Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, hadir sosok kiai muda yang mencoba menghadirkan wajah pesantren dengan cara yang dekat dengan zaman. H. Fitrah Dani, yang akrab disapa Kang Ji Boim, adalah sosok yang memadukan kehidupan pesantren, kepemudaan, persaudaraan dan kecintaannya kepada tanah air dalam sebuah perjalanan hidup yang penuh khidmat.
Sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Darul Huffadz, Kang Ji Boim tidak hanya berkutat di ruang pengajian, kitab dan mimbar. Ia juga memilih untuk menyapa dunia anak muda dengan bahasa mereka: persahabatan, komunitas, perjalanan dan touring.
Bagi Kang Ji Boim, touring bukan sekadar perjalanan mengendarai kendaraan dari satu tempat ke tempat lain. Touring adalah perjalanan silaturahmi. Ada persaudaraan yang dibangun di atas jalan, ada perbedaan yang dipertemukan, ada pengalaman yang dibagikan, dan ada nilai-nilai kebaikan yang dibawa pulang.

Baginya, jalan raya adalah ruang belajar. Di sana seseorang belajar menghargai sesama pengguna jalan, belajar bersabar, belajar mengendalikan ego, belajar saling membantu ketika ada kawan yang mengalami kesulitan, dan belajar bahwa perjalanan akan terasa lebih bermakna ketika dilakukan bersama-sama.
Islam yang Mengajarkan Kedamaian
Dalam setiap langkahnya, Kang Ji Boim berusaha membawa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Islam yang tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Allah SWT berfirman:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama…”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan sikap baik, adil dan saling menghormati.
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Berbeda pilihan, berbeda latar belakang, berbeda komunitas, bahkan berbeda cara pandang. Namun perbedaan itu tidak harus menjadi tembok pemisah.
Justru melalui silaturahmi, manusia belajar mengenal satu sama lain.
Allah SWT juga mengingatkan:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Maka bagi Kang Ji Boim, touring adalah salah satu cara untuk saling mengenal.
Bertemu dengan berbagai karakter manusia, berbagai komunitas dan berbagai latar belakang membuat perjalanan menjadi semakin kaya. Motor boleh berbeda, komunitas boleh berbeda, usia boleh berbeda, tetapi persaudaraan tetap bisa dipertemukan dalam satu semangat: saling menghormati dan saling menghargai.

Cinta Tanah Air, Bagian dari Syukur
Kecintaan kepada tanah air juga menjadi bagian dari perjalanan Kang Ji Boim.
Menjelajahi jalan-jalan Indonesia, menikmati keindahan alam, bertemu masyarakat dari berbagai daerah dan menyaksikan keberagaman Nusantara menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah rumah besar yang harus dijaga bersama.
Cinta tanah air bukan hanya tentang mengibarkan bendera atau mengucapkan kata-kata nasionalisme. Cinta tanah air juga dapat diwujudkan dengan menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, menjaga lingkungan, tertib di jalan, membantu sesama dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai…”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Pesan persatuan ini sangat relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia yang penuh keberagaman.
Bagi Kang Ji Boim, Indonesia adalah perjalanan panjang yang harus ditempuh bersama. Bukan dengan saling menjatuhkan, tetapi dengan saling menguatkan.
Pesantren dan Anak Muda
Sebagai pimpinan Pondok Pesantren Darul Huffadz, dunia santri menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Ia percaya bahwa pesantren tidak boleh berjarak dengan generasi muda. Justru pesantren harus hadir di tengah kehidupan mereka, memahami kegelisahan mereka, mendengarkan cita-cita mereka dan memberikan ruang agar energi muda mereka tumbuh menjadi kekuatan yang positif.
Anak muda tidak cukup hanya dinasihati. Mereka juga perlu ditemani.
Mereka membutuhkan figur yang bisa menjadi teladan, sahabat sekaligus pembimbing. Karena itu, Kang Ji Boim berusaha menghadirkan sosok kiai yang tidak hanya berada di balik meja pengajian, tetapi juga mau turun ke lapangan, bercengkerama dengan anak muda, berdiskusi, bersilaturahmi dan berjalan bersama mereka.
Baginya, anak muda bukan masalah. Anak muda adalah potensi.
Jika energi anak muda diarahkan kepada kebaikan, maka ia akan menjadi kekuatan luar biasa bagi agama, bangsa dan masyarakat.
Dari Jalan Raya Menuju Jalan Pengabdian
Pada akhirnya, touring hanyalah sarana.
Yang paling penting bukan seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh, tetapi seberapa banyak persaudaraan yang telah dibangun dan seberapa besar manfaat yang telah diberikan.
Setiap kilometer perjalanan menjadi bagian dari cerita. Setiap persinggahan menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi. Setiap pertemuan menjadi pintu untuk mengenal lebih banyak manusia.

Dan setiap perjalanan pada akhirnya membawa satu pesan:
Hidup bukan sekadar tentang sampai di tujuan, tetapi tentang siapa yang kita temui, siapa yang kita bantu, dan kebaikan apa yang kita tinggalkan sepanjang perjalanan.
Baca Juga : Moonraker MC GITIK YANG LEGENDARIS ITU
Inilah semangat Kang Ji Boim.
Dunia santri.
Dunia anak muda.
Dunia persaudaraan.
Dan dunia khidmat kepada umat.
Empat hal yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ia ingin terus berjalan, bukan untuk mencari popularitas, tetapi untuk menemukan lebih banyak ruang pengabdian.
Karena baginya, menjadi kiai bukan berarti harus jauh dari anak muda, dan menjadi anak muda bukan berarti harus jauh dari nilai-nilai agama.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Di jalan raya ia menemukan persaudaraan.
Di pesantren ia menemukan pengabdian.
Di tengah masyarakat ia menemukan makna kehidupan.
Dan di setiap langkahnya, ia berusaha membawa satu prinsip:
“Berjalan untuk bersilaturahmi, berkendara untuk menikmati perjalanan, dan hidup untuk berkhidmat kepada umat.”
H. Fitrah Dani — Kang Ji Boim
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Huffadz
Menjelajah jalan, merawat persaudaraan, mengabdi untuk umat.
