KAMI TUNGGU DI PENJARA! By Isfandiari MD
Bagi para real bikers dan pencinta kultur die-hard, nama Mongrel Mob MC New Zealand tentu sudah tidak asing lagi. Mereka dikenal luas sebagai salah satu geng motor paling ganas dan hardcore yang paling ditakuti di kawasan Selandia Baru. Penampilan fisik para anggotanya pun kerap diasosiasikan dengan kesan super-seram, serta memiliki rekam jejak yang akrab dengan dunia kriminalitas dan kekerasan jalanan.
Namun, stigma kelam tersebut seketika runtuh tatkala rasa kemanusiaan diuji. Di balik garangnya penampilan para outlaws ini, tersimpan ketegasan moral yang luar biasa.
Kutukan Keras Atas Tragedi Christchurch
Presiden klub hingga jajaran life members Mongrel Mob menunjukkan kemarahan yang meluap-luap ketika tragedi pembantaian keji menimpa umat Muslim di Selandia Baru. Aksi teror penembakan massal tersebut dilakukan oleh Brenton Tarrant (28) dengan cara yang sangat pengecut.
Berdasarkan data resmi saat insiden itu terjadi, korban tewas dilaporkan mencapai sedikitnya 49 orang, dengan rincian yang sangat memilukan: 41 orang tewas di Masjid Al Noor, 7 orang tewas di Masjid Linwood, dan 1 orang meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Christchurch.
Merespons tindakan biadab tersebut, para gangster jalanan ini melontarkan kecaman keras tanpa kompromi. “KAMI TUNGGU DI PENJARA!” seru mereka dengan nada mengancam kepada sang pelaku. Tentu saja itu bukan sekadar gertakan kosong belaka. Mengingat sebagian life members Mongrel Mob memiliki catatan hukum dan banyak yang mendekam di balik jeruji besi, ancaman tersebut memicu ketegangan tersendiri. Bagi mereka, tindakan membantai orang tak bersalah di tempat ibadah adalah bentuk pengecut yang tidak bisa diampuni.
Empati dan Simpati Nyata untuk Komunitas Muslim
Tidak berhenti pada kecaman verbal, geng motor ini juga mengejutkan publik dengan menunjukkan gestur simpati yang mendalam kepada komunitas Muslim di Selandia Baru. Para anggota Mongrel Mob mendatangi langsung para keluarga korban untuk menguatkan hati mereka, sekaligus mengirimkan karangan bunga sebagai wujud belasungkawa dan empati yang tulus.
“Komunitas Islam adalah bagian dari kami juga… mereka tidak pantas diperlakukan demikian,” tegas para perwakilan geng motor tersebut dengan penuh wibawa.
Sebagai penutup dari sikap tegas mereka, para gangster ini melayangkan pesan peringatan terakhir. Mereka menyadari bahwa tidak mudah untuk menjangkau Tarrant secara langsung di dalam sel isolasi penjara super ketat. Kendati demikian, mereka menegaskan bahwa kelompoknya telah bersiap dan terus mengawasi gerak-gerik sang pelaku. Entah apa makna tersirat dari kata “mengawasi” tersebut, yang pasti pernyataan itu menjadi teror tersendiri bagi sang pembantai berdarah dingin!-
