“Ketika perbedaan mulai disulut menjadi bara, kita tidak boleh memilih diam.”
Suara sepatu di lantai marmer gedung-gedung megah mungkin bergemuruh tentang kemajuan, tetapi di akar rumput, di gang-gang sempit, dan di ruang-ruang digital kita yang bising, ada retakan-retakan kecil yang mulai menganga. Retakan bernama kecurigaan. Retakan bernama ketakutan atas mereka yang tidak sama dengan kita.
Hari ini, nusantara kita,rumah yang dibangun di atas keringat dan air mata para leluhur dari Sabang sampai Merauke sedang diuji. Bukan oleh musuh dari seberang samudera, melainkan oleh kebisuannya sendiri ketika intoleransi mulai merangkak pelan, membungkus kebencian dalam jubah kebenaran semu.
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk dengan ribuan suku, ratusan bahasa daerah, serta ragam keyakinan yang hidup berdampingan. Di tengah hamparan identitas yang plural ini, merawat kerukunan bukanlah perkara instan. Dibutuhkan ruang dialog, kesadaran kolektif, dan gerakan nyata untuk menjaga keharmonisan tersebut. Di sinilah Forum Keberagaman Nusantara (FKN) hadir sebagai salah satu pilar strategis penjaga kebangsaan.
Mengapa Forum Keberagaman Nusantara Harus Hadir?
Karena keberagaman bukan sekadar statistik di atas kertas, bukan pula slogan pemanis pidato kenegaraan. Keberagaman adalah napas bangsa ini. Tanpa itu, Indonesia hanyalah kumpulan pulau-pulau sunyi yang terasing oleh ego masing-masing.
FKN hadir bukan untuk menyeragamkan warna pelangi, melainkan untuk memastikan setiap warna tetap bernyanyi pada nadanya yang merdu tanpa harus saling memadamkan. FKN berdiri untuk menjadi perisai bagi mereka yang tersisih, jembatan bagi mereka yang terisolasi, dan pengingat yang keras bahwa cinta tanah air diuji saat kita mampu merangkul mereka yang berbeda. Jika kita memilih bungkam, sejarah akan mencatat bahwa kita adalah generasi yang membiarkan rumah besar ini runtuh dari dalam.
Tonggak Sejarah dan Jajaran Kepengurusan FKN
Secara resmi dideklarasikan pada 11 Mei 2024, Forum Keberagaman Nusantara (FKN) lahir dari rahim kesadaran bersama sekitar 30 tokoh nasional, para sultan, raja Nusantara, serta perwakilan adat lintas suku dan agama. Langkah besar ini ditandai dengan deklarasi nasional yang kental akan nuansa kultural, termasuk di halaman Kadaton Kesultanan Ternate, Maluku Utara.
Arah strategis dan pergerakan FKN dikawal langsung oleh figur-figur panutan bangsa:
- Ketua Dewan Pembina FKN Pusat: K.H. Ma’ruf Amin (Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13), yang memberikan bimbingan moral, pengawasan ideologis, serta arah strategis dalam merajut kerukunan umat beragama dan berbangsa.
- Ketua Umum FKN: H. Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun, tokoh inisiator utama yang aktif menggerakkan konsolidasi kebangsaan dan kebudayaan lintas elemen masyarakat di berbagai penjuru nusantara.
Di bawah payung konstitusi Pancasila, UUD 1945, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, FKN hadir bukan sebagai organisasi seremonial semata, melainkan wadah intelektual dan kultural yang solid.
Perjuangan Sang Nakhoda: Menenun Benang Merah Lintas Adat dan Budaya
Di balik berdirinya gerakan ini, terdapat keteguhan kepemimpinan sang Ketua Umum, H. Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun. Sebelum mendedikasikan energinya secara penuh untuk FKN, ia memiliki rekam jejak pengabdian yang kuat di lingkaran strategis pemerintahan, termasuk pernah dipercaya sebagai Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia (K.H. Ma’ruf Amin) pada periode 2019–2024.
Pengalaman panjang di jantung pemerintahan tersebut memperluas perspektifnya: bahwa kekuatan sejati bangsa ini terletak pada kebudayaan, tradisi lokal, serta kerukunan masyarakat di berbagai pelosok daerah. Perjuangan Tuanku Alamsyah dibuktikan dengan turun langsung ke akar rumput—bersilaturahmi dengan para sultan, raja-raja Nusantara, dan masyarakat adat dari Sumatra hingga Kesultanan Ternate.
Bagi beliau, merawat keberagaman tidak cukup dilakukan lewat ruang seminar yang kaku di ibu kota, melainkan dengan mendengarkan langsung denyut keresahan masyarakat dan menghidupkan kearifan lokal.
