KORBANKAN CINTA DEMI PEMBUKA GERBANG KEMERDEKAAN –
By Isfandiari MD
…… Bukan lelaki sembarangan! Ia bukan don juan tapi ‘sufi’’ asmara tak ada bandingnya. Kisah cinta epik Rome-Juliet, Muntaz Mahal-Shah Jahan, Ines Castro-Raja Pedro atau bahkan Layla Majnun kalah jauh dibanding romantikanya. Bagaimana tidak? H. Sanusi rela lepaskan istri tercinta, kekasih belahan hatinya. Berkorban perasaan, redakan amarah demi tujuan yang lebih urgent: menjaga mental seorang muda yang bakal mengantar Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Bagaimana bisa?….

Kisah perjuangan tak terbantahkan. Roman cinta dramatis, bahan perenungan atas kesejatian pengorbanan. Sepenggal masa, Sanusi memanggil istrinya . “Akang ridho,” kata Sanusi yang disapa istrinya kang Uci. Ia serius, “Terimalah Kusno jadi suamimu, jagokan dia, buat dia jadi orang penting. Bantu dia sampai benar-benar jadi pemimpin rakyat! Dampingi dia sampai ia benar-benar mencapai cita-citanya,” katanya tegas, tenang, teduh. Makin nyesek, sang istri memeluk suaminya, tangispun tumpah, pelukan terakhir kali sebagai suami istri.
Istri yang diajak bicara adalah Inggit Garnasih dan yang dia bilang Kusno tak lain adalah Soekarno putra sang fajar, tokoh pemuda pergerakan bebuka abad 20. Usia sangat belia, gagah, perlente, pintar dan berpengaruh. Apalagi Soekarno juga murid kesayangan Tjokroaminoto, sosok berpengaruh besar, disegani dan ditakuti Belanda., pemimpin Syarikat Islam. Di partai ini, Sanusi juga tokoh untuk untuk wilayah Jawa Barat.
Tak sampai disitu, sang suami luarbiasa ini juga bilang,”Aku akan bilang ke Kusno, cintailah Inggit dengan sungguh-sungguh, jangan terlantarkan dia.Saya tidak senang, tidak rela kalau mesti melihat Inggit hidup sengsara, baik lahir maupun batin.” Selanjutnya ia menceraikan Inggit dengan rela dan Soekarno berhasil memperistri Inggit, untuk jadi pendampingnya. Semuanya dikisahkan Inggit sendiri dalam buku Kuantar Ke Gerbang-Kisah Cinta Inggit dan Soekarno yang di susun satrawan ternama Ramadhan KH. Disitu juga dijelaskan, Soekarno muda ngekos di kediaman keluarga H. Sanusi dan istrinya Inggit. Diperlakukan istimewa karena digadang-gadang bakal jadi tokoh yang mampu membuat Indonesia Merdeka. Digambarkan betapa Soekarno mendambakan sosok wanita paduan dari istri-ibu dan kawan baginya. Inggit memenuhi semua kriteria, sayangnya sudah bersuami. Tapi takdir berkata lain, keduanya jatuh cinta dan harus ada yang rela berkorban, dan dialah Sanusi.
Sepengal perjalanan sejarah luarbiasa. Sanusi tokoh syarikat Islam di Jabar. Sebagai warga Bandung, ia pebisnis sukses. Rumahnya mentereng walau bukan masuk kategori kaya raya. Istrinya ibu rumah tangga ideal. Cantik, matang, digambarkan berpostur ideal sangat ngemong berbakti pada suami. Inggit juga bisa usaha sendiri, jualan bedak, kosmetik, batik. Mojang sunda yang selalu ikhlas dan telaten menjamu tamu-tamu sang suami yang rata-rata orang pergerakan. Sampai di tahun 20-an itulah, datang pemuda Surabaya yang diterima sebagai mahasiswa Technische Hoogeschool (ITB). Bayangkan, Sanusi sendiri yang menjemput Soekarno di stasiun. Sang istri menyiapkan semuanya, kamar yang layak, kopi terhidang termasuk semua teman-teman Soekarno yang datang berdiskusi. Saat itu, Soekarno membawa Utari, sang istri yang masih bocah putri kesayangan Tjokroaminoto gurunya. Boleh berimajinasi, bagaimana situasi saat itu. Suami istri kedatangan pemuda dan istrinya, suasana pergerakan, penuh tekanan Belanda, aksi heroisme termasuk tantangan menghadang. Kurang baik apa Sanusi, selain selalu mendukung semua langkah pemuda Soekarno, ia juga tokoh Syarikat Islam berdedikasi. Waktu Tjokroamimoto sang ketua ditahan dan Soekarno pergi ke Surabaya, Sanusi memberikan bantuan uang untuk Tjokro dan tambahan ongkos untuk Soekarno. Hari-hari berlalu hingga datanglah cinta di hati keduanya, ibu kos bersuami dan pemuda revolusioner beristri. Ini jadi perbincangan termasuk keluarga besar mereka.
Tapi berkat Sanusilah semua masalah teratasi. Soekarno lantas menceraikan Utari, ia diberi wanita utama Inggit Garnasih atas restunya. Pasangan beda 15 tahun usia inipun menikah tahun 1923. Soekarno muda akhirnya didampingi Inggit yang cantik dan matang. Kisah merekapun dimulailah, penuh perjuangan, lika liku, airmata, kesengsaraan, kepedihan dan ketabahan. Membesuk Soekarno saat ditahan di Penjara Banceuy, ikut dibuang ke Ende Flores 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938. Lantas pembuangan ke Bengkulu, 1938 sampai 1942.
Ikhwal kisah ini banyak sekali sumbernya. Tapi dibalik semua itu, pengorbanan terberat tentu ada pada Sanusi, suami tegas,ikhlas dengan ketenangan hati luar biasa!
Siapa berani bantah!

