TANTANGAN ABAD KE DUA
By Isfandiari MD

Nahdlatul Ulama abad ke dua punya selaksa tantangan. Warning agar semua program jangan ‘menari’ di awang-awang, mentereng di wilayah global tapi memble dalam metodologi operasional tingkat domestik. Buat santri militan, gebrakan untuk rekonstruksi radikal menyeruak, diwanti agar semua rencana gemilang tak melulu tumpukan wishlist (daftar keinginan) zonder eksekusi, menyitir komentar E.T Hadi Saputra (konsultan kebijakan & Strategi): “Berjarak dari akar rumput dan kehilangan jangkar historisnya.” Begitu dia bilang
Memang betul, bidang-bidang yang wajib digarap banyak. Menyoal geopolitik, global, arsitektur Bank NU, wakaf uang internasional atau investasi syariah global. Belum lagi strategi Artificial Intelligence (AI), advokasi pekerja migran, perang digital, miskinnya karya dokumenter-dokudrama syiar aswaja sampai film layar lebar yang diharapkan jadi pencerah cara berpikir umat juga selera estetis tinggi.
Pe’er yang belum beres, peta kekuatan NU masa depan di tingkat internasional yang nyata-nyata berasal dari akar budaya Nusantara. Atau dibalik, NU adalah benteng terakhir kebudayaan Nusantara.”Kekuatannya bukan meniru cara kerja lembaga multilateral Barat-Timur.” Demikian teman saya Hadi Saputra bertutur.
Siapa yang bantah, Nahdiyin adalah kekuatan civil society, takdir ini membawa tantangan eksistensi mereka di segala bidang. Di bidang hukum, ormas ini harus punya nyali merekomendasikan sistem hukum nasional berbasis jati diri bangsa bukan hukum sekuler atau formalisme kaku. Jadi diri bangsa ini berlandaskan kebudayaan Nusantara. Sebab jika ini tercerabut akibat modernisasi tanpa jangkat adat, NU kehilangan diferensiasi dan kekhasannya. Atau sisi ekonomi? Sejarah menukil, kekuatan ekonomi NU bukan dari korporatisasi perbankan kaku, sarat regulasi ketat, tapi penguatan ekosistem ekonomi riil masyarakat dan sistem komunal. ”Menyarankan Bank NU tanpa membenahi sistem perlindungan aset-aset produktif milik warga, hilirisasi produk pesantren, dan digitalisasi pasar tradisional adalah langkah yang terbaik. Rekomendasi ekonomi harus diubah: geser fokus dari formalisme institusi keuangan makro menuju pembangunan digital cooperative ecosystem (ekosistem koperasi digital) yang langsung memotong rantai tengkulak bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro di lingkungan Nahdliyin,” jelas Hadi.
BIDANG PENDIDIKAN, AGAR BLEND IN DAN SURVIVE
Topik paling seru ikhwal dakwah digital dan AI. Perlu diakui, santri penyuka digital dan AI belum memilih posisi mau defensif atau ofensif? Faktanya, masih banyak terjebak pada diksi defensif yang melemahkan produksi konten, rendahnya dominasi dan perang narasi. Ariq Bratasena, tokoh muda penggiat digital menilai perlu digalang ditingkatkan lagu pasukan cyber NU.”Gampangnya mungkin banser digital imbangi kekuatan trafik meta data milik google, tupoksinya mirip buzzer tapi bela negara dalam bahasa hacker white hat,” saran Ariq. Untuk soal ini diteruskan Hadi, “AI tidak bisa dilawan hanya dengan sekadar membuat “konten dakwah” atau “kaderisasi digital” normatif.” Ia menyarankan NU leaping forward secara ofensif membangun kedaulatan data warga NU. “Basis masa terbesar harus bisa merekamdata perilaku, ekonomi, dan sosial warga. Mau tak mau membentuk infrastruktur teknologi mandiri (misalnya Large Language Model berbasis khazanah kitab kuning dan pemikiran Aswaja secara mandiri. Jadi mereka mampu mengontrol narasi, bukan sekadar menjadi konsumen atau komentator di platform media sosial milik asing. Agar jalan, dibentuk Sovereign Wealth Fund (Dana Abadi) berbasis pengelolaan aset wakaf produktif yang mandiri dan terukur secara digital.”
Kyai Cevi Atmaja Wijaya (ketua Forum Ulama dan Aktivis Islam Kab. Bogor) dan Kyai Abdul Mutholib (ketua Forum Ulama dan Aktivis Islam Kec. Leuwi Liang-Bogor) urun rembuk. Mereka menyoal keberpihakan pemerintah atas eksistensi pesantren.”Pesantren jangan jadi objek kebijakan tapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi dan pembangunan, pusat transformasi energi terbarukan, ketahanan pangan mandiri atasi krisis global,” ujar Kyai Mutholib dan Kyai Cevi. Keduanya fokus pada peningkatan mutu pendidikan terdiri atas perlindungan pesantren, modernisasi tata kelola, kebijakan pendidikan nasional, citra pesantren dan ketimpangan dukungan anggaran daerah.
Masukan bagus untuk dibawa ke Muktamar menuju NU abad kedua.

