Oleh : Ariq Bratasena Adhinata
Di bawah naungan langit senja Nusantara, draf-draf cerita tentang kearifan lokal sering kali bertarung sengit dengan sunyi yang kian pekat di ruang-ruang keluarga. Zaman telah bergeser, dari balai desa yang riuh dengan gelak tawa anak-anak bermain gasing dan congklak, kini beralih ke kamar-kamar tertutup yang memantulkan cahaya biru layar gawai.
Kita sedang menyaksikan sebuah pergeseran kultural yang sunyi namun mematikan. Hiburan digital, yang awalnya diciptakan untuk melepas penat, kini bermutasi menjadi candu destruktif merusak generasi muda hingga merangsek ke ruang paling sakral dalam struktur sosial kita, seorang ibu rumah tangga yang terjerat judi slot, dan anak-anak yang kehilangan adab di tangan game online.
Ketika anak-anak membangkang pada orang tua dan para ibu tenggelam dalam pusaran digital, saat itulah fondasi kebudayaan Nusantara runtuh. Dan di balik runtuhnya dinding-dinding rumah tangga ini, ada satu pertanyaan besar yang mengiris hati “kemana negara saat warganya digerogoti oleh racun digital ini?“
Retaknya Puser Bumi Keluarga: Nestapa Ratih dan Suara Hati yang Disia-siakan
Bayangkan sebuah rumah panggung berkerangka kayu di sudut pedesaan Jawa, tempat aroma dupa tipis dan wangi masakan rumahan seharusnya menyatu dalam kehangatan. Di situlah Ratih (nama samaran) duduk terpaku. Matanya sayu, menatap nanar pada layar ponsel yang menyala terang di tengah temaram malam.
Dulu, Ratih adalah lambang kelembutan seorang Ibu dan istri yang menyejukkan. Namun, kini dunia Ratih telah menyempit menjadi sebatas layar digital. Bermula dari keisengannya mengisi waktu luang, perjalanannya bergeser ke jurang yang lebih curam game online berbalut transaksi mikro hingga terseret ke dalam lubang hitam judi slot berkedok permainan yang menjanjikan kekayaan instan.
Malam itu, puncak kepedihan menohok dada suaminya seorang buruh tani yang pulang dengan punggung basah oleh peluh dan tangan kasar penuh kerja keras. Melihat istrinya tak bergeming selama berjam-jam menatap ponsel , sang suami mendekat dengan suara bergetar penuh rasa sabar. Ia menegur Ratih secara baik-baik, meminta sang istri untuk berhenti sejenak, menutup aplikasi permainan itu, dan kembali merajut kehangatan keluarga.
Namun, apa yang didapat sang suami? Ratih, yang pikirannya telah diracuni oleh dopamin instan dan halusinasi kemenangan semu, justru tersentak murka. Matanya melotot tajam penuh kebencian karena permainannya terganggu di tengah jalan. Tanpa rasa iba, ia melontarkan kata-kata tajam yang mengiris hati suaminya, menepis tangan sang suami yang hendak merengkuh pundaknya, dan membentak dengan kalimat yang merendahkan kerja keras lelaki tersebut.
Di detik itu, bukan hanya sekadar hubungan suami istri yang terkoyak, melainkan nilai luhur kesetiaan dan kelembutan seorang Puser Bumi, pusat ketenangan rumah tangga musnah seketika di hadapan layar ponsel.
Ironisnya, badai kehancuran ini tidak berhenti pada sang ibu. Di kamar sebelah, sang buah hati sebut saja Bayu, anak laki-lakinya yang baru berusia belasan tahun tengah meronta dan berteriak murka karena sambungan internetnya terputus. Bayu tumbuh tanpa batas, terlelap dalam dunia game kompetitif yang mengajarkan egoisme dan kekerasan. Suatu sore, ketika sang kakek menegurnya untuk mematikan ponsel demi membantu pekerjaan rumah, Bayu justru membentak keras, menatap sang kakek dengan mata penuh permusuhan, lalu membanting pintu kamar. Adab dan unggah-ungguh luluh lantak seketika.
Di Mana Negara Saat Rakyat Dipeluk Maya?
Kita kerap disuguhi slogan-slogan megah tentang “Indonesia Emas” dan digitalisasi bangsa. Namun, di balik panggung kemilau teknologi itu, negara seolah memilih rabun jauh.
Apa yang sebenarnya sudah pemerintah lakukan ketika jutaan keluarga miskin di kampung-kampung dan perkotaan digempur habis-habisan oleh iklan judi online yang bertebaran di setiap sudut internet? Situs-situs judi berkedok game melenggang bebas, berganti nama ribuan kali setelah diblokir secara simbolis dan setengah hati, sementara anak-anak bangsa dibiarkan mentah dalam kecanduan algoritma.
