sosok Gunung Anak Krakatau terus bertumbuh sebagai salah satu laboratorium vulkanik paling aktif di dunia.
Perairan Selat Sunda tidak pernah benar-benar sunyi. Di celah sempit yang membelah Pulau Jawa dan Sumatra, sosok Gunung Anak Krakatau terus bertumbuh sebagai salah satu laboratorium vulkanik paling aktif di dunia. Namun, jauh sebelum instrumen seismograf modern dan citra satelit Badan Geologi terpasang, peradaban kuno di Jawa telah mendokumentasikan tabiat katastrofe kawasan ini lewat bait-bait naskah kuno.
Membaca dinamika Selat Sunda hari ini membuka jendela menarik: mempertemukan data sains vulkanologi modern dengan narasi kearifan lokal yang tertuang dalam serat dan babad klasik.
Jejak Bencana Purba dalam Serat Pustakaraja Purwa
Salah satu rujukan tradisional paling terkenal yang sering dikaitkan dengan aktivitas vulkanik Selat Sunda adalah kitab Pustakaraja Purwa gubahan pujangga besar Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita. Di dalam teks tersebut, tertulis narasi dramatis mengenai terpisahnya Pulau Jawa dan Sumatra yang disangkutkan pada tahun Saka 338 (sekitar tahun 416 Masehi).
Naskah tersebut mendeskripsikan suara dentuman menggelora dari Gunung Kapi, diiringi bumi yang berguncang hebat, kilatan petir dahsyat, serta gelombang laut raksasa yang menenggelamkan daratan. Catatan tersebut melukiskan bagaimana perairan akhirnya menerobos dan membagi daratan besar menjadi dua pulau yang terpisah selamanya.
Meski Ranggawarsita menuliskan kembali kisah tersebut pada abad ke-19—dengan rentang masa penulisan yang dekat dengan letusan paroksismal Krakatau 1883—peneliti kebumian internasional, seperti Ken Wohletz dari Los Alamos National Laboratory, sempat meneliti kemungkinan adanya letusan purba super-kolosal pada milenium pertama yang membentuk kaldera purba Selat Sunda. Terlepas dari perdebatan tahun pasti secara kronologis, tradisi lisan dan naskah Jawa menunjukkan bahwa leluhur nusantara telah merekam memori trauma bencana alam secara konsisten.
Mitos Sabdo Palon, Jangka Jayabaya, dan Siklus Zaman
Dalam tradisi eskatologi Jawa, fenomena meletusnya gunung api kerap dikaitkan dengan pergeseran siklus peradaban (cakramanggilingan). Cerita rakyat dan ramalan yang dikaitkan dengan Prabu Jayabaya maupun mitologi Sabdo Palon menempatkan gejolak alam—seperti lindu, prahara, dan erupsi gunung—sebagai tanda pergantian era atau tengara lampahing zaman.
Ketika gunung-gunung di pesisir barat Jawa bergolak, sastra tutur kerap memaknainya sebagai sinyal bahwa bumi sedang menyeimbangkan energinya kembali. Bagi masyarakat tradisional Jawa, erupsi bukanlah kutukan semata, melainkan mekanisme alam dalam menyucikan raga dan tanah (lahar sebagai pembawa mineral penyubur tanah di masa depan).
Baca Juga : Menakar Potensi Gempa Megathrust Indonesia: Fakta Ilmiah, Titik Rawan, dan Kesiapan Mitigasi
Fakta Sains: Siklus Pertumbuhan Anak Krakatau Pasca-2018
Jika narasi tradisional menempatkan fenomena ini dalam bahasa perlambang, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) membaca aktivitas Selat Sunda melalui angka dan data instrumentasi.
Pasca-runtuhnya sektor barat-daya tubuh Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 yang memicu tsunami vulkanik, morfologi pulau gunung api ini berubah drastis:
- Ketinggian puncaknya sempat terpangkas dari sekitar 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi hanya sekitar 110 mdpl.
- Volume tubuh gunung berkurang lebih dari separuh akibat longsoran bawah laut (flank collapse).
- Fase konstruksi baru langsung berjalan: letusan-letusan bertipe surtseyan dan strombolian secara konstan menumpuk material abu, pasir, dan bom vulkanik, membangun kembali kerucut baru di tengah kaldera.
Hingga kini, status aktivitas Anak Krakatau terus dipantau melalui Pos Pengamatan Pasauran (Banten) dan Kalianda (Lampung) dengan pemantauan visual, tremor menerus, deformasi GPS, hingga anomali termal satelit.
Menghubungkan Mitigasi Modern dan Kesadaran Tradisi
Membaca ramalan dan naskah Jawa kuno di era digital bukan tentang larut dalam fatalisme mistis atau mencari cocoklogi kalender bencana. Nilai paling luhur dari serat-serat kuno adalah konsep eling lan waspada—keharusan manusia untuk senantiasa sadar ruang dan tidak pongah terhadap kekuatan alam.
Kearifan masa lalu mengingatkan bahwa kawasan Selat Sunda adalah bentang alam yang hidup dan berdenyut. Melalui kombinasi data sains dari sensor seismik, sistem peringatan dini gelombang laut, serta sikap mawas diri warisan leluhur, masyarakat yang hidup di lingkar pesisir dapat membangun mitigasi yang tangguh: menghormati denyut alam tanpa kehilangan kesiapsiagaan ilmiah.
