Oleh: Makmur Idrus
Aktivis NU & Sesepuh GP Ansor Sulawesi Selatan
Di antara susunan kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031, salah satu sosok yang paling saya tunggu kiprahnya adalah Gus Ipang Wahid.
Beliau mendapat amanah sebagai Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi. Menurut saya, bidang ini memang dunianya.
Gus Ipang telah lama bergelut dalam dunia kreatif, komunikasi, periklanan, branding, dan strategi membangun persepsi publik. Ia juga dikenal menggunakan istilah “perception engineering”, sebuah pendekatan yang melihat komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi bagaimana pesan itu dikemas agar dapat diterima dan dipercaya publik.
Di sinilah saya melihat tantangan sekaligus peluang besar bagi Nahdlatul Ulama.
NU sesungguhnya memiliki kekayaan yang luar biasa: nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, tradisi pesantren, jaringan kiai dan ulama, jutaan santri, lembaga pendidikan, kekayaan budaya, serta jaringan sosial yang mengakar sampai ke desa-desa.
Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah bukan sekadar identitas organisasi. Di dalamnya hidup nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal—moderat, seimbang, toleran, serta tegak dalam keadilan.
Nilai-nilai inilah yang harus ikut dibawa NU memasuki ruang digital.
Teknologi boleh berubah. Platform boleh berganti. Generasi boleh bergeser. Tetapi nilai dan jati diri NU tidak boleh kehilangan akar.
Persoalannya, kekayaan besar NU belum selalu dikemas dan dikomunikasikan dengan bahasa yang mudah diterima generasi baru.
NU jangan hanya besar di dunia nyata. NU juga harus besar di dunia digital.
Saya membayangkan melalui sentuhan Gus Ipang dan timnya, wajah NU, pesantren, dan santri dapat dikemas lebih kreatif, modern, segar, dan komunikatif tanpa kehilangan tradisi serta jati dirinya.
Pesantren jangan hanya dipersepsikan sebagai tempat belajar kitab kuning. Pesantren juga harus tampil sebagai ruang lahirnya technosantri, entrepreneur muda, kreator digital, inovator, ilmuwan, dan pemimpin masa depan.
Santri harus hadir dalam percakapan TikTok, Instagram, YouTube, podcast, artificial intelligence, ekonomi digital, industri kreatif, hingga kebudayaan anak-anak muda.
Bukan sekadar ikut tren.
Tetapi menciptakan tren.
Bukan sekadar menjadi konsumen teknologi.
Tetapi ikut menjadi pemain dan pencipta teknologi.
Yang diperlukan bukan mengubah NU menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Yang dibutuhkan adalah mengemas kekayaan NU dengan bahasa zaman, sehingga nilai lama yang baik dapat diterima generasi baru melalui cara yang baru.
Substansinya tetap Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
Nilainya tetap pesantren.
Akarnya tetap tradisi.
Tetapi cara berkomunikasinya harus mengikuti zaman.
PBNU Sudah Digital, Bagaimana Daerah?
Di sinilah muncul pertanyaan penting:
PBNU sudah berbicara tentang digital native, tetapi apakah PWNU dan PCNU sudah siap?
Pertanyaan ini bukan untuk meragukan daerah. Sebaliknya, justru untuk memastikan transformasi digital NU tidak berhenti sebagai gagasan besar di Jakarta.
Sebab sehebat apa pun gagasan di PBNU, dampaknya akan terbatas apabila tidak diikuti kesiapan perangkat organisasi di daerah.
Transformasi digital membutuhkan jauh lebih banyak daripada sekadar membuat akun media sosial.
Ia memerlukan SDM yang memahami komunikasi digital, tim kreatif, pengelola media yang aktif, kemampuan produksi konten, penguasaan teknologi dan data, serta pola koordinasi yang jelas dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting.
Jangan sampai PBNU sudah berbicara tentang artificial intelligence, branding, data, dan komunikasi generasi baru, tetapi sebagian struktur di daerah masih kesulitan membangun media resmi yang aktif dan profesional.
Kalau pusat berlari sementara daerah masih berjalan, akan muncul kesenjangan digital di dalam tubuh organisasi sendiri.
Karena itu, salah satu pekerjaan awal yang menurut saya penting adalah melakukan pemetaan kesiapan digital organisasi NU secara nasional.
Mana PWNU dan PCNU yang sudah mempunyai SDM dan perangkat memadai?
Mana yang telah memiliki tim media tetapi belum terkoordinasi?
Mana yang membutuhkan pelatihan?
Dan mana yang memang harus dibangun dari awal?
Pemetaan diperlukan agar transformasi digital NU benar-benar menjadi gerakan organisasi dari pusat sampai ranting.