Perjuangan Konkret FKN di Akar Rumput
Dalam praktiknya, perjuangan Forum Keberagaman Nusantara mewujud melalui kerja-kerja kultural yang konsisten untuk meredam potensi gesekan sosial di tengah masyarakat multikultural:
- Edukasi Publik Berbasis Budaya: Mengangkat kembali nilai-nilai kearifan lokal nusantara yang terbukti sejak lama menjadi instrumen perdamaian antarsuku dan umat beragama.
- Mediasi dan Resolusi Konflik: Menjadi penengah yang netral dan berempati tinggi dalam meredam potensi polarisasi identitas di tengah masyarakat.
- Penguatan Literasi Kebangsaan: Mengkampanyekan pentingnya berpikir kritis dan bernarasi positif untuk melawan hoaks serta ujaran kebencian berbasis SARA di ruang digital.
Tujuan Utama Forum Keberagaman Nusantara
Di bawah arahan para pembina dan pimpinan pusat, FKN memiliki arah dan komitmen yang jelas bagi masa depan Indonesia. Secara garis besar, tujuan utama pergerakan FKN mencakup:
- Memperkokoh Persatuan Nasional: Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui penguatan rasa saling memiliki dan menghormati antarwarga negara menjelang satu abad Indonesia.
- Membangun Ruang Dialog Inklusif: Menyediakan wadah bagi kelompok minoritas maupun mayoritas untuk menyuarakan aspirasi dalam kerangka demokrasi yang sehat dan beradab.
- Melestarikan Khazanah Budaya Nusantara: Menjadikan kekayaan seni, tradisi, dan sejarah lokal sebagai perekat sosial yang menyatukan berbagai elemen masyarakat.
- Memberdayakan Generasi Muda: Mengedukasi generasi penerus (Gen Z, Milenial, hingga Generasi Alpha) agar memandang kebhinekaan sebagai modal utama menuju visi besar Indonesia Emas.
Baca Juga : Jurnal Sumatra Utara Part 1, Isfandiari MD-jurnalis FKN
Menyalakan Hati Nusantara Menuju Indonesia Raya
Forum Keberagaman Nusantara berdiri sebagai pengingat abadi bahwa Indonesia yang kokoh tidak pernah lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuannya merayakan perbedaan dengan jiwa yang lapang. Di tengah gempuran modernisasi, arus globalisasi digital, dan berbagai tantangan zaman yang kerap menguji daya tahan sosial kita, FKN hadir membawa lentera harapan. Melalui gagasan yang ringkas namun bernas, kerja-kerja kolaboratif di akar rumput, serta rasa empati yang mendalam seperti yang senantiasa digelorakan dengan penuh keteguhan oleh kepemimpinan H. Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun. FKN mengusung misi besar Menyalakan Hati Nusantara demi merawat masa depan bangsa dari ancaman perpecahan.
Api persatuan ini hanya akan terus menyala jika kita berani meruntuhkan dinding-dinding kecurigaan yang kerap dibangun oleh ego sektoral maupun polarisasi identitas. Seperti pesan moral yang selalu digaungkan:
“Mari kita gantikan ego dengan kasih sayang, dan curiga dengan saling percaya. Sebab, dari cinta yang tuluslah lahir persatuan yang sejati.”
Dengan memegang teguh tagline “Beragam, Bersatu, Berdaya Untuk Indonesia Raya”, Forum Keberagaman Nusantara tidak sekadar berhenti pada wacana di atas kertas. FKN terus melangkah, merangkul setiap elemen lintas suku, agama, dan adat istiadat, untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur nusantara tetap hidup, berdaulat secara kultural, dan relevan menjawab dinamika zaman. Organisasi ini bertekad membuktikan bahwa keberagaman bukanlah sebuah kelemahan yang memecah belah, melainkan kekuatan mahabesar yang menjadikan bangsa ini unik dan terhormat di mata dunia.
Sebab, pada akhirnya, merawat Indonesia bukanlah sekadar tanggung jawab moral pemerintah atau segelintir elite semata, melainkan panggilan suci bagi setiap warga negara. Dengan mengenal, memahami, dan mendukung gerakan serta figur-figur penggerak di dalam Forum Keberagaman Nusantara ini, kita turut mengambil peran nyata,memastikan bahwa warisan kebhinekaan, kedamaian, dan kehangatan rumah besar bernama Indonesia dapat terus dinikmati oleh anak cucu kita di masa depan dengan penuh rasa bangga, kepala tegak, dan kedamaian yang abadi.
