KH. AS’AD SYAMSUL ARIFIN

“BIANGNYA KYAI…. GODFATHERNYA KYAI…BEHAVE!”

By Isfandiari MD

“Bisa baca Qur’an?”……Mmm… pernah pegang?” – “Pernah Kyai!”… “Bagus..bagus..syukurlah!”…..

Dialog ringan saya dengan Kyai As’ad Syamsul Arifin terjadi di pesantren beliau  Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, awal tahun 80-an, kira-kira 1984 saat saya 13 tahun. Menyesal tak pernah nyantri di pesantrennya, waktu itu hanya sowan sekilas diajak almarhum ayah saya. Diingat-ingat, moment itu Nahdlatul Ulama sedang seru-serunya, topik Kembali Ke Khittah. Beberapa tokoh menyuguhkan topik  tambahan, Khittah Plus. Detail issue keduanya lengkap dan bisa dicari.

          Penggalan dialog itu membekas dalam pikiran. Sebelum sampai pesantrennya, ayah memberi gambaran sosok Kyai As’ad : kharismatik, sangat dihormati semua nahdyinin. “Lu bakal ketemu ‘biangnya’ Kiai, godfathernya Kiai. Jadi jaga adab jangan aneh-aneh. Behave!” pesan ayah. Jadi mohon maklum, sebelum jumpa saya sudah keder duluan. Bayangkan bagaimana sosok mulia, untouchable, agung, berwibawa. Sempat terpikir tak ikut rombongan, pisahkan diri, nunggu di mobil atau nongkrong di sudut pesantren hang out dengan santri-santri. Tapi ada daya, ayah menuntun saya, melenggang dari parkiran ke rumah Kyai As’ad, letaknya persis di tengah pesantren, memotong zona santri putra dan putri.

Alhamdulillah usia 13 tahun sempat bertemu Kyai As’ad Syamsul Arifin di Situbondo
Diajak ayahanda, Mahbub Djunaidi, NU Tulen profesi wartawan

Saat jumpa, ayah mencium tangan Kyai As’ad, sayapun turut. First impression diluar dugaan. Bayangan sosok kyai kaku, menjaga kharisma dan untouchable sirna. Walau bertemu bocah tanggung, gesture dan sorot matanya hangat, tidak berjarak membuat saya nyaman dan sulit digambarkan. Itulah sapaan awal beliau,”bisa baca qur’an?” Saya cari aman aja, “sedikit kyai” Beliau lanjut bertanya,”Pernah pegang Qur’an?” Saya pede menjawab “Pernah” Mimik wajahnya gembira, “Syukurlah!” senyumnya hadir  dan itu menjadi moment tak terlupakan. Kesan saya beliau rendah hati, pakaiannya sederhana sekali tak ada simbol kemewahan yang tampak. Sikapnya ini malah membawa kesan lebih dalam lagi atas kemuliaan, keagungan, adab luarbiasa melebihi ilmu.

          Oh ya, ayah saya itu Mahbub Djunaidi, warga NU tulen, profesinya penulis. Baginya, Kyai As’ad adalah idola, malah secara pribadi, dianggapnya ayah sendiri. Hubungan mereka saya nilai akrab, intermezzo diskusi serius soal NU terselip candaan yang kadang ‘waktu itu’ saya nilai  kurang sopan. Tapi saya sering maklum, ayah saya betawi tulen, lansiran Tanah Abang yang sohor sebagai Betawi Pasar, karakternya slebor, asal jeplak tanpa filter. Tapi saya perhatikan Kyai cukup menikmati dan merasa santai dalam suasana informal. Kami pernah  pernah jalan bareng   ke Bali pakai Mitsubishi L300 milik pesantren. Rencana awal mengunjungi pesantren-pesantren di pulau itu, entah kenapa Kyai ikut usulan ‘nakal’ Mahbub untuk melepas penat parkir di pantai Kuta. Banyak moment lucu di perjalanan ini, semuanya kami nikmati sebagai nostalgia yang indah. Terlepas semua itu, sejatinya ayah  fans berat Kyai As’ad,  salah satu kekagumannya tertuang  dalam tulisannya di TEMPO, No. 48, Tahun XV, 25 Januari 1986 ,ijin menguraikan point pentingnya:

Ada seorang kiai daerah pesisir mondar-mandir berjalan di atas pasir, diikuti bocah-bocah tiada berbaju, tulang iganya menganga diterkam mentari, kulitnya lusuh seperti bengkarung, miskin kumuh tiada tara. Sepanjang jalan sang kiai memikirkan ihwal ikan. Kiai itu bisa mengerti apa sebab pukat harimau dilarang, karena toh mereka itu biasanya maling-maling belaka, menguras habis isi laut hingga tak kebagian lagi nelayan awak. Tapi kiai ini juga maklum, tanpa pengetahuan cukup seperti nelayan mancanegara itu mustahil ikan dapat tertangkap dalam jumlah yang padan. Tanpa keterampilan yang cukup, nelayan awak hanya sanggup menangguk ikan satu keranjang sesudah sehari suntuk menggapai-gapai di atas perahu. Melarang pukat harimau itu bagus, tapi mengajar nelayan awak berbuat seperti mereka lebih bagus.

Dengan beban kemuskilan itu di kepala, sang kiai bertolak Jakarta, jumpai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di suatu hari yang terang-benderang. Berbaju putih bersandal jepit, kiai itu berkata kepada bapak pejabat, saya ini punya pesantren dihuni anak-anak nelayan yang miskin harta dan miskin ilmu, apa Bapak bisa menolong saya bilamana saya kepingin dirikan sekolah nelayan di dalam pesantren? Gedung ala kadarnya saya sudah punya, yang perlu Bapak tolong adalah sepucuk surat pengakuan sekolah, guru-guru yang bisa mengajar ilmu menangkap ikan modern, dan ilmu ihwal kapal serta gelombang. Saya mohon maaf jika saya mengusik Bapak tapi tentu Bapak sepaham dengan saya betapa perlunya sekolah macam begitu itu. Apa Bapak tega melihat anak-anak nelayan ini tetap miskin seperti ibu-bapaknya, jadi orang maritim yang tak tahu cara menangkap ikan dalam jumlah cukup, tak tahu rahasia kebun samudra yang penuh misteri?

Pembicaraan berlangsung lancar dan menyenangkan. Sesudah itu sang ide harus berkenalan dengan belukar birokrasi yang melelahkan. Dan sementara persoalan belum terpecahkan, kiai kita meneruskan mondar-mandirnya di atas pasir, juga diikuti bocah-bocah nelayan, menunggu bapaknya turun dari laut dengan biduk kecil seraya menenteng seikat ikan, cukup buat makan sehari semalam tapi tidak cukup untuk menambal bilik rumah yang rombeng. Anak-anak ini tidak bisa dibiarkan sama dengan orangtuanya. Mereka mesti memandang lautan dengan sinar mata yang baru, membawa pulang berton-ton ikan yang sehat, mencegah binatang itu mati tua karena tak ada tangan yang kuasa menangkapnya, mengenal kehidupan jauh di dasar sana. Ringkas kata, bagaimana mereka kembali ke khittah bahari, cari makan di atas dan di bawah ombak, di antara karang dan jeram. Kiai pesisir itu bernama As’ad Syamsul Arifin.-Mahbub Djunaidi-

          Alfatihah teruntuk Kyai As’ad Syamsul Arifin juga ayahanda Mahbub djunaidi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *