Oleh : Ariq Bratasena Adhinata
Di sudut-sudut jalanan kampung maupun trotoar kota di Indonesia hari ini, sebuah pemandangan yang dulunya sakral kini semakin langka ditemui. Dulu, seorang anak yang berpapasan dengan gurunya atau orang yang lebih tua di jalan tidak akan sekadar lewat begitu saja. Mereka akan sedikit membungkukkan badan, menyapa dengan takzim, lalu meraih tangan sesepuh itu untuk dicium sebagai simbol penghormatan tertinggi. Gestur sederhana itu bukan sekadar formalitas, melainkan bahasa jiwa yang merajut harmoni sosial, menandakan bahwa ada batas kesantunan dan rasa hormat yang dijaga lintas generasi.
Kini, pemandangan tersebut perlahan tergerus zaman. Keresahan sosial di Nusantara tidak hanya berhenti pada merosotnya adab anak kepada orang tua dan guru. Ruang-ruang privat keluarga pun turut mengalami pergeseran drastis, tidak sedikit fenomena di mana seorang istri atau figur ibu lebih sibuk menatap layar ponsel demi mengejar atensi penonton live streaming di media sosial, atau bahkan tenggelam berjam-jam dalam dunia game online ketimbang membangun komunikasi yang hangat dengan suami dan anak-anak di rumah. Ketika stik konsol atau layar gawai lebih menarik perhatian dibanding sapaan pendamping hidup, rumah kehilangan ruh kehangatannya.
Fenomena-fenomena ini hanyalah puncak gunung es dari krisis kebudayaan yang lebih besar. Ketika ruang publik dan privat kehilangan rambu-rambu moralnya, kita sedang menyaksikan perlahan-lahan runtuhnya fondasi kultural yang dibangun oleh para leluhur bangsa ini selama ratusan tahun.
Sebab Musabab: Mengapa Adab Kita Mulai Pudar?
Hilangnya kepekaan sosial dan pudarnya adab di Nusantara bukanlah sebuah kecelakaan sejarah yang terjadi dalam semalam. Ada beberapa faktor sosiologis dan psikologis yang menjadi akar dari keresahan ini:
- Invasi Budaya Tanpa Filter dan Individualisme Ekstrem: Arus globalisasi membawa nilai-nilai individualisme yang mengagungkan kebebasan tanpa batas. Budaya ketimuran yang menjunjung tinggi kolektivitas, rasa malu (shame culture), dan penghormatan hierarkis digantikan oleh budaya serba instan yang menempatkan “kebebasan diri sendiri” di atas segalanya.
- Kecanduan Layar, Game, dan Alienasi Digital (Dopamine Loop): Kehadiran gawai, gim virtual, dan media sosial mendadak mereduksi interaksi manusia yang autentik. Ketika game ranking atau validasi maya dianggap lebih memuaskan daripada realitas rumah tangga, terjadilah alienasi manusia merasa dekat dengan dunia digitalnya, tetapi justru menjadi asing dengan orang yang tidur di sampingnya.
- Pudarnya Keteladanan di Ruang Terdekat: Adab tidak diwariskan melalui teori di bangku sekolah, melainkan melalui keteladanan yang disaksikan anak-anak setiap hari di rumah dan lingkungan sekitar. Ketika orang dewasa pun sibuk dengan pelarian digitalnya masing-masing, mata rantai transmisi nilai-nilai luhur terputus begitu saja.
Fenomena Lain yang Meresahkan: Krisis Empati di Ruang Publik
Selain pergeseran relasi anak-orang tua dan suami-istri, degradasi adab ini juga termanifestasi dalam berbagai bentuk lain yang tak kalah mengkhawatirkan:
- Hilangnya Ruang Aman Bernama “Tabu dan Malu”: Norma kepatutan sosial kini sering dianggap sebagai “kekangan kuno”. Etika berbicara, tata krama bertamu, hingga adab menghargai privasi orang lain di ruang publik kerap diabaikan demi konten atau demi kepuasan ego di dunia maya.
