Opini:

Obrolan Smoking Room  Nahdiyin 2045

By Isfandiari MD

-ujug datang sapaan  bro E.T Hadi Saputra teman semasa  kuliah. “Sehat? Gimana kabar NU? Ingat lo, tantangan 2045 itu lumayan. Nahdlatul Ulama pastinya bakal  bertransformasi  dari organisasi berbasis pedesaan tradisional ke urban intelektual.” Karena potensi seru saya undang dia ngopi di ‘club house’ PBNU Jl. Kramat Jakarta, kebetulan lobinya tersedia jualan kopi dan di kiri lobi ada smoking area. Diskusi berlanjut.

          Orangnya detail sejak mahasiswa. Kalau ngoceh susah di rem tapi terstruktur, malah dengar kabar dia menjelma jadi dosen. Namanya teman kampus banyak obrolan receh termasuk kabar terbaru  mahasiswi tercantik atau nostalgia lelaku dosen killer yang sudah berpulang. Diantara obrolan receh terkuak diskusi intens. Bebuka topiknya soal reformasi strategis kaderisasi, kedaulatan mental sampai marwah organisasi songsong 2045, itu loh anak-anak muda yang pastinya sedang dalam golden age mengambil alih romantika negri. Sesuai topik, sang generasi emas itu diharapkan diisi santri NU. Nyambung nih, pasalnya pengurus di PBNU juga bahas topik senada, mapping soal NU ke depan dalam khasanah Merawat Jagat Membangun Peradaban.

          Obrolan ada di seputar bayangan generasi yang disebut pilot peradaban. Kesimpulannya ada di 4 pilar utama, Kedaulatan Mental (marwah) ,Kecerdasan Adaptasi (Spontaneity Intelligence), Literasi Intelektual Strategis,  satu lagi Kemandirian Profesional.”Mesti dong! Mau kultural ataupun struktural jangan mau sekedar penonton,objek politik diboyong sana-sini. Pastikan kita jadi subjek penentu arah zaman,” sambil kepulkan asap rokok di ruang lobi.

          Vibes gedung PBNU terasa berkaromah! Kami lancar diskusi, banyak point penting jadi input. Soal analisa strategis, kondisi gen-z atau yang makin muda wajib berbenah. Terjadi ‘penyakit’ organisasi berat hadapi tantangan global. Istilah populer, Mentalitas Pendorong Mobil Mogok, cuma jadi penggerak pihak lain, ditinggal.  Soal ini sering jadi topik para Kyai dulu sampai sekarang mungkin nanti. Kesimpulan kurang lebihnya, lemahnya daya tawar intelektual dan profesional mandiri. Ada diulas ikhwal prilaku tak profesional dalam interaksi strategi, jadinya merusak wibawa lembaga dimata mitra industri dan global.

Ujug

          Sesuai pengalaman, ada moment soal handikap santri yang alami hambatan domestikasi alias gagap lingkungan. Saat terjun di dunia heterogen, perlu adaptasi, bisa blend in atau gak? Nyaman atau kikuk? Minder atau pede? Dan seterusnya. Soal ini perlu perjuangan, masuk lingkungan baru, beda adab, nilai-nilai etika ,first impression sampai ritme bergaul kadang beda. Gagal komunikasi bisa terjadi, santri menarik diri, bersikap erkslusif sebagai mekanisme pertahanan. Eksistensinya goyah dan jadi antiproduktif. Kondisi ini wajar manusiawi,  santri pesantren relatif homogen, pergaulan, sesama santri, santri junior-senior, kyai-nyai:  satu frekwensi. Wajar saat keluar pagar pesantren alami frekwensi krodit beragam polah tingkah, perlu adaptasi.

          Kira-kira 3 batang rokok habis, hadir topik lain,”Gimana soal kejumudan inteletual digital” tanyanya. Kami sepakat, dominasi konten irrasional, mistisme dangkal di medsos binasakan tradisi berpikir yang diperjuangkan para muasis. Betul, perlu latihan intens berpikir rasional, riset ilmiah sudah diajarkan ratusan tahun lalu. Semuanya jadi motor kejayaan Islam, wajib dilestarikan. Atasnama budaya pop, sisi-sisi ini wajib dikemas renyah. Kecerdasan memaparkan hal sulit dengan cara mudah jadi ukuran intelektualitas. Sekarang  (maaf) sebaliknya, soal mudah dipaparkan dengan cara njelimet sekedar menunjukkan kepintaran seseorang, absurd sekali.

          Makanya di ujung obrolan ditegaskan lagi, mereka yang masih jumeneng di 2045 harus jadi pilot peradaban, dilakoni lewat kaderisasi. Profilnya ideal, berdaulat secara mental, rebellion dalam arti positif, berpikir out of the box sesuai jaman, ada kecerdasan spontanitas-adaptif, bukan pengekor, berjati diri, berkelas, high taste, fokus kebijakan makro, sains paham geopolitik tidak gandrung perdebatan furu’iyah yang interpretatif (zhanni), yang munculkan khilafiyah antarulama apalagi repetitif, muter dizona itu saja. Terlalu larut, lahirnya intelektual high level tak bakal terjadi.

          Mumpung masih ada waktu, diskusi masuk tahap eksekusi. Kami sepakat seandainya lahir infrastruktur jempolan standar industri global yang rebut narasi publik. Piawai meramu konten gabungan sains dan kitab kuning, hapus dominasi narsisme personal menuju otoritas keilmuan berkelas, bercokol di semua bidang, teknologi, ekonomi, hukum, budaya.

          Diandaikan, kampus-kampus NU menjelma jadi pilot peradaban yang fokus juga ada sains data, teknomogi energi, hukum korporasi sampai diplomasi internasional. Ujung-ujungnya cetak santri teknokrat dalam posisi setara di kancah global. Baik juga ada pusat pengembangan marwah, serupa lembaga sertifikasi integritas. Eksekusinya lewat modul pelatihan diisi teknik negosiasi strategis, protokoler dunia profesional, kepemimpinan berwibawa berstandar kerja profesional output maksimal. Kami sepakat ini jadi modal eksis ormas keagamaan NU masa depan, utamanya 2045 nanti.

          Kondisi ideal ini masih tahap obrolan di smoking room. Karena menyita energi pikir, kita alihkan ke soal receh kenakalan masa mahasiswa di UNPAD Bandung. Untuk soal ini makan waktu berjam-jam. Oh ya, rekan saya ini dosen  filsafat Pancasila di Universitas Pertahanan. Dia nahdiyin kultural dan ingin berkhidmat di NU. Ada peluang?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *