By Isfandiari MD
Di balik sapaan akrabnya, Aci begitu Fatimah Asri Mutmainnah akrab disapa,adalah sosok Nyai muda asal Buah Batu, Bandung Selatan, yang memadukan kelembutan paras mojang Sunda dengan ketegasan intelektual tinggi saat berdiskusi. Putri kesayangan tokoh NU Jawa Barat, KH. Agus Suflihat ini, memiliki rekam jejak organisasi yang luar biasa. Ia pernah memimpin PC Fatayat NU Lasem (2024), aktif di PC Muslimat NU Lasem, memimpin DMI bidang pengembangan disabilitas dan lansia, hingga menakhodai Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Rembang dan Dewan Pertimbangan Daerah Jawa Tengah. Puncaknya, ia kini dipercaya duduk sebagai Anggota Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) di bawah Kementerian Sosial.
Sebagai kader NU tulen, Aci sangat mengidolakan dua figur besar: almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nyai Hj. Durohnafisah dari PP Krapyak Yogyakarta. Dari Gus Dur, ia menyerap visi kebangsaan yang inklusif tanpa batasan, sementara dari Nyai Durohnafisah, ia belajar tentang kealiman yang membumi, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
Meski demikian, kecintaannya yang mendalam pada Nahdlatul Ulama juga diiringi dengan segudang keresahan konstruktif. Berbicara tentang NU, Aci menjelma layaknya aktivis pemikir revolusioner yang vokal menyampaikan kritik membangun: “Aku ini debu di dalam NU, suaraku pelan-lirih tapi harus didengar!”
Ia menyoroti dua isu krusial yang selama ini kerap luput dari perhatian struktural:
- Keterwakilan Perempuan: Aci menilai ruang gerak dan panggung bagi kaum perempuan di tubuh organisasi keagamaan besar ini masih perlu dioptimalkan agar aspirasinya terakomodasi secara merata.
- Inklusivitas Disabilitas: Ia secara tajam mengkritisi minimnya fasilitas ramah disabilitas di lingkungan fasilitas keagamaan, termasuk masjid, serta perlunya gerakan masif dari banom dan lembaga NU untuk membela jutaan warga Nahdliyin penyandang disabilitas.
Baca Juga : SYARIFAH NAWAWI (1896-1988)
Keunikan Aci tidak hanya terletak pada kiprah advokasinya, tetapi juga pada keterbukaan kultural pesantrennya di Lasem. Bersama almarhum suaminya, KH. Ahmad Muhammad Siddiq Hasan (Mbah Bedug), serta KH. Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem, pesantren mereka kerap mencatat momen langka yang terekam dalam dokumenter YouTube. Mulai dari menerima sowan komunitas motor chopper MMC Outsiders Indonesia (hingga mengangkat salah satu anggotanya yang beragama Hindu menjadi anak asuh sebelum memeluk Islam), menyambut petualang dunia Ride For Peace Jeffrey Polnaja, hingga menggelar konser musik rock di dalam pesantren yang membawakan mars Yalal Wathon berirama speed metal.
Kisah hidup Fatimah Asri Mutmainnah membuktikan bahwa tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan modernitas, pluralisme, dan perjuangan kemanusiaan tanpa batas. Perjalanannya masih panjang, dan dedikasinya akan terus menorehkan tinta emas bagi kemajuan bangsa.
Ikuti terus ulasan tokoh inspiratif dan wawasan kebangsaan mendalam lainnya hanya di Gasride.
