berkemajuan.
Menggerakkan Roda Ekonomi Masyarakat
Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat semangat keagamaan dan kebangsaan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Keramaian di sekitar lokasi acara membuka peluang bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Bojongsari.
Baca Juga : Dari Cepu Menuju Panggung Dunia: Inovasi Tiga Pelajar yang Siap Mengguncang Singapura!
Sejumlah pedagang tampak memanfaatkan momentum tersebut untuk menjajakan berbagai produk dan kebutuhan pengunjung. Aktivitas perdagangan ini menjadi gambaran bahwa kegiatan keagamaan dan kebangsaan juga dapat menjadi penggerak ekonomi lokal apabila diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat secara luas.
Harapan ke depan, kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan agar tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi warga Bojongsari.
Santri dan Masyarakat Bersinergi Membangun Negeri
Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026, MWC NU Bojongsari diharapkan terus mendorong penguatan hubungan antara santri, pondok pesantren, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat. Santri memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai keislaman, merawat persatuan, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Sementara itu, masyarakat dan pemerintah diharapkan terus memberikan dukungan terhadap pendidikan pesantren, pemberdayaan generasi muda, serta pengembangan ekonomi lokal. Sinergi tersebut menjadi modal penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas yang maju, adil, dan sejahtera.
Semangat kebersamaan yang terbangun dalam Apel Akbar Hari Santri Nasional di Lapangan Perseka, Curug, ini diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Lebih dari sekadar peringatan, Hari Santri harus menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa membutuhkan kontribusi semua pihak.
Dengan semangat gotong royong, persatuan, dan pengabdian, santri bersama masyarakat diharapkan mampu mewujudkan kehidupan yang tenteram, makmur, dan penuh keberkahan, menuju cita-cita “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”—negeri yang baik, sejahtera, dan senantiasa berada dalam ampunan serta rida Allah SWT.

Tentang Penulis
Isfandiari Mahbub Djunaidi adalah seorang jurnalis senior, penulis, dan Wasekjen PBNU yang juga merupakan putra dari sastrawan legendaris Mahbub Djunaidi [Penerbit Javanica]. Mewarisi darah literasi sang ayah, ia aktif menulis karya bertema biografi dan subkultur, termasuk buku “Bung: Memoar Tentang Mahbub Djunaidi” [Penerbit Javanica]. Di luar ranah keagamaan dan literasi, ia dikenal luas sebagai tokoh pergerakan motor di Indonesia, Gus is panggilan akrabnya juga menjadi Pimpinan Umum dimedia online gasride.net, serta membagikan cerita dan esai kesehariannya lewat Instagram @isfanoutsider_.