- Merosotnya Otoritas Moral Pendidik: Hubungan antara murid dan guru yang dulunya berlandaskan takrim (pemuliaan ilmu) kini kerap bergeser menjadi relasi transaksional semata. Tidak jarang guru justru kehilangan perlindungan moral dan sosial ketika menghadapi protes berlebihan tanpa dilandasi adab murid kepada guru.
Siapa Kita dan Dari Mana Kita Berasal?
Untuk menyadarkan kita kembali, mari menengok sejenak ke akar sejarah Nusantara. Bangsa ini dari Sabang sampai Merauke tidak pernah dikenal di panggung dunia karena kekuatan militernya yang menaklukkan benua, melainkan karena adab, budi bahasa, dan keluhuran karakternya.
Kearifan lokal kita kaya akan falsafah hidup. Di tanah Jawa dikenal ajaran sopan santun dan andhap asor (rendah hati), di Minangkabau ada filosofi tali bapilin tigo, tigo sajarangan yang mengatur keseimbangan adat dan agama; masyarakat Bali mengenal Tri Hita Karana dan begitu pula ratusan suku lainnya di Nusantara yang meletakkan penghormatan kepada orang tua, guru, serta sesama manusia sebagai inti dari kemanusiaan yang beradab.
Ketika kita melupakan adab, kita sedang mencabut diri kita sendiri dari akar pohon sejarah yang memberi kita hidup. Kita menjadi bangsa yang asing di tanah airnya sendiri,berdiri di atas kekayaan budaya yang megah, tetapi rapuh secara jiwa.
Baca Juga : Syahganda itu Temen pak RT
Bagaimana Kita Harus Bersikap?
Menjaga kultur, sejarah, dan terutama adab di tengah gempuran zaman modern bukanlah tugas yang mustahil, namun membutuhkan kesadaran kolektif yang mendalam. Kita bisa memulai langkah nyata dari ruang-ruang terkecil:
- Memulihkan Kedaulatan Keluarga: Jadikan rumah sebagai benteng pertahanan terakhir adab. Buat aturan tegas pembatasan gawai di meja makan dan ruang keluarga, termasuk menyepakati waktu bebas gim atau media sosial agar interaksi nyata dengan pasangan dan anak kembali bernyawa.
- Menghidupkan Kembali Keteladanan: Orang tua dan pendidik harus kembali menjadi cerminan moral. Ajarkan anak-anak kita untuk kembali membiasakan diri menyapa dengan santun, mencium tangan orang yang lebih tua, dan menghargai guru bukan karena jabatannya, tetapi karena ilmu yang dititipkan melalui mereka.
- Bijak Menggunakan Teknologi: Gawai dan gim adalah sarana hiburan, bukan penguasa kehidupan. Tempatkan teknologi pada porsinya agar tidak merusak esensi keharmonisan dan komunikasi di dalam rumah tangga.
- Merawat Ingatan Kolektif dan Sejarah: Mari kembali mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Bahwa menjadi manusia modern tidak harus membuat kita kehilangan identitas ketimuran yang santun, ramah, dan beradab.
Pulang ke Jati Diri
Adab adalah mahkota sebuah bangsa. Jatuhnya sebuah peradaban besar di masa lalu jarang sekali karena hancur oleh serangan musuh dari luar, melainkan karena kebusukan moral dan hilangnya adab dari dalam masyarakatnya sendiri.
Sudah saatnya kita berhenti sejenak dari kebisingan layar dan tombol kendali digital, menarik napas dalam-dalam, dan merenungkan kembali, untuk apa kita sibuk menaklukkan permainan di dunia maya, jika di saat yang sama kita kehilangan keluarga, kehangatan cinta, dan jati diri kita sendiri di dunia nyata? Mari merajut kembali remah-remah adab yang berserakan, merawat warisan leluhur, dan kembali menjadi bangsa yang bermartabat bangsa Nusantara yang kaya harta, kaya budaya, dan kaya adab.
