FATIMAH ASRI MUTMAINNAH

LIRIH, PELAN TAPI HARUS DIDENGARKAN

By Isfandiari MD

….Dalam sapaan pendek ia dipanggil Aci.  Mojang Sunda, zona Buah Batu, Bandung Selatan.  Ia Nyai muda terkesan kalem, girly  tapi meledak saat diajak diskusi. Bahasan favoritnya kesetaraan perempuan, isu disabilitas dan pendidikan. Dalam organisasi ‘jadwalnya’ padat…..

Tahun 2024 lalu tuntaskan jabatan ketua umum PC Fatayat Nu Lasem, kini aktif jadi ketua bidang politik hukum dan advokasi PC Muslimat NU Lasem. Diluar Nahdiyin dia bergiat ketua bidang pengembangan masyarakat disabilitas dan lansia, Dewan Mesjid Indoneseia (DMI). Ada lagi, Ketua Umum Himpunan wanita Disabilitas Indonesia Rembang (HWDI). Masih organisasi yang  sama, menjabat ketua Dewan Pertimbangan Daerah Jawa Tengah. Masih ada beberapa, tapi  paling kekinian, duduk  jadi Anggota Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) dibawah Kementrian Sosial

Ia nyata-nyata sangat  fanatik pada Nahdlatruh Ulama. Fanatik dalam arti positif tentu.  Seorang Nu tulen, gandrung NU dalam tingkat yang sulit dijelaskan. Dua sosok jadi idolanya: KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur satunya sosok wanita x-traordinary, Nyai Durohnafisah  pengasuh Bayt Tahfidz An-Nafisah  Pondok Pesantren (PP) Krapyak, putri KH. Ali Maksum. “Ikhwal Gus Dur, siapa sih yang gak mengidolakannya? Semua ngefans! Bapak Bangsa dengan pemikiran visioner. Gus Dur juga nyentrik tapi tak pernah pikirkan dirinya sendiri tapi kepentingan orang banyak. Berpikir tak hanya buat NU, tak cuma buat Islam tapi buat semuanya tanpa kecuali. Sedang Nyai Durohnafisah, nyata-nyata sosok paripurna sebagai Nyai. Soal kealiman tak tersangkal. Ilmunya luas, ibu untuk semua orang. Rumah dan pesantrennya terbuka buat siapa saja. Muslim, non muslim, etnis apapun nyaman diayomi bagai bertemu ibu sendiri. Beliau bukan semata milik pesantren, tapi miliki siapa saja. Paling menonjol, sangat natural, berani menjadi dirinya sendiri,” papar putri kesayangan tokoh NU Jabar, KH. Agus Suflihat ini. Kalimat akhir soal -berani menjadi diri sendiri-, agak susah dijabarkan. Ini pasti berdasarkan kedekatan yang dirasakan Aci sendiri.

Penyuka klasik instrumental sejenis Kitaro atau Yani ini banyak simpan keresahan. Paling dominan keresahannya pada Nahdlatul Ulama. Kalau  bicara NU, ia berubah layaknya  Olympe de Gouges, Pauline Leon, Claire Lacombe  atau demonstran cewek Revolusi Prancis, Theroigne de Maricourt. Susah kita mencari titik koma, mengalir bagai tanpa jeda. Simak beberapa pointnya: Soal Nahdlatul Ulama,” Aku ini debu di dalam NU, suaraku pelan-lirih tapi harus didengar! NU yang statistiknya ormas keagamaan besar harus jadi garda terdepan disoal kemanusiaan. Kyai, petinggi NU yang menjabat di struktur organisasi wajib peka atas problem yang terjadi di masyarakat. Sosok pemipimnya tak boleh arogan, berbaur ke semua kalangan. Attitudenya low profile tak berjarak, hati-hati dalam bernarasi, elegan dewasa,” papar Aci. Berhubungan concernya problem perempuan dan disabilitas, ia makin tajam.”Maaf, NU belum maksimal memberikan panggung buat kaum perempuan.  Ini fakta, banyak riungan yang libatkan Kyai dalam moment organisasi NU kurang tertarik jika ada acara yang libatkan perempuan. Dari curhatan mereka, Kyai-kyai tidak berkenan,” katanya lagi. Makin meruncing jika bicara disabilitas. “NU kurang menfasilitasi, kurang menekan policy maker  -Pemerintah- atas akses yang memudahkan kaum disabilitas. Mesjid-mesjid dominan tidak ramah disabilitas. Unsur di NU, lembaga, banom tidak intens memikirkan mereka, padahal jumlahnya banyak. Nahdiyin disabel itu jutaan, mereka layak diperhatikan.” Ia terpancing berimajinasi, “NU ke depan tak hanya kuantitas luarbiasa, tapi organisasi yang bisa diharapkan, diandalkan, peka dan punya ‘vibes’ yang bagus dan benar-benar perwujudan rahmatan lil alamin yang digaungkan kaum ahlus sunah waljama’ah. Dirasakan semua, mulai kaum baby boomers, gen X, Gen z sampai yang termuda, apapun istilahnya.”

Intermeso soal Aci adalah momen langka, terekam dalam sebuah peristiwa. Bertahun lalu, Nyai Aci bersama keluarga besarnya, almarhum suaminya KH Ahmad Muhammad Siddiq Hasan atau disapa  Mbah Bedug dan KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem kedatangan komunitas non-santri. Moment pertama, disambangi klub motoris choppper MMC Outsiders Indonesia. Para bikers ini sowan ke Pesantren Al Aziz dan Pesantren Kauman Lasem. Tujuan utama silaturahmi penasaran romantika kehidupan pesantren. “Kami merasa nyaman dan diterima dengan baik di sana. Kesan mendalam yang tak terlupakan,” komentar Harry Novaro Rambing, dewan senior klub dan road captain rombongan ini. Uniknya, Kang Odie Destrana, salah satu rombongan bikers berkeyakinan Hindu jatuh hati pada pesantren ini. Belakangan malah  diangkat anak oleh pasangan Aci dan Mbah Bedug, memeluk agama Islam.

Moment kedua, cukup viral! Pesantren Nyai Aci kedatangan Jeffrey Polnaja, tokoh bikers, pengelana dunia dalam program Ride For Peace. Kang Jeje (Panggilan akrab Jeffrey) didaulat menceritakan pengalamannya keliling dunia, termasuk pengalaman spiritual kepada santri. Moment yang jarang dilakoni dalam aktivitas pesantren. Makin unik, pesantren ini juga pernah menggelar konser rock di dalam pesantren. Jentre Band, saat itu didaulat membawakan lagu  Yalal Wathon, mars NU karangan KH. Wahab Chasbullah-Tambak Beras. Namanya band rock, versinya lain dari biasanya, di aransemen ala speed metal lengkap lead gitar menggema.  Semua peristiwa ini dibuatkan film dokumenter yang bisa dilihat di You Tube, -Tersesat Dalam Surga-Serial Zona Tanpa Sumbu- dan Satu Menit Di Lasem-

Begitulah sepenggal kisah Nyai muda ini. Perjalanan dia masih panjang dan pastinya akan manuai banyak kisah!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *