Oleh : Ariq Bratasena Adhinata
Di bawah terik matahari yang mulai menyengat kulit, seorang lelaki tua berdiri membungkuk di tengah hamparan lumpur kecokelatan. Jemarinya yang keriput dan legam oleh paparan cuaca memegang erat tangkai padi, memisahkan gulma dengan ketelitian yang lahir dari puluhan tahun pengabdian pada tanah. Kakinya yang tak bersendal menancap dalam di celah-celah tanah basah tanah yang telah menghidupi anak-anaknya, membiayai sekolah mereka, dan memberi makan jutaan perut yang bahkan tak pernah tahu namanya.
Namun, ketika petang menjelang dan rasa lelah menumpuk di tulang-tulang tuanya, ia menatap ke arah saung di ujung pematang sawah. Di sana, berkumpul sekumpulan anak muda dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada layar gawai. Jemari mereka menari cepat, bukan untuk merawat tanaman atau mengukur debit air irigasi, melainkan sibuk mengejar tingkatan level game online atau terjerat dalam ilusi angka-angka judi online (judol).
Sebuah pemandangan kontras yang menyayat hati: Generasi tua memeras keringat di atas tanah demi kehidupan nyata, sementara generasi muda memeras masa depan di atas layar demi bayangan semu.
Fenomena Sunyinya Sawah Kita
Krisis regenerasi petani di Nusantara hari ini bukan lagi sekadar wacana di meja seminar sosiologi, melainkan bencana ekologis dan pangan yang sedang berlangsung perlahan. Data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan bahwa mayoritas petani Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok usia di atas 45 hingga 60 tahun. Sementara itu, minat generasi muda khususnya Gen Z dan Milenial untuk terjun ke sektor pertanian terus merosot drastis.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada stigma kolektif yang tertanam kuat bahwa menjadi petani adalah simbol kemiskinan, kerja kasar, kotor, dan tidak bergengsi. Pertanian dipersepsikan sebagai pekerjaan masa lalu yang tidak menawarkan kepastian finansial.
Di sisi lain, kehadiran teknologi digital yang tidak dibarengi dengan literasi dan kompas moral yang kuat justru menjadi jebakan mematikan. Banyak anak muda di pedesaan yang terjebak dalam pusaran game online berlebihan hingga kecanduan judi online. Janji manis “kaya mendadak tanpa keringat” melalui judi siber telah merusak mentalitas kerja keras yang menjadi ciri khas masyarakat agraris kita. Cangkul dianggap beban, sementara modal nikmat instan dari layar ponsel dikejar meski harus mengorbankan masa depan.
Nasib Sawah Ladang Setelah Petani Tua Tiada
Pernahkah kita membayangkan, apa yang akan terjadi 10 hingga 20 tahun dari sekarang ketika generasi petani tua ini satu per satu berpulang ke pangkuan Sang Pencipta?
Ketika jemari keriput itu tak lagi sanggup memegang cangkul dan mata senja itu tak lagi sanggup menatap bulir padi yang menguning, siapa yang akan melanjutkan tatanan kehidupan di atas tanah agraris ini?
Jika anak-anak mudanya tetap enggan menyentuh tanah dan lebih memilih menjadi penonton pasif di dunia digital, dampaknya sangatlah mengerikan:
- Alih Fungsi Lahan yang Tak Terkendali: Sawah-sawah produktif yang tak lagi digarap akan dengan sangat mudah dijual murah kepada spekulan tanah. Hamparan hijau tempat beras ditanam akan berganti menjadi deretan beton pabrik, perumahan, atau bangunan fisik yang tak bisa dimakan.
- Ketergantungan Pangan Total (Bencana Impor): Bangsa yang dulunya membanggakan predikat lumbung pangan agraris akan terpaksa menggantungkan isi piringnya pada negara lain. Kita akan menjadi bangsa yang mengemis beras, jagung, dan sayuran dari luar negeri hanya karena generasi mudanya tak mau menanam di tanahnya sendiri.
- Hilangnya Kedaulatan dan Identitas Bangsa: Sawah dan ladang bukan sekadar urusan perut; di dalamnya melekat etika gotong royong, kearifan lokal, dan hubungan spiritual manusia dengan alam. Hilangnya tradisi menanam berarti hilangnya akar kebudayaan Nusantara yang paling mendasar.
Menjemput Kembali Kesadaran Generasi Muda
Menyadarkan generasi muda dari cengkeraman kecanduan digital dan judi online bukanlah perkara memusuhi teknologi. Teknologi adalah alat, dan permasalahannya terletak pada bagaimana kita memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyelamatkan tanah air kita.
Untuk memutus rantai krisis ini, beberapa langkah nyata dan strategis harus segera dilakukan:
- Transformasi Smart Farming (Modernisasi Pertanian): Pertanian harus dikemas ulang dengan bahasa zaman. Penggunaan drone untuk pemupukan, sistem irigasi otomatis berbasis Internet of Things (IoT), serta kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi cuaca dan hama harus dikenalkan kepada anak muda. Pertanian modern tidak lagi identik dengan kotor dan lelah fisik semata, melainkan dengan ilmu pengetahuan dan efisiensi teknologi.
- Pertanian sebagai Bisnis yang Menjanjikan (Agripreneurship): Anak muda harus dibantu melihat potensi ekonomi yang luar biasa dari rantai pasok pangan. Melalui pengelolaan hasil tani dari hulu ke hilir, pemasaran digital (digital marketing), dan inovasi olahan pangan, menjadi agripreneur (pengusaha tani) adalah profesi yang sangat keren, berharga, dan menguntungkan secara finansial.
- Edukasi dan Penegakan Hukum Terhadap Judi Online: Masyarakat desa dan keluarga harus bergerak bersama memutus rantai kecanduan judi siber dan gim berlebihan. Mengembalikan budaya literasi keuangan, etika kerja keras, serta pemanfaatan gawai untuk hal-hal produktif adalah syarat mutlak untuk menyelamatkan mentalitas generasi mendatang.
- Dukungan Kebijakan dan Kepastian Lahan dari Pemerintah: Kepastian harga jual hasil panen, akses modal usaha tani muda, serta perlindungan lahan pertanian abadi harus dijamin secara tegas oleh negara agar generasi muda memiliki kepastian masa depan saat terjun ke dunia pertanian.
Baca Juga : Menggugat Krisis Adab di Negeri yang Katanya Santun
Menggugah Nurani Generasi Penerus
Tataplah tangan ayah, ibu, atau kakekmu yang kini masih setia memegang cangkul di bawah terik matahari. Garis-garis hitam di tapak tangan mereka dan peluh yang menetes ke atas tanah adalah alasan utama mengapa piring makanmu masih terisi nasi setiap hari.
Judi online dan gim di dalam layar gawai tidak akan pernah bisa menghasilkan satu butir pun beras untuk mengenyangkan perutmu saat lapar tiba. Ilusi maya tidak akan pernah bisa menggantikan kehidupan nyata.
Jangan biarkan warisan tanah luhur ini mati bersama berpulangnya para petani tua. Mari memadamkan layar semu, memulihkan mentalitas yang rusak, dan melangkah kembali ke pematang sawah dengan kepala tegak. Peganglah teknologi dengan tangan kananmu untuk memodernisasi pertanian, dan peganglah tanah dengan tangan kirimu untuk merawat kehidupan. Sebab, jika bukan kita yang menjadi penerus tanah agraris ini, lantas kepada siapa lagi masa depan pangan Nusantara akan kita titipkan?
