Laga Tanpa Raga
Oleh : Ariq Bratasena Adhinata
Kita sering membayangkan perang sebagai gemuruh meriam, deru jet tempur, atau genangan darah di parit pertempuran. Namun, sadarkah Anda bahwa saat ini Nusantara sedang berada di tengah-tengah medan laga yang jauh lebih mematikan? Sebuah perang yang tidak mengincar raga, melainkan jiwa. Tidak meremukkan tulang, melainkan merusak akal sehat.
Perang informasi dengan persenjataan siber telah dimulai. Celakanya, mayoritas dari kita masih terlelap, menganggap riak-riak di layar gawai hanyalah hiburan pengisi waktu luang. Padahal, getarannya sedang meruntuhkan sendi-sendi peradaban yang telah dijaga ribuan tahun oleh para leluhur.
Ramalan Jayabaya dan Isyarat “Zaman Edan” dalam Serat Kalatidha
Jika kita membedah khazanah spiritual dan kajian budaya Nusantara, realitas kelam hari ini sebenarnya bukan hal baru. Para resi, pujangga, dan leluhur kita telah meninggalkan peta peringatan (early warning system) yang sangat akurat.
Jauh sebelum algoritma media sosial diciptakan di Silicon Valley, Ronggowarsito, seorang pujangga besar dari Kasunanan Surakarta, telah menuliskan sebuah episteme kebudayaan yang sangat masyhur dalam Serat Kalatidha:
“Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi. Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasannipun.”
Artinya: “Mengalami zaman gila, hidup dalam keraguan. Ikut gila tidak tahan, tetapi jika tidak mengikuti, tidak kebagian apa-apa, akhirnya malah kelaparan.”
Di era digital, “Zaman Edan” ini mewujud sempurna. Persenjataan siber tidak lagi sekadar berupa malware yang merusak sistem komputer, melainkan manipulasi informasi yang terstruktur. Ketika hoaks, deepfake, dan kampanye hitam diamplifikasi oleh jutaan botnet, kebenaran menjadi sesuatu yang kabur. Manusia modern dipaksa ikut “gila” ikut membagikan kemarahan, ikut memercayai fitnah, dan ikut menghujat sesama hanya demi validasi digital atau agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Tidak hanya Ronggowarsito, Prabu Jayabaya dalam kitab ramalannya (Jangka Jayabaya) juga pernah me wangsitkan yang kini terasa sangat merinding jika direfleksikan:
“Akeh manungsa mung mentingke awake dhewe… Wong bener ketenger, wong salah bungah-bungah. Jagad bakal rusak nalika akal wis dimalik.”
Artinya: “Banyak manusia hanya mementingkan diri sendiri… Orang benar tersingkir, orang salah bersukaria. Dunia akan rusak ketika akal sehat telah dibalikkan.”
“Akal sing dimalik” (akal yang dibalikkan) adalah definisi terbaik untuk korban perang informasi siber. Hari ini, melalui gawai di genggaman, persepsi kita disetir. Yang buruk dicitrakan bak pahlawan melalui manipulasi algoritma, sementara yang tulus disingkirkan lewat pembunuhan karakter (cyber-lynching).
Anatomi Divide et Impera Versi Digital: Mengadu Domba Lewat Layar
Jika VOC dahulu membutuhkan ribuan serdadu dan taktik politik licik untuk memecah belah kerajaan-kerajaan di Nusantara, aktor perang informasi siber hari ini hanya membutuhkan segelintir server, pasukan akun palsu (botnet), dan pemahaman mendalam tentang psikologi massa. Taktik Divide et Impera (pecah belah dan kuasai) telah berevolusi menjadi senjata digital yang bekerja 24 jam sehari di media sosial kita.
Bagaimana taktik kolonial kuno ini bekerja di era modern?
- Pemanfaatan Echo Chamber (Ruang Gema): Algoritma media sosial dirancang untuk hanya menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi atau kemarahan kita. Ini menciptakan “ruang gema” di mana kelompok masyarakat yang berbeda dikelompokkan secara terpisah, dibuat merasa paling benar, dan perlahan-lahan dipupuk untuk membenci kelompok lain yang berbeda pandangan.
- Ternak Buzzing dan Akun Kloning: Sentimen publik sengaja direkayasa. Aktor siber mengerahkan ratusan ribu akun palsu untuk membanjiri kolom komentar. Jika ada narasi perdamaian atau persatuan, pasukan digital ini akan segera menyerangnya dengan narasi kebencian hingga diskusi yang sehat menjadi mustahil dilakukan.
- Senjata Polarisasi Berbasis Algoritma Amarah: Konten yang memicu amarah, kebencian, dan kontroversi adalah komoditas yang paling cepat viral. Aktor perang informasi dengan sengaja memotong video, memelintir ucapan tokoh agama atau adat, lalu menyebarkannya dengan judul-judul provokatif. Akibatnya, isu sensitif seperti suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dengan mudah membakar emosi publik dalam hitungan detik.
