CINTA TAN MALAKA YANG BERTEPUK SEBELAH TANGAN
By Isfandiari MD

Takdir berjalan misterius! Syarifah Nawawi dan Tan Malaka, harusnya pasangan ideal. Keduanya sama-sama murid Sekolah Raja (Kweekschool) Bukit tinggi, sekolah para penggede juga bangsawan. Tan Malaka bocah cerdas mendekati jenius, Syarifah satu-satunya cewek di sana, pintar, cantik anak guru terhormat Nawawi Soetan Makmoer. Bayangkan! Dia satu-satunya wanita diantara 75 murid pria dan cewek Minang pertama yang mengeyam pendidikan Eropa.
Takdir memisahkan keduanya. Tan Malaka dapat beasiswa ke Belanda sedang Syarifah teruskan pendidikan ke Salemba School Batavia. Asmara membara membuat Tan Malaka kerap bertulis surat namun tak pernah terbalas.Sampai sang wanita pujaan menikah dengan bangsawan Sunda, Bupati Bandung, Wiranatakoesoema V yang juga mentri Dalam Negeri pertama Republik Indonesia. Pasangan ini tak bertahan lama, saat Syarifah pelesir ke kampung halamannya Bukit Tinggi, dia diceraikan lewat telegram. Moment itu viral di jamannya! Koran-koran mengecam, sampai Agus Salim tokoh Minang geram. Ada kabar, wanita Minang ini kurang bisa adaptasi dengan adat Sunda-nya sang suami. Jadi begitulah, ada bumbu ‘sentimen’ kesukuan dalam momen viral ini.
Kala menjanda, Tan Malaka, sempat menemui Syarifah cinta pertamanya. Diutarakanlah niat mempersunting, dan ditolak. Amboi nian.., cintanya bertepuk sebelah tangan. Pinjam puisi minang modern:… bia denai lupuah manggenggam bayang, cinto bartapuak sabalah tangan..uda sadar, adiak ndak cinto..Bia rindu ko denai bao mati…. Modifikasi puisinya sedikits aja bukan adik tapi kakak., Tan Malaka lebih muda setahun, lahir 1897, sedang Syarifah 1896. Wanita Minang ini tetap single parent sampai akhir hayatnya, Tan Malaka juga tak pernah menikah sampai pasukan Yon Sikatan Divisi Brawijaya membunuhnya (Selopanggung-Kediri 21 Februari 1949).
Dari semua kisah ini, terpenting ada di kiprah beliau di dunia pendidikan. Dari sang ayah, ia terdoktrin betapa pentingnya pendidikan bagi wanita Nusantara. Ia memimpin sekolah De Meisjes Vervolg School (Sekolah Lanjutan untuk Anak Perempuan) sebagai kepala sekolah di Bukit Tinggi. Pindah ke Jakarta 1937, ia menyekolahkan anak-anaknya, di Koning Willem III School Batavia. Wanita super-aktif, di Jakarta memimpin Sekolah Kemajuan Istri di Meester Cornelis. Masuk era Jepang, terus berjuang masuk Fujinkai, organisasi wanita binaan Jepang. Di jaman republik, Syarifah dan teman temannya dirikan Yayasan Panti Wanita PERWARI (11 Juni 1955). Jiwa sosialnya tinggi, murid-muridnya terfokus pada anak-anak kurang mampu, ia malah merelakan rumahnya jadi sekolah.
Begitulah, cinta pertama Tan Malaka dan janda cerai Wiranatakoesoema V ini jelas jelas tokoh inspiratif. Berjuang mendidik, cerdaskan wanita jadi sumbangsih besar yang dikenang bangsanya. Ia berikhtiar nyata angkat derajat perempuan-perempuan miskin lewat pengabdian tulus tanpa pamrih. Sampai kini, fotonya terpajang di gedung Panti Trisula Perwari. Beliau berpulang di 17 April 1988 dalam usia 91 tahun. Tokoh yang sejajar dengan Ibu Dewi Sartika, Ibu Kartini, ibunda Rahmah El Yunusiyah ataupun bunda Rohana Kuddus.
Alfatihah!

