Oleh : Fahmi Arif El Muniry, Mantan Aktifis PMII Cabang Ciputat. Aggota LSBPI MUI Pusat.
Setiap 1 Oktober, kita mengenang Mahbub Djunaidi, yang meninggal dunia dan dimakamkan di Bandung pada 1 Oktober 1995. Tiga puluh satu tahun telah berlalu. Waktu memang pandai membawa pergi manusia, tetapi rupanya kurang pandai menghapus kalimat. Mahbub masih tinggal dalam kolom, satire, humor, dan buku-buku yang menunggu dibuka kembali.Nama Mahbub lebih sering dilekatkan pada dunia jurnalistik dan pergerakan. Ia dikenal sebagai wartawan, aktivis Nahdlatul Ulama, dan ketua pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Namun, di balik reputasi itu, ada sisi lain yang tak boleh luput dari ingatan; Mahbub adalah sastrawan. Ia menulis bukan sekadar untuk memberitakan kenyataan, melainkan mengolahnya menjadi cerita, menghadirkan tokoh, menyusun ironi, dan menertawakan kehidupan tanpa kehilangan keberpihakan kepada manusia.Barangkali, inilah keistimewaan Mahbub.
Ia seperti sastrawan yang menyamar menjadi wartawan. Ia masuk ke ruang redaksi, mengamati tingkah polah manusia, lalu menyelundupkan sastra ke dalam berita dan kolom. Ia tidak selalu membutuhkan kalimat megah untuk menyampaikan gagasan besar. Terkadang, cukup sebuah kelakar atau sindiran yang membuat pembaca tertawa sebelum menyadari bahwa dirinya sedang diajak berpikir.Sastra di Balik KelakarSalah satu pintu penting untuk mengenal Mahbub sebagai sastrawan adalah novelnya, Dari Hari ke Hari (Dunia Pustaka Jaya, 1975). Karya ini meraih penghargaan dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1974. Latar revolusi dan pengalaman sebuah keluarga menjadi bagian penting kisahnya.
Sejarah tidak sekadar hadir sebagai deretan peristiwa besar, tetapi juga sebagai pengalaman manusia biasa yang menghadapi perpindahan, ketidakpastian, dan perubahan nasib.Di tangan Mahbub, sejarah tidak berdiri kaku seperti patung di halaman museum. Ia bergerak melalui kehidupan sehari-hari. Peristiwa besar memasuki rumah, menyentuh keluarga, dan mengubah cara orang menjalani hidup. Di situlah sastra bekerja, membuat sejarah terasa dekat, bukan hanya sebagai urusan pemimpin dan pemegang senjata, melainkan juga pengalaman orang-orang yang namanya mungkin tak tercatat dalam buku pelajaran.Karya lainnya, Angin Musim (Inti Idayu Press, 1985), memperlihatkan keliaran imajinasi dan keberanian satire Mahbub. Tokoh utamanya seekor kucing pasar yang dibawa ke penjara politik. Melalui sudut pandang yang tidak lazim, pembaca memasuki dunia manusia yang penuh kepentingan, kekuasaan, dan absurditas. Kucing menjadi saksi yang memungkinkan Mahbub memandang kehidupan politik dari jarak tertentu; cukup dekat untuk melihat tingkah manusia, tetapi cukup jauh untuk menertawakannya.Pilihan menghadirkan seekor kucing bukan sekadar permainan.
Baca Juga : Abdoelkarim bin Moehamad Soetan a.k.a Abdoel’Ixarim M.S
Di sana terdapat cara Mahbub membongkar keseriusan yang sering dibuat-buat manusia. Kekuasaan dan pertarungan politik dapat terlihat agung dari kejauhan, tetapi menjadi ganjil ketika diamati dari sudut pandang makhluk yang tidak memahami ambisi manusia. Satire Mahbub tidak selalu berteriak. Ia membuat pembaca melihat betapa lucunya sesuatu yang selama ini dianggap wajar.Kecenderungan itu juga terasa dalam Asal Usul (IRCiSoD, 2018). Mahbub mampu mengolah hal remeh menjadi bahan renungan. Ia bisa memulai tulisan dari sesuatu yang tampak sepele, kemudian membawa pembaca menuju persoalan sosial yang lebih luas. Humor bukan hiasan di pinggir gagasan, melainkan jalan masuk menuju kritik.

Tentang Penulis
Fahmi Arif El Muniry adalah seorang penulis esai, kolom opini, dan ASN di Direktorat Pendidikan Pesantren Kementerian Agama RI.
Sebagai pemikir yang tumbuh dari tradisi pesantren, ia aktif menulis bertema ekosistem pesantren, khazanah kitab kuning, ekoteologi, dan kebijakan publik keagamaan. Selain menjadi salah satu penulis di gasride.net beliau juga berkontribusi di portal resmi Kementerian Agama, ia juga merupakan Tim Penulis Ensiklopedi Kitab Kuning Kemenag dan rutin melansir tulisan di media keislaman seperti Islami.co serta Arina.id.