Pemangku kekuasaan kerap sibuk memikirkan pencitraan pertumbuhan ekonomi digital dan retorika kosong, lupa bahwa ada fondasi moral bangsa yang sedang keropos dari dalam. Regulasi yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah pada bandar-bandar judi digital, serta minimnya literasi mental yang menyentuh akar rumput menunjukkan satu hal negara sering kali hadir sebagai penonton, atau lebih buruk lagi, pembiar pasif atas kehancuran sosial ini.
Ketika seorang ibu tega menyakiti hati suaminya demi sebuah aplikasi slot dan anak-anak kehilangan rasa hormat pada orang tuanya, di situlah kegagalan kolektif negara dalam melindungi akal budi rakyatnya terpampang nyata.
Rusaknya Kultur, Hilangnya Rasa Malu, dan Runtuhnya Adab
Kisah Ratih dan keluarganya bukanlah sekadar drama privat. Ini adalah alarm darurat bagi kebudayaan Nusantara yang secara turun-temurun menjunjung tinggi rasa hormat, kebersamaan, dan kepekaan sosial.
- Degradasi Adab dan Tata Krama (Hilangnya Rasa Santun): Anak-anak yang terpapar candu game ekstrem mengalami dopamine overload. Ketika gawai diambil, mereka menjelma menjadi pribadi yang mudah marah (temper tantrum), membangkang, bahkan kehilangan rasa hormat (takzim) kepada orang tua dan guru. Istilah-istilah kasar menjadi bahasa sehari-hari.
- Putusnya Transmisi Nilai (The Broken Transmission): Ibu dan rumah seharusnya menjadi madrasah pertama. Ketika ibu teradiksi judi online hingga tega melukai perasaan suami, dan anak terkurung dalam dunia game, ruang dialog intergenerasi mati. Tidak ada lagi cerita pengantar tidur, tidak ada lagi petuah bijak yang diturunkan dari leluhur.
- Komersialisasi Jiwa dan Mental Instan: Baik slot online maupun game berbayar merusak nalar produktivitas. Mereka tumbuh dengan mentalitas mengharapkan hasil instan tanpa keringat, mengabaikan esensi kerja keras yang menjadi DNA bangsa Nusantara.
Petuah Leluhur: Mengembalikan Jati Diri Lewat Adab Nusantara
Jika kita mau menepi sejenak dari kebisingan modernitas, kakek dan nenek moyang kita sebetulnya telah mewariskan kompas moral yang sangat tangguh untuk menangkal badai disrupsi ini.
Para sesepuh kita dulu sering berpesan melalui falsafah hidup yang sarat makna:
“Bumi tak selebar daun kelor, urip iku mung mampir ngombe. Ajining diri ana ing lathi, ajining sarira ana ing busana dan adab.” (Hidup itu singkat, dan kehormatan seseorang terletak pada perkataan, perbuatan, serta adab budi pekertinya.)
Kakek-kakek kita mengajarkan bahwa hidup harus dilandasi oleh wewarah pedoman luhur agar manusia tidak kehilangan kendali atas hawa nafsunya. Keluarga adalah sanri tempat menanam kasih sayang. Ketika candu digital merusak keharmonisan dan memadamkan rasa hormat, manusia sedang mencederai warisan mulia yang dijaga turun-temurun dengan keringat dan air mata para leluhur.
Baca Juga : Merawat Remah-Remah Adab: Ketika Jati Diri Nusantara Diuji di Era Tanpa Batas
Langkah Nyata Mengantisipasi Candu Digital
Menatap masa depan kebudayaan Nusantara yang bermartabat menuntut langkah kolektif yang tegas dan penuh kasih:
- Revitalisasi Ruang Keluarga Tanpa Gawai: Terapkan aturan tegas mengenai digital detox di dalam rumah, terutama saat jam-jam makan malam dan menjelang malam. Hidupkan kembali tradisi bercerita dan berdialog dari hati ke hati.
- Pemulihan Holistik bagi Keluarga Korban Candu: Memandang korban candu game dan judi online bukan sebagai pihak yang harus dikucilkan, melainkan sebagai jiwa-jiwa yang sedang sakit dan membutuhkan pendekatan psikologis serta spiritual yang hangat.
- Tanggung Jawab Nyata Negara: Pemerintah wajib membersihkan ruang digital dari ekosistem judi online secara total, menghukum tegas para bandar, serta mengarahkan kebijakan pendidikan pada penguatan karakter dan kebudayaan lokal.
Menjaga Warisan Luhur Bangsa
Nusantara tidak dibangun di atas fondasi layar kaca dan tombol spin, melainkan di atas keringat, kebersamaan, rasa hormat, dan ketulusan jiwa para ibu serta penjaga tradisi. Sudah saatnya kita merenung, meletakkan gawai di tempat yang semestinya, dan kembali mendidik keluarga kita dengan sentuhan adab ketimuran. Jangan biarkan peradaban agung ini runtuh hanya karena kita kalah melawan maya, dan karena negara terlambat menyelamatkan jiwa-jiwa di dalamnya.
