Oleh : Nurul Yaqin – MAPSINU

Artikel yang diterbitkan oleh situs web BERITA NAAT INDONESIA dengan judul “Mengurai Jejak Sejarah Syekh Ibrahim Asmara di Campa: Dekonstruksi Mitos Asmoroqondi Berdasarkan Epigrafi dan Manuskrip Nusantara” mengajukan klaim sejarah yang berani. Dalam artikel tersebut, penulis berpendapat bahwa nama “Asmara” pada tokoh Syekh Ibrahim Asmara berasal dari kata “Atmara”, yang diklaim sebagai sebuah nomenklatur geografis (toponimi) administratif, pangkalan militer, ekonomi, atau basis kultural di Kerajaan Campa pada abad ke-15. Klaim ini didasarkan pada kutipan teks dari Prasasti Campa C. 161 yang ditulis sebagai “…di nagara Atmara…”.
Namun, penelusuran secara kaku (rigid) terhadap transkripsi dan terjemahan asli dari Prasasti C. 161 membuktikan bahwa klaim “Atmara” sebagai nama sebuah wilayah atau negeri adalah keliru dan merupakan hasil misinterpretasi teks epigrafis. Berikut adalah bantahan ilmiah berdasarkan data epigrafis:
- “Atmara” Bukanlah Sebuah Kata yang Utuh: Website NAAT mengutip teks prasasti tersebut seolah-olah “Atmara” adalah sebuah kata utuh yang berdiri sendiri. Faktanya, hasil pembacaan (transkripsi) asli oleh para ahli epigrafi, Arlo Griffiths dan Amandine Lepoutre, pada baris ketiga dari bawah (baris -3) mencatat kata tersebut sebagai atmarā{ ? }. Tanda kurung kurawal dan tanda tanya menunjukkan bahwa bagian akhir dari kata tersebut telah terputus atau tidak selesai terukir pada batu pasir penyangga arca Śiva tersebut. Dengan demikian, menjadikan penggalan kata tak utuh sebagai sebuah bukti toponimi adalah sebuah lompatan kesimpulan yang prematur.
- Makna Linguistik Kata: “Miliknya Sendiri” Secara filologis, para ahli mencatat bahwa awalan huruf ‘a’ pendek pada kata tersebut cukup mengejutkan, karena dalam ejaan yang tepat seharusnya menggunakan bentuk ātma° yang merupakan kosakata Sanskerta untuk “diri” atau “sendiri”. Para ahli mengusulkan bahwa kata yang terputus tersebut kemungkinan besar harus dipulihkan secara utuh menjadi ātmarāṣṭra atau ātmarāj(y)a.
Jika direkonstruksi, frasa di nagara atmarā{ṣṭra/jya} tidak bermakna “di kota/negeri yang bernama Atmara”, melainkan secara harfiah diterjemahkan menjadi “in the land of his own” (di negerinya sendiri). Kata ini menunjuk pada status kepemilikan kerajaan, bukan merujuk pada nama geografi atau entitas administratif tertentu di Campa.
- Konteks Kalimat Secara Keseluruhan: Kekeliruan paling mendasar dari klaim website NAAT adalah mencabut frasa tersebut dari konteks kalimat utuhnya. Kalimat asli pada baris ke -3 berbunyi: “(para)loka dudim̃ śivarūppa nī pyauḥ di nagara atmarā{ ? }”.
Terjemahan resmi dari teks berbahasa Cam Kuno ini adalah: “…yonder world. In the future (dudim̃), let these various images of Śiva be in the land of his own …”. Artinya, kalimat ini adalah sebuah harapan atau doa agar di masa depan (dudim̃), arca-arca Śiva tersebut dibiarkan berada di negerinya sendiri. Teks ini murni membahas lokasi persemayaman arca Śiva peninggalan Hindu, tanpa ada kaitannya dengan entitas wilayah tempat berdirinya komunitas atau diangkatnya seorang imam sebagaimana yang disimpulkan oleh artikel NAAT.
Kesimpulan Klaim dari artikel NAAT yang menyebutkan bahwa terdapat bukti epigrafi berupa negeri atau wilayah bernama “Atmara” pada tahun 1443-1444 M di Campa secara ilmiah gugur dan tidak berdasar. Kata atmarā{ ? } dalam Prasasti C. 161 (dari situs Chiêm Sơn) hanyalah sebuah penggalan kata bahasa Cam Kuno/Sanskerta yang bermakna “miliknya sendiri” (menunjuk pada negeri dewa/Śiva). Kesalahan dalam memahami tata bahasa dan filologi prasasti ini telah menyebabkan website NAAT menciptakan penamaan tempat imajiner yang tidak didukung oleh sumber sejarah aslinya.
Referensi :
- berita.naat.or.id/berita/mengurai-jejak-sejarah-syekh-ibrahim-asmara-di-campa-dekonstruksi-mitos-asmoroqondi-berdasarkan-epigrafi-dan-manuskrip-nusantara
- isaw.nyu.edu/publications/inscriptions/campa/inscriptions/C0161