Melalui Divide et Impera versi digital ini, kita dibuat saling mencurigai. Saudara sebangsa saling serang di kolom komentar, sementara para dalang di balik layar tertawa melihat fondasi persatuan Nusantara perlahan-lahan retak.
Genosida Adat, Budaya, dan Sejarah
Banyak yang mengira kerugian perang siber hanya berkutat pada sektor ekonomi atau politik praktis. Itu keliru. Dampak terdalam dan paling mengerikan dari perang informasi ini adalah pengikisan perlahan (erosi) identitas kultural Nusantara.
Nusantara tegak berdiri di atas pilar-pilar kearifan lokal seperti gotong royong, musyawarah, tepo seliro (tenggang rasa), dan penghormatan pada sejarah. Senjata siber bekerja seperti racun yang tidak berbau, menyusup ke ruang-ruang privat kita dan menghancurkan pilar-pilar tersebut dari dalam:
- Runtuhnya Adat Ketimuran: Ruang digital kita hari ini dipenuhi oleh caci maki. Budaya tabayyun (mengonfirmasi kebenaran) telah digantikan oleh budaya viralitas. Kita menjadi bangsa yang sumbu pendek, mudah diprovokasi oleh potongan video manipulatif yang sengaja disebarkan aktor intelektual asing atau domestik demi kepentingan memecah belah.
- Amputasi Sejarah (Ahistoris): Perang informasi sengaja memutus generasi muda dari akar sejarahnya. Narasi-narasi sejarah lokal dikaburkan atau diganti dengan ideologi luar yang radikal dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Ketika sebuah bangsa kehilangan memori kolektif sejarahnya, bangsa itu akan sangat mudah dijajah kembali tanpa perlu ada satu pun peluru yang ditembakkan.
- Komodifikasi Budaya: Nilai-nilai sakral tradisi diruntuhkan demi konten. Sesuatu dinilai bukan lagi dari kedalaman maknanya, melainkan dari berapa banyak views dan likes yang dihasilkan.
Mengapa Kita Harus Terbangun?
Artikel ini ditulis bukan untuk menyebarkan ketakutan, melainkan sebagai lentera pengingat di tengah kegelapan. Kita harus menyadari bahwa saat kita sedang asyik menggulirkan layar (scrolling) demi hiburan, di balik layar tersebut ada algoritma yang sedang memetakan psikologis kita. Ada aktor siber yang sedang merancang narasi untuk membuat kita membenci saudara sebangsa sendiri.
Kerugian terbesar kita bukanlah jatuhnya nilai mata uang atau lumpuhnya situs pemerintah akibat diretas. Kerugian terbesar kita adalah ketika kita kehilangan jati diri sebagai manusia Nusantara. Ketika kita tidak lagi mengenal siapa leluhur kita, ketika kita saling curiga dengan tetangga, dan ketika kita menyerahkan kendali pikiran kita pada mesin. Jangan sampai ramalan purba tentang “Nusantara ilang jarine” (Nusantara kehilangan jati dirinya) benar-benar menjadi kenyataan yang absolut.
Baca Juga : Luka di Ujung Jari: Ketika Candu Membunuh Adab Leluhur dan Mengikis Jiwa Nusantara
Cara Kita Bertahan dan Melawan
Lantas, bagaimana kita bisa bertahan di tengah gempuran perang informasi siber ini? Kita tidak bisa mundur dari teknologi, namun kita bisa menggunakan kearifan masa lalu sebagai tameng masa depan.
- Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake (Berperang Tanpa Pasukan, Menang Tanpa Merendahkan): Jadikan ruang digital sebagai panggung untuk menyebarkan kedamaian dan literasi, bukan arena caci maki. Jangan biarkan jempol kita menjadi kepanjangan tangan dari senjata siber musuh.
- Aktifkan “Eling lan Waspada” (Ingat dan Waspada): Setiap kali menerima informasi yang memicu emosi atau amarah, berhentilah sejenak. Ingat pesan leluhur untuk selalu menyaring sebelum membagikan (saring sebelum sharing). Ketajaman intuisi batin (raso) harus lebih kuat daripada umpan algoritma.
- Restorasi Budaya Digital: Penuhi ruang siber dengan konten-konten sejarah, filsafat Nusantara, adat, dan kebudayaan yang luhur. Kita harus merebut kembali ruang informasi dari para perusak peradaban. Jika ruang digital dipenuhi oleh keindahan budaya kita, maka narasi perpecahan tidak akan mendapat tempat untuk tumbuh.
Perang ini nyata. Senjatanya tak terlihat, namun lukanya merobek dada bangsa. Mari terbangun dari tidur panjang. Rebut kembali kedaulatan pikiran kita, demi menjaga keutuhan tanah surga bernama Nusantara.
