OPINI

LALAKI LANGIT LALANING BEJAD

By Isfandiari MD

Memang aneh tapi banyak! Orang yang dulunya brengsek lalu baik atau alim sering umbar kisah  masa lalu. Pastinya promosi kredibilitas, naikkan imej dan seterusnya. Ulama, dai kondang, ustad ajengan atau pejabat  sohor misalnya, sering berkisah kalau dulunya sangat ‘rock n roll’ artian awam untuk hidup hingar bingar penuh dosa.  Mantan gangster lah, paling bandel, playboy dan bergelimang kemaksiatan. Makin seru kadang ia mencerca masa lalunya untuk sebagai ‘jualan’ paling laku untuk tingkatkan nilai. “Lihat saya sekarang, jadi baik dan mulia!” Begitu kira-kira promosinya.

Pertimbangan masuk akal, sepak terjang penuh warna, membuatnya spesial dan (mungkin) membuat banyak orang terkagum-kagum. Beda dengan kisah stagnan yang biasa-biasa saja, flat membosankan.

          Kasus paling gres, ulah Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein dalam karya musikal Lalaki Langit Lalaning Bejad. Intinya begitulah. Dulu brengsek, playboy sejati, sangat liar terutama polah laku pada perempuan. Tiduri ratusan wanita, laku luar biasa, seperti yang dia kisahkannya saat dipanggil Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (KDM). Lirik egosentris, provokatif, misoginis untuk gambarkan bagaimana kerennya dia di masa lalu.  Liriknya bikin jengah, low taste dan tidak mendidik. Bagaimana bisa  pejabat daerah bisa terpikir membuat lirik intinya rasa syukur dilahirkan jadi laki-laki. Kalau saja perempuan, sejak SMP sudah keguguran 7 kali, soal payudara sampai soal ke apotek untuk tes kehamilan? Atasnama seni mungkin sah, silakan berekpresi tapi dalam konteks dia sebagai publik figur, kita bisa ukur bagaimana cara pandangnya terhadap keindahan, selera musik,  edukasi, selera sampai rasa angkuhnya memandang kehidupan. Paling kentara mungkin pilihan diksi dalam lirik yang tidak berkelas. Idealnya lebih sopan, puitis dan tak merendahkan. “Lagu ini memuat diksi, narasi, dan substansi yang bersifat misoginis, merendahkan derajat eksistensial manusia, serta mendegradasi harkat dan martabat kaum perempuan secara vulgar,” kata Ketua Umum Jabar Bantuan Hukum Riyan Bintana Hasan, dilansir detikJabar, Kamis (2/7). Ia teruskan,”Bahwa diksi-diksi di atas tidak mencerminkan nilai kritik sosial yang sehat, melainkan bentuk penghinaan verbal terhadap integritas tubuh, kesehatan reproduksi, dan moralitas kaum perempuan, khususnya anak di bawah umur (analogi anak kelas III SMP.” Komentar yang pas, menohok. Terus terang, sungkan dan tak tega saat mendengarnya. Kok begitu amat? Pejabat ini menerangkan itu perjalanan batinnya di masa lalu, dibuat awal dalam bentuk puisi tahun 2020 sebelum jadi pejabat.

          Nafsu berkarnya mengundang resiko! Protes datang dari segala penjuru. Ibu-ibu jengkel, khalayak kesal sampai sampai di periksa Kementrian Dalam Negeri atau dipanggil bosnya, Gubernur Jabar atas dasar pembinaan. Kepada KDM dia menerangkan itu kisahnya di masa lalu, awam bisa salah tafsir. Tapi tersimak liriknya lugas, jelas, jujur, telanjang, apa adanya. Tidak puitis, tidak  sastrawi dan ‘satu’ tafsir. Khasnya KDM dia memberi sanksi sosial. Renovasi 10 rumah janda muda dan menyekolahkan anak-anaknya tanpa biaya dari APBD alias kantong pribadi sang seniman-pejabat ini. Zein minta maaf lain waktu akan lebih baik dan berhati-hati dan menghapusnya di berbagai platform medsos. Apa masalahnya beres?

          Problemnya soal mental dan rasa. Sanksi sosial tentunya lebih pada kekuatan pejabat yang lebih tinggi agar moment ini bisa bermanfaat bagi banyak orang. Untuk pelakunya sendiri, siapa yang tahu? Khalayak yang sinis atau curiga jangan-jangan berfantasi: santuni janda muda dan anaknya? Sang janda pasti girang, moga mantan playboy gak kumat. Begitulah!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *