E T Hadi Saputra 2 Oktober 2026
Layar televisi tabung di sudut pos ronda itu masih berkedip-kedip, memantulkan kilatan lampu sorot dari ruang jumpa pers Jakarta yang dingin dan berjarak. Pejabat baru itu dengan jas licin tanpa cela dan senyum yang terlalu tertata rapi dan seorang ajudan disamping masih asyik merangkai istilah: machine learning, akurasi algoritma, integrasi kecerdasan artifisial dalam komunikasi publik. Kalimatnya meliuk-liuk seperti kabel semrawut di tiang listrik gang senggol, tampak canggih dari kejauhan, tapi isinya cuma sarang laba-laba.
Kopral Jono menyeruput sisa kopi hitamnya yang sudah dingin. Ampasnya tertinggal di bibir cangkir seng.
“Habis gimana lagi, Ndan,” desahnya sambil meletakkan cangkir agak keras ke atas bale-bale. “Ini kepala Bakom yang baru dilantik malah ngomong AI dan algoritma, padahal yang dibutuhkan dari dia kan cuma kejujuran.”
Komandan tidak langsung menoleh. Ia masih sibuk melinting tembakau murah ke kertas papir. Di sampingnya, Pak RT yang sedari tadi cuma bersandar di tiang pos sambil menyilangkan tangan di dada tiba-tiba mendengus pendek. Tawa getir terselip di sela napas tuanya.
“Jumhur itu, Jon…” gumam Pak RT parau, matanya menatap lekat-lekat ke layar kaca.
Jono menoleh, keningnya berkerut. “Kenapa Pak RT kenal?”
“Bukan kenal lagi,” sahut Pak RT datar. Asap rokok klobotnya meliuk tipis ke udara malam. “Tahun delapan sembilan, waktu Menteri Rudini datang ke ITB, bocah itu yang naik ke mimbar. Kami sama-sama diteriaki subversif, sama-sama tahu rasanya diseret aparat ke Nusakambangan jaman Pak Harto masih gagah-gagahnya. Dulu dia yang teriak paling kencang menantang represi, paling galak kalau ngomong soal hak buruh dan penderitaan orang kecil. Kami makan nasi bungkus basi bareng-bareng di jalanan berdebu.”
Pak RT menghela napas panjang, menatap bayangan kawan lamanya di layar kaca yang kini bicara di balik podium megah kekuasaan.
“Makanya, Jon,” lanjut Komandan sambil menyalakan pemantik api untuk lintingan tembakaunya, “politik itu punya sihir paling kejam. Dia bisa mengubah orang yang dulunya tahan digebug pentungan, mendadak jadi lembek begitu dikasih dasi sutra dan ruang berpendingin udara. Zaman sudah kebolak-balik.”
Komandan menghembuskan asap pekat ke udara, menerawang.
Baca Juga : Merajut Jiwa Nusantara: Riwayat Panjang Batik dari Balik Dinding Kerajaan hingga Era Modern
“Dulu, modal dia melawan cuma otot, urat leher, dan keberanian menuntut kebenaran telanjang. Tapi begitu masuk istana, senjatanya berganti. Dia lempar algoritma ke muka publik. Kenapa? Karena mesin itu tameng paling mewah buat orang yang lupa daratan. Mesin nggak punya mata untuk menatap rasa malu, nggak punya keringat dingin di pelipis waktu nuraninya ditagih. Kalau komunikasi pemerintah amburadul atau rakyat menjerit kelaparan, gampang: tinggal salahkan kodingan, salahkan probabilitas sistem.”
Jono menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memandang Pak RT yang tampak muram.
“Padahal dulu dia paling ngerti jeritan orang lapar ya, Pak RT?” tanya Jono pelan.
“Rakyat ini bukan barisan data biner nol dan satu, Jon,” sahut Pak RT dingin, membuang puntung rokoknya ke tanah becek. “Dulu dia yang ngajarin anak-anak muda kalau integritas itu taruhannya nyawa. Sekarang dia pikir suara perut orang lapar bisa diredam pakai penjelasan kecerdasan buatan. Sekali kau sembunyikan kebenaran di balik istilah canggih, baunya tetap saja busuk sampai ke selokan.”
Di luar pos, gerimis mulai turun membasahi tanah kampung. Jono meraih remot tua dan menekan tombol merah dengan sekali sentak keras klik. TV mati seketika.
Suasana pos ronda kembali senyap, menyisakan derak jangkrik dan aroma tanah basah yang jauh lebih jujur daripada suara kawan lama di layar kaca.

Tentang Penulis
ET Hadi Saputra adalah seorang penulis nonfiksi, akademisi, dan kritikus sosial Indonesia yang berfokus pada hukum bisnis, investasi asing, kebijakan publik, dan hak digital. Selain menjadi salah satu penulis di gasride.net beliau juga memiliki karya literatur bisnis utamanya adalah buku “Investing in Indonesia: A Comprehensive Guide” (2025). Melalui artikel ilmiah di Google Scholar / Academia.edu serta esai kritis di situs pribadinya, ethadisaputra.com, ia dikenal vokal menyuarakan isu regresi demokrasi, perlindungan data pribadi, dan advokasi hak konstitusional masyarakat.
