Romantika Bikers Nusantara

PETURING BEBUKA ABAD 20

By Isfandiari MD

Marak orang berduit beli motor lehirkan komunitas-komunitas spesifik, jadi cikal bakal klub motor Nusantara. Klub senior macam Motor Antique Club Indonesia (MACI), HCC (Harley Club Cirebon) HCG (Harley Club Garut), HCB (Harley Club Bandung) sampai HDCI (Harley-Davidson Club Indonesia) maupun ISHD (Ikatan Sport Harley Davidson).

’Modal’ motor-motor mereka bermacam-macam. Selain warisan orang tua, membeli dari kenalan dari geliat penjual motor mulai bebuka abad 20 seeprti dari impotir resmi . Supaya lebih menghayati ini bahasa aslinya dari koran Sin Po 1930-an :  IMPORTEURS TOKO MASCOTTE, Weltevreden Senen 125, telf.No. 738 WL, Atow,Soerabaja, Kaliasin 7, telf No. 432 Z.

Motor-motor kelas ini rata-rata dibeli oleh orang belanda yang berprofesi sebagai mandor perkebunan yang biasa disebut Ordeming alias Demang. Masuk masa perang, tentara mereka menggunakan motor-motor jenis ini seperti fakta sejarah di Bandung dalam kursus latihan perwira,  CORO (Cursus Opleiding Reserve Officieren)  dengan salah satu materinya menunggangi motor. Tiap  Sabtu sore di tahun 40-an, para perwira ini wajib melaksanakan upacara bendera Vlag Vertoon dan Taptoe. Mereka dengan  semplakan dan pakaian licin klimis berberis meninggalkan Kazerne (Asrama) di daerah lapangan Siliwangi menuju Pieterspark  (sekarang Taman Merdeka) sebelah Utara Jl. Braga.

Pas Belanda kalah oleh Jepang, motor-motor ini dirampas menjadi sitaan perang dan beberapa ’bocor’ dan dimiliki pejuang kita. Tunggangan sekutu seperti HD The Forty Five (750 cc), BSA dan lainnya banyak yang punya kisah tersendiri. Ny Sulistinah Soetomo, istri pejuang Bung Tomo misalnya, saat menjadi pejuang di Palang Merah Indonesia, dibonceng HD 750 dalam menolong pejuang terluka. Jadi nggak heran saat Indonesia merdeka, salah satu varian legendaris Harley-Davidson 750 cc menjadi tunggangan POWAL, PATWAL sampai PM di negeri ini.

Geliat di dunia motosport juga menjadi pendorong utama lahirnya klub-klub motor sekarang. Loma Ketjakapan Bermotor tahun 50-an punya latar belakang sejarah yang panjang. Oma Lo Ban Nio atau tante Bani Lunawati pernah bercerita pada BIKERS bertahun lalu. Beliau ini biker sejati, pembalap motor wanita pertama Indonesia sekaligus peturing. Kata Oma, lomba itu cukup bergengsi dan menyedot animo motorcycle junkie. Wow, tahunya berpuluh tahun sebelumnya  senior Oma sudah melakoninya. Tercatat pada 7 mei 1917, Bro Gerrit de Raadt cuek riding dari Jakarta ke Surabaya dalam tempo 20 jam, 45 menit naik Reading Standard. Nggak mau kalah, 10 hari setelah itu, Wim Wygchel  naik Excelsior memperbaiki rekor Gerrit de Raadt dalam waktu 20 jam, 24 menit. Dihitung, kecepatan rata-rata mereka 42 kilometer per jam. Jadi tradisi turing rekan-rekan MACI, HDCI dan klub-klub senior tanah air memang punya akar sejarah yang panjang!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *