BY ISFANDIARI MD
Tragedi nasional pemberontakan G30 S PKI, isue dewan jendral, pembunuhan 6 Jendral dan satu perwira di subuh 30 September 1966 selalu menyisakan luka yang menyesakkan. Percobaan kudeta ini selalu mengundang kontroversi, sampai ada fenomena kekinian, pihak PKI memposisikan diri sebagai korban sampai membawanya pada mahkamah Interbasional atas dasar pelanggaran HAM berat, pembunuhan masal pasca peritiwa ini. Pihak yang tertuduh, Tentara Nasional Indonesia dan ormas Islam Nahdlatul Ulama yang memang head-to head dengan PKI. Keduanya dituduh bengis dan kejam membunuh banyak warga yang disinyalir terlibat dan berpaham komunis seperti Barisan Tani Indonesia, Lekra, Gerwani dan seluruh mantel-mantel PKI di berbagai daerah terutama Jawa.
Perihal ini, ada kerisauan mendalam, jangan sampai gen-z salah persepsi. Apalagi sekarang ini beredar infomasi simpang siur di berbagai media sosial intinya ‘membela’ PKI dan mendiskreditkan TNI dan NU dengan berbagai cara. Sebuah propaganda masif yang mau tak mau harus diantisipasi dengan intens. Lelaku berbahaya yang bisa memercikkan kecemasan diantara masyarakat luas terutama generasi muda. Inilah inti Forum Griup Discussion yang digagas Universitas Islam Negri Syatif Hidayatullah, kerjasama dengan Dipantara Leadership Academi, Jumat (2 Oktober 2026) di Aula Harus Nasution kampus UIN. Di momen penting ini hadir pembicara penting , KH. Abdul Abdul Mun’im DZ, Ibu Armelia Ahmad Yani (puti Jendral Ahmad Yani) dan rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Asep Saeipudin Jahar,M.A.,Ph.D. Ketiganya memberikan deskripsi utuh dan penting kepada peserta FGD terdiri mahasiswa dan dosen UIN, pemerhati sejarah dan kalangan umum.
Dimulai dengan pembukaan rektor UIN mengenai pentingnya forum diskusi ini sekalgus mewanti kita semua agar bahaya laten komunis tak pernah mati dan selalu melakukan propaganda-propaganda seeperti yang memang menjadi spesialis kelompok ini. Apalagi di era informasi serbaterbuka, semua hal bisa dilakukan oleh orang yang punya niat jahat menggerus rasa nasionalisme, kesakralan Pancasila dan disintegrasi. Ihktiar pihak penyokong PKI jelas terasa sampai saat ini. Misalnya tuntutan-tuntutan mereka untuk mencabut TAP MPRS XXV 1966 (2001), menuntut ganti rugi 750 juta hingga 2.5 miliar bagi setiap anggota PKI (2005), mengajukan TNI dan NU ke International Tribual Court Belanda (2015), perayaan 50 tahun G30-S PKI sebagai sarana menggugat NU dan TNI (2015), PKI Masuk Istana, terbit Kepres no 17,2022, membentuk tim non yudisial Pelanggaran HAM. Arah dari International People Tribunal Court jelas, menuduh TNI-NU sebagai pelaku kejahatan, menyudutkan pemerintah Indonesia beserta pendukungnya, menuntut rehabilitasi dan kompensasi, mengubah buku kurikulum sejarah yang menempatkan PKI sebagai pihak yang benar dan menuntut hak politik kekuasaan. Menurut KH. Mun’im, ada gerakan neo komunis melalui gerakan infiltrasi dan gerakan aksi masa. “Melalui organisasi kemasyarakatan, partai politik, masuk parlemen, birokrasi pemerintahan atau malah BUMN. Terjadi juga propaganda merehabilitasi PKI, mengadili musuh PKI, mengobarkan gerakan protes dan kerusuhan, membangun negara berdasarkan Marxisme dan Leninisme. “ Kyai yang banyak menerbitkan buku ini sekilas memberikan gambaran sejarah terutama untuk mahasiswa sebagai generasi muda.”Peristiwa G30s PKI masih terkait peristiwa 1948, terjadi perebutan kekuasaan PKI terhadap pemerintahan yang sah, terjadi konflik horisontal antara pendukung PKI dan masyarakat lain, adanya pertumpahan darah di kedua pihak dan terbukti PKI sebagai dalang semua peristiwa ini,” jelasnya. Ia juga sangat bersyukur, kekuatan PKI selalu bisa dimusnahkan, “Menurut KH. Wahid Hasyim, pemberontakan PKI di tahun 1948 mampu dipadamkan dengan keajaiban. Bayangkan, selama 2 tahun PKI memegang posisi mentri pertahanan, segala perbelakan militer dipegang mereka. Sedikit sekali yang diterima TNI, bandingannya 5 banding 1, tetapi kekuatan PKI berhasail dilumpuhkan TNI dan NU hanya dalam 10 hari,” demikian penjelasan KH. Mun’im.