Bayangkan jika jaringan besar NU bergerak dalam sebuah ekosistem komunikasi yang saling terhubung.
PBNU membangun narasi besar.
PWNU menerjemahkannya sesuai karakter wilayah.
PCNU mengembangkannya berdasarkan persoalan masyarakat setempat.
MWCNU dan ranting menjadi ujung tombak yang menyampaikan informasi sekaligus menangkap aspirasi masyarakat.
Komunikasi NU kemudian tidak lagi berjalan satu arah dari pusat ke daerah, melainkan menjadi jaringan yang saling berbicara, saling mendengar, dan saling menguatkan.
Jangan Hanya Branding
Karena itu, pekerjaan Gus Ipang dan timnya menurut saya tidak cukup hanya melakukan branding NU.
Pekerjaan yang lebih besar adalah membangun ekosistem komunikasi digital NU dari pusat sampai daerah.
Branding memang penting. Tetapi branding tanpa infrastruktur komunikasi organisasi hanya akan menghasilkan citra yang bagus di permukaan.
NU membutuhkan sistem.
NU membutuhkan jaringan.
Dan yang paling penting, NU membutuhkan manusia-manusia yang mampu mengoperasikannya.
Teknologinya bisa dibeli.
Perangkatnya bisa disediakan.
Tetapi yang paling penting adalah menyiapkan manusianya.
Baca Juga : Forum Keberagaman Nusantara (FKN): Benteng Toleransi di Tengah Pluralisme
Kader-kader muda NU harus diberi ruang.
Santri yang menguasai teknologi harus dicari dan dihimpun. Anak-anak muda NU yang memahami desain, video, artificial intelligence, data, programming, media sosial, fotografi, podcast, animasi, dan industri kreatif perlu diberikan kesempatan.
Mereka jangan hanya menjadi penonton.
Berikan ruang kepada mereka menjadi arsitek wajah digital NU masa depan.
Boleh jadi di sebuah pesantren kecil ada santri yang sangat mahir membuat aplikasi.
Boleh jadi di suatu PCNU ada kader muda yang mampu membuat konten dengan jutaan penonton.
Boleh jadi di sebuah ranting ada anak muda yang memahami artificial intelligence jauh lebih baik daripada mereka yang berada di struktur tingkat atas.
Tugas organisasi adalah menemukan mereka, menghimpun mereka, memberi ruang, kemudian menghubungkan kemampuan mereka dengan kebutuhan NU.
Namun sehebat apa pun teknologi yang dikuasai, satu hal tidak boleh hilang: ruh Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
Teknologi hanyalah kendaraan.
Aswaja an-Nahdliyah harus tetap menjadi kompasnya.
Transformasi digital pada akhirnya bukan soal siapa memiliki perangkat paling canggih, melainkan siapa yang paling siap menggunakan teknologi untuk menyampaikan nilai, pengetahuan, kebenaran, dan kemaslahatan kepada masyarakat.
Di tangan yang tepat, jaringan NU yang mengakar dari pusat sampai desa merupakan kekuatan komunikasi yang luar biasa.
Tinggal bagaimana kekuatan itu dihubungkan, dilatih, dikoordinasikan, dan digerakkan.
Di situlah saya menunggu sentuhan Gus Ipang.
Bukan sekadar membuat NU terlihat modern, tetapi membuat NU benar-benar hidup, berpengaruh, dan ikut memimpin percakapan di dunia digital dengan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah tetap menjadi ruhnya.
Selamat bertugas, Gus Ipang.
NU membutuhkan jenengan. Dan mungkin, sekaranglah waktunya jenengan lebih banyak berkhidmah untuk NU.
Sebab generasi masa depan tidak sedang menunggu kita di depan.
Mereka sudah berada di dunia digital hari ini.
Pertanyaannya sekarang:
Apakah seluruh struktur NU sudah siap hadir bersama mereka?

Tentang Penulis
Drs. H. Makmur Idrus adalah intelektual, penulis opini, dan sesepuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Selatan. Mantan Sekretaris Umum PW GP Ansor Sulsel dan Ketua PC GP Ansor Makassar ini dikenal luas sebagai aktivis NU yang kritis dan konsisten menjaga independensi organisasi dari politik praktis. Selain menjadi salah satu penulis di gasride.net juga beliau menulisan, opini, serta pernyataan kritisnya yang kerap dipublikasikan di media massa regional dan nasional seperti Tribun-Timur / Tribunnews dan portal berita hukum/sosial Legion News, alumni UVRI Makassar dan mantan auditor pemerintah ini aktif mengulas pelestarian warisan moral para kiai/gurutta, pengawasan integritas pejabat publik, serta pembenahan pendidikan Ma’arif NU di daerahnya.
