FENOMENA STAND UP COMEDIAN: MERASA CERDAS, MENGHINA LAHIRKAN KESOMBONGAN
By Isfandiari MD
Stand up comedian perlu kecerdasan lebih. Melucu sendiri di depan khalayak, bertiket mahal pula, masuk golongan orang istimewa. Tak sembarang orang bisa, bahkan orang ter-humoris sekalipun. Jadi fix! Mereka pintar, jago riset, peka situasi, tahu banyak info. Jendral Mc Arthur, Panglima tertinggi Amerika kawasan Pasifik Barat pernah mengulas betapa berharganya humor itu. Tokoh Perang Dunia II ini masukkan unsur ini didalam doa kepada Tuhan. “Anugrahkan anakku rasa humor yang cukup dalam dirinya,” dan seterusnya. Kalimat doanya ditutup dengan,”Aku ayahnya akan memberanikan diri untuk berbisik, hidupku ini tidaklah sia-sia!” Begitulah, humor sebagai anugrah menjadikannya ayah yang sempurna. Bayangkan!
Renungan Mc Arthur jadi gambaran betapa rasa humor penting untuk modal arungi hidup. Apalagi sebagai profesi, perlu banyak unsur: berkelas, jadi pencerah hidup dan pamungkas, tidak kasar apalagi menghina. Yang terakhir ini viral dan jadi perbincangan luas, mengerucut langsung pada stand up komedian bertarif mahal, Panji Pragiwaksono. Tema paling gencar tampang wakil presiden Gibran Rakabuming Raka, tampang ngantuk dan dipandang tidak elok oleh sang komedian. Makin ‘lucu’ hadirin tertawa lepas, lawakannya sukses. Yang tertawa, termasuk juga yang punya kriteria mirip-mirip, dipandang tidak elok dalam selera subyektif.
Menurut keyakinan saya, Panji tidak terlalu religius tapi bagus jadi masukan buat dirinya. Dalam Islam, menghina fisik masuk kategori haram, dosa besar dan bentuk kefasikan. Tertera jelas dalam Al-Qur’an, sunah juga kesepakatan para ulama. Jangan menghina-mengolok-olok merendahkan orang lain (Al-Qur’an (Surat Al-Hujurat Ayat 11). Nabi Muhammad S.A.W dalam sebuah moment menegur istrinya Aisyah atas komentar bernada body shaming atas Shafiyah yang berpostur pendek. Ulama mulia seluruh dunia juga sepakat, semua bentuk sindiran, ejekan, atau hinaan, termasuk yang berkaitan dengan fisik (warna kulit, tinggi badan, kecacatan, dll.), adalah haram. Alasannya humanis sekali, tiap insan punya kehormatan yang tak boleh disentuh, hadirnya sifat sombong, terganggunya interaksi sosial menjadi gaduh, pro-kontra ribut dan sama sekali tak bermanfaat. Digaris tebal dalam Al Hujurat 11, termasuk orang yang zalim. Makin afdal lagi di hukum negara dalam KUHP Pasal 310, intinya menyerang kehormatan seseorang atau merusak nama baik dengan tuduhan yang disiarkan agar diketahui umum-lisan/tulisan kena pidana.
Banyak respon, Dr. Tompi, artis penyanyi profesi dokter bereaksi. Ia gerah atas penghinaan orang dalam bentuk fisik.Selain dia, topik senada berseliweran media sosial juga obrolan-obrolan di jalanan. Makin rame, hadir pro dan kontra. Masing-masing punya motif. Asal komentar, berniat mulia, resah, marah, jengkel sampai punya kepentingan khusus bersifat politis.
Tapi apapun itu, sense of humor patut dibenahi demi idealnya peradaban. Lawak jika disajikan elegan jadi oase paling mujarab, mengembirakan hati untuk melihat sisi cerah celah kehidupan. Pelawak jadi garda terdepan membangun state of mind dan menjadikannya profesi mulia. Realitasnya, kemuliaan itu bisa datangkan bonus termasuk kesejahteraan finansial bagi mereka. Bukan sebaliknya, mencari kekayaan atas modal kecerdasan mengolah isu untuk jadi bahan tertawaan. Merasa paling benar, paling cerdas, paling ganteng/cantik sampai merasa paling lucu. Secara spontan, fans bisa saja tertawa lepas, tapi efeknya destruktif. Hadir lookism atau diskriminasi berdasarkan penampilan, body shaming yang melecehkan kodrat estetika yang dimiliki atas kuasa takdir Tuhan. Sifatnya universal, bisa terhadap Gibran yang wapres atau warga umum yang bukan siapa-siapa. Terus-terusan menjual lawakan mengarah fisik, secara spiritual melahirkan kesombongan. Allah memberi peringaran dalam Surah Luqman ayat 18: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Itulah intinya!
