By Isfandiari MD

Policy maker, pengabdi rakyat di warning grassroots! Bentuknya gerutuan, marah terbuka, sindiran- sarkasme. Rata-rata hadir di medsos. Dua contoh ngehits: DR. H. S.E., M.E Rudy Mas’ud , Gubernur Kaltim ke-11 pede terjemahkan marwah, zonder empati pembelian mobil ber em-em. Alasannya agar pantes wakili gengsi warga Kaltim, berseka, pamer sekalian taklukan jalanan ekstrem. Pikiran pejabat kelahiran 1981 ini, jalan rusak berat di atasi dengan hadirnya mobil mewah nyaman redam goncangan. Keliru! Semewah dan secanggih apapun, tak akan bisa redam goncangan. Pasalnya ini bukan goncangan dari jalan menuju kabin, tapi goncangan caci maki rakyat, warga sendiri, orang se-Nusantara, sampai yang mukim-giat di luar negeri. Walau ujung-ujungnya minta maaf telat sudah. Nilai empati dan karakter pemimpin runtuh, raportnya merah, bukan cuma kinerja, tapi empati dan etika standar.
Kasus kedua, polisi pede pamer kuda robot wahana latihan prajuritnya. Tarohlan memang perlu dan dianggarkan, pantesnya jangan diumbar, keep silent demi kemaslahatan. Bocor keluar, awam bakal gerah, merasa konyol, jengkel dan lahir cemoohan. Benar saja, netizen kesal, mereka yang puyeng hadapi lebaran di jaman seret ekonomi harus pula punya cadangan energi luapkan kekesalan. Hopples tak habis pikir, kok bisa? Bikin wahana ‘mainan’ di dalam institusi dengan alasan edukatif, kuda robot buat latihan alias simulasi. Kuda palsu itu bisa diset berlari santai, lari ekstrem bahkan melompat. Di depannya layar besar memantau medan yang bakal di lewati. Apa perlu? Polisi berkilah, fasilitas simulator pelatihan kuda itu mendukung operasional personel di lapangan, hanya ada di direktorat Satwa Korsabhara Badan Pemelihara Keamanan Polri dan terlengkap di Indonesia.
Masalanya, kuda mahluk bernyawa, ia harus bonding dengan penunggangnya, idealnya beli kuda beneran, dibiakkan secara efisien buat kepentingan prajurit polisi. Berlatih dengan mereka, bak koboi di era wild wild west. Makin bijak, pekerjakan para ahli kuda warga Sumba dan sekitarnya. Minta ilmu cara bercengkrama dengan kuda, itu baru pas. Atau mau lebih simpel? Belajarlah ke Presiden Prabowo, beliau paham seluk beluk dunia perkudaan.
Kisah-kisah tadi bisa jadi bumerang bangkitkan antipati publik. kebanyakan orang sekarang berjuang keras untuk survive, penuh tantangan dalam suasana serbasulit. Buat hiburan, mereka lihat sekitar, intip gaya hidup seleb yang x-travaganza, ikut menikmati manusia-manusia beruntung yang posting jalan-jalan keluar negri, wisata kuliner sambil belanja fashion branded, menyimak keseharian para taipan bergelimang harta. Ada juga yang penasaran sambil ikut komentar persiapan pernikahan orang penting seolah itu kerabatnya sendiri. Bagi mereka ini jadi hiburan . Wajar, tik-tok, Ig , FB, You Tube ramai dikunjungi khalayak.
Saat masuk info pejabat publik, instansi negara, lain kisahnya. Mereka gemas jika anggaran dipakai mubazir, kesal lihat polah gaya hidup pejabat yang keterlaluan. Jengkel menyimak konten keluarga anak-istri-selingkuhan pejabat yang poser- pamer. Bukan apa-apa, mankel karena penghasilan pajak yang terkumpul dari kantong mereka. Dalam situasi serbasulit, program atau gaya hidup mubazir hasilkan energi negatif. Jika dibiarkan berlarut tanpa kesadaran dan penanganan serius, semuanya jadi bom waktu yang entah kapan meledak.
Ayolah canangkan program, pengadaan, gaya hidup yang menenangkan hati rakyat . Saat rakyat hidup susah, pejabat seolah-olah ikut juga prihatin dalam kesederhanaan. Salut sama anggaran untuk pimpinan DPRD Sumatra Selatan. Sangat strategis, membeli meja billiard seharga Rp 486 juta-an. Ini baru bijak, meja billiar urgent, prioritas sangat perlu agar pejabat berlatih membidik sasaran atau memantulkan program agar pas bagi rakyat banyak. Bukan begitu? Silakan protes!

