HOLIS: “ABDI TI KAMPUNG…TI LEUWEUNG….”
By Isfandiari MD
….Dalam Indonesia dibilang,”Saya dari kampung, saya dari hutan (lebih dalam dari kampung-) kata Holis, klarifikasi terkait netizen yang jengkel dirasa kurang sopan pada Dedi Mulyadi Gubernur Jabar. Kisahnya cukup rame, pedagang telur desa Pangalih Garut ini protes ke kepala desanya atas jalan rusak. Singkat cerita, ia ribut dengan keluarga kades dan dimediasi Kang Dedi.Beruntung bisa bertemu dan diberi tambahan modal 5 juta rupiah. Holis dinilai tidak sopan. Posisi duduk seenaknya malah ‘berani’ menghitung uang pemberian saat Gubernur bicara. Momen yang menuai kehebohan: “Abdi (saya-red) grogi” katanya membela diri…..
Tiga hal membuat gundah. Pertama grogi, kedua dari kampung dan ketiga, dramatisasi, dari leuweung alias hutan yang kurang lebihnya jauh merangsek ke dalam lewat sebatas kampung. Itulah masalahnya. Grogi, tentu manusiasi, warga awam bertemu pejabat kebanyakan grogi, salah tingkah, kagok, senewen. Tapi alasan karena dari kampung-leuweung justru jadi masalah.
Realitanya, warga kampung Sunda lebih sopan dan beradab. Ini fakta! Pengalaman pribadi saat sowan, pelesir masuk pedalaman, warganya mayoritas halus, menjaga adab sopan-santun, sangat alami dalam bergaul atas adab-etika natural melebihi orang ‘modern’ penghuni kota. Juga tak tak relevan dengan pendidikan tinggi, ekonomi mapan yang katanya mayoritas hidup di kota. Warga kampung masih ajeg menjaga warisan leluhur, soal tatakrama, bahasa berstrata,sikap hormat dan paling terasa: keramahan yang dalam bahasa sunda:someah.
Telah diwariskan kontrol sosial dari sudut pandang antropologis. Ada aturan tak tertulis dan natural diterapkan dalam semua generasi. Norma mengatur prilaku, meminimalisir konflik, menjaga keharmonisan, rendah hati yang jadi karakter khas masyarakat Sunda. Makin adiluhung, terdapat naskah kuno seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian (tahun 1518 M) berisi pandangan hidup dan etika orang Sunda kuno. Isinya memaktub wawasan tentang larangan (pamali) juga pedoman moral yang diyakini masyarakat kala itu. Apa boleh buat, dalam praktek keseharian semuanya lebih terasa di kampung-kampung sampai zona yang dihuni orang leuweung.
Masalah rasa muncul. Istilah kampung (bukan dalam arti zona), lebih ‘viral—nya kampungan, berkonotasi buruk. Menjadi notoriuous, beken karena kejelekan membidik orang kampung atau isitilah lain ndeso (desa). Sampai-sampai wajah yang dirasa kurang elok secara estetika subjektif disitilahkan wajah kampung atau ndeso. Soal prilaku juga sama, jika ada geliat kurang elok, langsung dicap-kampungan-. Adab tak sopan dan gak keren, dicap ndeso. Parahnya jadi permakluman. Seseorang yang merasa kurang adab bisa ngeles: maklum saya dari kampung! Jadi pembelajaran berharga, orang yang tinggal di kampung jarang protes. Memaki orang dengan kampungan, tak membuat orang kampung gerah dan menuntut ‘pencemaran nama baik’ Mereka nrimo, santai dan bergeming dalam sikap tenang. Itulah hebatnya. Nasehat leluhur untuk selalu prioritaskan keharmonisan antarmanusia ditaati walau hati panas.
Jadi kang Holis, saat klarifikasi soal adab cukup perbaiki karakter dan berbenah diri. Sama-sama instropeksi bahwa semua hal bisa diperbaiki. Tidak sertamerta dan enteng bilang: Maklum saya orang kampung…. Maklum saya orang leuweung.
Jangan lagi ya!