Diskusi yang berlangsung dari siang sampai sore hari ini sangat menarik dan menyita perhatian mahasiswa UIN. Untuk lebih menggambarkan peta kekuatan di era itu, para penampil FGD memberikan banyak informasi penting . Mereka menjelaskan dengan rinci betapa PKI menjadi aktor utama menciptakan teror, ketegangan swerta konflik. Nahdlatul Ulama sebagai korban teror PKI. Para Kyai Nu dituduh sebagai Setan Desa dan elite NU dituduh Setan Kota. Partai Nasional Indonesia (PNI) setia pada Pancasila sementara PNI ASU -golongan kiri bersimpati pada PKI. Eks Masyumi semisal PII, GPI dan lainnya dituduh antek Nekolin. Kalangan TNI setia pada Pancasila namun ada sebagian yang berpihak kepada PKI di era itu.
Baca Juga : CATATAN SEJARAH Nahdlatul Ulama
Moment paling menyentuh hati terjadi saat ibunda Amelia, putri Jendral Ahmad Yani menuturkan kisah di malam menjelang subuh di kediaman dinas sang Jendral. “Peristiwa yang sangat menyisakan trauma. Ayah kami dibunuh di tempat oleh pasukan Cakrabirawa. Saya kecewa atas respon presiden Soekarno yang hanya mengatakan peristiwa kecil revolusi,” tuturnya. Bebepada peserta termasuk dosen UIN terlihat sangat terharu mendcengar kisah ini, bahkan beberapa diantaranya meneteskan air mata. “Sungguh terharu…, saya salut pada ibu yang sangat tegar mengalami peristiwa tragis ini,” ujar salah satu peserta.
FGD ini berakahir menjelang Magrib. Beberapa peserta masih saja penasaran pada informasi-informasi lainnya, termasuk bahasan penting bagaimana generasi sekarang menyikapi serbuan propaganda kekinian yang memposisikan PKI sebagai korban dan TNI-NU sebagai pihak yang bersalah. Ini jelas sangat berbahaya dan perlu langkah konkrit mengatasinya. Semoga digagas lebih intens FGD-FGD selanjutnya di UIN. Salut dan sangat membanggakan. Good luck!

Tentang Penulis
Isfandiari Mahbub Djunaidi adalah seorang jurnalis senior, penulis, dan Wasekjen PBNU yang juga merupakan putra dari sastrawan legendaris Mahbub Djunaidi [Penerbit Javanica]. Mewarisi darah literasi sang ayah, ia aktif menulis karya bertema biografi dan subkultur, termasuk buku “Bung: Memoar Tentang Mahbub Djunaidi” [Penerbit Javanica]. Di luar ranah keagamaan dan literasi, ia dikenal luas sebagai tokoh pergerakan motor di Indonesia, Gus is panggilan akrabnya juga menjadi Pimpinan Umum dimedia online gasride.net, serta membagikan cerita dan esai kesehariannya lewat Instagram @isfanoutsider_.
