Pondok Modern Darussalam Gontor baru saja menggenapkan usia satu abad pengabdiannya, namun perayaan itu tidak ditandai dengan karpet merah puja-puji untuk sang penguasa, melainkan dengan kepungan peringatan yang turun langsung dari langit. Ketika Presiden Prabowo Subianto melangkah memasuki tanah Ponorogo, atmosfer spiritual pesantren tidak sedang menyediakan panggung kenyamanan bagi syahwat kekuasaan. Sebaliknya, udara bergetar hebat saat lantunan Surat Al-Ahzab ayat 70-73 diperdengarkan tepat di hadapan wajah sang pemegang kuasa tertinggi negara. Ini bukan sekadar protokoler seremonial, melainkan sebuah bentuk adab tingkat tinggi—sebuah teguran sunyi yang dibungkus tradisi, tetapi memiliki daya ledak yang jauh lebih dahsyat daripada kepalan tangan demonstran di jalanan.
Melalui ayat-ayat suci itu, peradaban pesantren seolah sedang menegakkan cermin besar untuk menguliti tabiat lisan kekuasaan hari ini. Kita telah terlampau lama dipaksa menonton panggung politik yang bising oleh luapan emosi, nada mengancam, dan diksi kasar yang merendahkan martabat rakyat seolah mereka hanyalah jongos yang bisa digertak sesuka hati. Tatkala negara merindukan kelembutan teladan dari seorang pemimpin, yang hadir justru qaulan ghalidza—perkataan kasar yang merobek psikologi kebangsaan. Gontor, tempat di mana adab diletakkan jauh di atas ilmu, dengan sangat benderang mengingatkan bahwa lisan yang tuna-etika dan mirip preman pasar adalah sebuah anomali memalukan di puncak kepemimpinan sebuah bangsa yang besar.
Dengarkanlah bagaimana kalam ilahi itu menghujat kemunafikan mereka yang mengaku beriman namun lisannya culas: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu…” Di sini letak benturan kerasnya. Di dalam ruang-ruang berpendingin udara di istana, para elite sibuk memoles statistik dan mendeklarasikan ilusi bahwa Indonesia sedang baik-baik saja. Namun di luar pagar kekuasaan, realitas berbicara dengan bahasa yang teramat perih: harga beras yang kian mencekik, badai PHK yang merontokkan masa depan keluarga, serta hukum yang mendadak lumpuh saat menyentuh lingkar jenderal, konglomerat, dan jejaring dinasti. Al-Ahzab sedang menelanjangi kepalsuan itu, menguliti watak manusia yang merebut amanah dengan rakus, tetapi perilakunya jatuh pada kelaliman dan kebodohan ekstrem sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Baca Juga : Sandiwara Dua Panggung: Ketika Kemasan Menggantikan Sistem
Tragedi terbesar dari kekuasaan hari ini adalah hilangnya pendengaran sang pemimpin akibat tebalnya dinding pembisik. Istana telah bermutasi menjadi gelembung kedap suara yang dipadati oleh para pemuji bayaran, menteri pencari muka, dan laporan-laporan palsu “asal bapak senang”. Jeritan rakyat yang lapar sengaja diredam agar tidak mengusik kenyamanan tidur penguasa yang mabuk sanjungan. Melalui pamungkas Surat Al-Ahzab, peringatan itu diketuk kembali bahwa ujung dari pengkhianatan amanah dan kebohongan sistematis ini adalah keruntuhan yang nyata: “Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan…”
Pesan spiritual dari rahim Ponorogo itu teramat benderang dan menghunjam langsung ke jantung kekuasaan. Bersikaplah takwa dan berkatalah jujur, sebelum amanah yang diagungkan itu berbalik menjadi laknat sejarah. Ketika sebuah institusi sekaliber Gontor memilih mengetuk kesadaran seorang kepala negara dengan otoritas tertinggi Kalamullah, itu adalah sinyal darurat bahwa krisis moralitas di tingkat elite telah sampai pada batas yang memuakkan. Diamnya sang jenderal di bawah naungan ayat-ayat suci hari itu adalah sebuah pengakuan paling puitis sekaligus tragis: sebab di hadapan pengadilan wahyu, tidak ada lagi retorika politik manusia yang sanggup membela diri.

