TERLUPAKAN DALAM HINGAR BINGAR PERADABAN By Isfandiari MD

…Tahun 1977, terbit buku seri perjuangan berlabel Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan eks digulis (mantan orang yang dibuang belanda ke Boven Digul). Penerbitnya Direktorat Jendral Bantuan Sosial Departemen Sosial Jakarta. Isi buku tentang nama-nama digulis yang wafat di Digul juga daftar eks Digulis penerima bantuan….
Fakta terkuak, Wiranta ada di urutan pertama penerima bantuan No.Pol 6/58/PK, alamat Jl. Maleer 49/118, Bandung. Satrawan Pramoedya Ananta Toer penyunting buku Berita Dari Digul berkisah: Pada Kamis 10 Agustus 2000 kedatangan tsastrawan Ramadhan KH yang bilang Wiranta adalah pengarang Sunda yang baik, dikenal secara pribadi oleh satrawan Ajib Rosidi.
Banyak warga Sunda kurang mengenalnya. Sayang sekali! Ia sangat istimewa, mutiara tatar Priangan yang luar biasa. Sastrawan jempolan, Jurnalis paten dan pejuang nasionalis agresif penuh dedikasi. Lelakunya bikin keder Pemerintah Kolonial sampai membuang tokoh ini ke Boven Digul Papua Selatan, zona nun jauh dari Jawa Barat tempat kelahairannya. Ia menjadi gelombang pertama pengasingan tahun 1927.
Wajar kita perlu tahu kiprahnya. Dia orang pertama memimpin organisasi seni dan olahraga Kunst,sport en voetbal Vereeniging Digul tahun 1935, artinya 2 tahun setelah PERSIB lahir. Sedikit berbagi kisah sejarah! Saat organisasi ini lahir, dilangsungkan pertadingan sepak bola persahabatan dengan orang buangan yang baru datang. Tim Wiranta diisi formasi x-traordinary! Mohammad Hatta sebagai bek kanan dan Sutan Syahrir gelandang kiri.
Ensiklopedia Sunda (Pustaka Jaya, Agustus 2000) menghormati Wiranta selaku guru,wartawan sekaligus perintis kemerdekaan kelahiran Congeang Sumedang dan wafat di Bandung 1983. Ia tamat SD pada 1911, jadi guru tahun 1917 dan menempuh pendidikan sekolah guru era kolonial. Kweekeling di sekolah kelas II, Kalapanunggalk Sukabumi, lulus ujian guru bantu. Wiranta sosok yang suka membaca dan mulai intens menulis saat berlangganan surat kabar Kaoem Moeda Bandung. Ia lulus ujian Klein Ambtenaar tahun 1921 dan dapat diploma Boekhouding A tahun 1922 dan kerja jadi assistant Boekhouder di Karawang.
Karir jurnslistik Wiranta makin bersinar saat pindah ke Bandung 1925. Bareng Moh, Sanusi, ia memimpin koran mingguan berbahasa Sunda. Koran provokatig-agresif gandrung mengkritik pemerintah kolonial. Artikelnya berjudul Tan Malaka Dibuang mendapat respon keras pemerintah Belanda. Ia dihukum setahun atas pelanggaran delik pers. Tahun setelahnya dikirim paksa berlayar dalam pembuangan gelombang pertama ke Digul tahun 1927 sampai 1931. Bebas dan pulang ke tatar Sunda, dia tidak kapok malah makin intes berkiprah di dunia pers. Aktif di beberapa surat kabar, seperti Kiauw Po (Bandung), Sinar Pasoendan (Bandung),Matahari (Semarang),Keng Po (Jakarta) malah jadi redaktur di Bijaksana, majalah berbahasa Sunda sambil mendirikan romansbureau Mantili di Bandung. Di kisaran masa itulah Wiranta ada dalam puncak karir jurnalistiknya. Tak hanya menulis dalam Sunda, ia juga aktif menulis buku berbahasa Indonesia seperti Antara Idup dan Mati, Buron dari Boven Digul dan Riwayat Hidup Ir.Soekarno. Roman bahasa Sundananya juga bersinar, semisal Isukan Kuring Digantung (Besok saya Digantung) yang viral dan dapat sambutan pembaca sampai dicetak berulang kali dan dimuat dalam Mingguan Sunda sebagai cerita bersambung tahun 1965. Roman lainnya dalam Sunda adalah Hanjakal Jadi Awewe (Sayang Aku Perempuan). Wiranta juga dapat penghargaan penulis cerita Pendek tahun 1953 oleh LBBS berjudul Pacul. Ada juga tulisan berjudul Neangan (1963) yang dimuat di Majalah Sunda. Penulis produktif! Karya-karya lainnya bertebaran di beberapa majalah.
Tahun 1963, ia didaulat jadi redaktur majalah Langensari dengan tulisan bersambung terkenalnya Sripanggung, Menak Baheula yang keduanya dibukukan penerbit Kiwari Bandung. Sayang majalah Langensari mati, setelah itu ia menggantungkan hidupnya dari tulisan yang diterbitkan majalah Mangle, berupa fiksi, laporan perjalanan dalam bahasa Sunda.
Warga Jawa Barat tentu ada perhatian atas perjuangan beliau. Koran Pikiran Rakyat edisi 8 Agustus 1977 beritakan ulang tahun perkawinannya ke-50 dengan istri tercinta Nyi Cacih, anak digulis Sukantaatmaja. Moment itu diperingati di Bandung bareng anak cucu dan puluhan kawan-kawannya. Tahun 1982, Majalah Mangle adakan syukuran tepat usia Wiranta ke 80. Setahun kemudian tokoh cemerlang ini wafat. Ajib Rosidi menyunting karyanya Sripanggung (1991, Menak Baheula (1992) juga karya fiksinya seperti Bentang Rumahtangga (1992) dan Awewe Dulang Tinande (1997).
Begitulah, sosok luarbiasa pejuang inspiratif. Jaman Belanda dibuang ke Digul dan saat pendudukan Jepang ditangkap karena gabung dalam Pemuda Pejuang Kemerdekaan di Cianjur. Ia juga pengabdi dunia pendidikan lewat Sekolah Rakyat Bandung (1949).
Support, salut,respect abah Wiranta, warga sunda jempolan yang lama kelamaan pudar dalam hingar bingar peradaban. Alfatihah…


