Mbah Ma’shum- Muhammadun bin  KH. Ahmad bin Abdul Karim (Lasem)

TOLERANSI, BERIMBANG, ADIL, MODERAT   By Isfandiari MD

…Roman Dari Hari Ke Hari-nya satrawan Mahbub Djunaidi ada ditulis ikhwal Mahbub kecil  yang nyaris masuk pesantren di Lasem, suruhan bapaknya, KH. Djunaidi. Dia bilang, pesantren di Lasem punya 2 keistimewaan, mencetak santri pinter juga toleran, ‘warisan’ berharga jika nyantri disana….

Dan begitulah! Lasem dijuluki zona tanpa sumbu, tak ada sumbu panjang – pendek, gak gampang tersulut, toleran adem hasil didikan ulama besar Lasem  yanag membentuk karakter santri-santrinya. Ditambah lagi peristiwa epik, Perang Kuning, kolaborasi Arab-Jawa dan Cina lawan Belanda.

Tokoh menonjolnya Mbah Ma’shum, kelahiran 1870, bergaris nasab tokoh Minangkabau, Sultan Mahmud Al-Minangkabawi, tersambung ke Sunan Giri sampai Rasulullah. Lewat gemblengan bapaknya, KH. Ahmad  bin Abdul Karim,  beliau dibentuk jadi insan pecinta ilmu. Bayangkan, sempat nyantri ke 50 ulama besar, belajar singkat langsung terserap berkah kecerdasannya. Sebut saja guru-gurunya,  Kyai Nawawi Jepara, Kyai Ridhwan Semarang, Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Abdussalam Kajen, Kyai Idris Jamsaren Solo, Kyai Sholeh Umar Semarang  terkenal disebut Kyai Soleh Darat,  Kyai Kholil Bangkalan dan banyak lagi. Baru bicara Kyai Nusantara, belum saat ke Mekkah, belajar pada Syekh Mahfudz al-Turmusi dan Syekh Dimyati al-Turmusi. Bicara nasab keilmuan, sambungannya ke  Sayyid Ahmad Zaini Dahlan—syaikhu masyayikh ‘godfathernya para guru’ . Merunut salah satu gurunya, KH. Kholil Bangkalan, mbah Ma’shum terhubung dengan   Syekh Nawawi al-Bantani murid andalan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Makkah.

          Selaksa ilmu membentuk hati yang halus, kalimat pas menggambarkan pribadinya. Urusan finansial Kyai Mas’shum  pejuang sejati. Ikhtiar nafkah dilakoni berdagang antarkota pakai sepeda onthel. Rutenya, x-tra ordinary!, Lasem-Jombang, lebih kurangnya 165 km. Sambil dagang intens mengajar berdakwah, sowan juga pe pesantren-pesantren besar semisal Tebu Ireng, hadiri forum muswarah bersama guru beliau KH. Hasyim Asy’ari pimpinan forum. Sekedar info, usia Mbah Ma’shum lebih tua dari Mbah Hasyim tapi tetap dianggap guru beliau   di bidang keilmuan Hadits.

          Kisah mereka berdua menarik disimak.  Di sepenggal masa, mbah Ma’shum bermimpi bertemu Rasulullah dan berpesan agar berhenti berdagang dan konsen mengajar ilmu. Laa khayra illa fi nasyr al-ilmi (Tiada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu). Pesan pentingnya fokus mengajar umat, soal rejeki-kebutuhan Allah yang tanggung. Mimpi ini disampaikan pada KH. Hasyim Asy’ari dan dijawab, tak perlu ada tafsir lagi, jelas dan tegas. Kisah spiritual inilah yang jadi bebuka fokus beliau di bidang pendidikan. Berdirilah pesantren al-Hidayat Lasem pada tahun 1918 yang  sebelumnya hanya langgar kecil tahun 1916.

          Sejak itulah, jadwalnya superpadat dalam mengajar. Selain Al-Qur’an,, santri-santri disajikan kitab mu’tabarah : Fathul Qarib, Fathul Wahhab, Alfiyyah, Riyadlus Shalihin, Kifayatul Akhyar, al-Hikam, Ihya’ Ulumiddin, dan lainnya. Sebuah keistimewaan,  setiap mengaji kitab, beliau pasti akan mengkhatamkan kitab tersebut, dianalisa dari awal.  Dilakukan secara istigamah dan mudawamah hingga wafatnya, . Dari ketekunan inilah, lahir ulama penerus yang bersinar, sebut saja,  KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Bisri Musthofa Rembang, KH. Mustamid Abbas Buntet Cirebon, KH. Subki Masyhadi Pekalongan, dan banyak lagi.

          Sebagai tokoh Nahdlatul Ulama, citra paling menonjolnya ada di sikap tasamuh (toleransi), tawazun (berimbang), i’tidal (adil), dan tawassuth (moderat). Empat  pilar penting menjaga keutuhan Nusantara., darisanalah pondasi bangsa yang beragam tercipta. Sampai kini, rasa keberagaman itu terasa di Lasem. Hadir kyai yang santun, adem tidak meledak-ledak  jauh dari radikalisme, tidak jumud, tidak kaku, tidak rigid!  Kebalikannya, kyai yang  cergas bergaul, santri-santrinya jadi garda terdepan wajah islam yang rahmatan lil alamin. Coba saja pelesir ke sana, vibes hubungan antaragama terjalin harmonis, mix antarbudaya smooth tanpa banyak kendala. Hadir karya budaya Batik Tiga Negri pengaruh taste seni Cina-Arab-Jawa, kulinernya juga paduanm dan  siapa tahu sempat,  silakan  hang out di  kedai kopi toleransi berjuluk Jinghe di sudut Lasem. Warung kopi sederhana yang sering didatangi beragam tokoh agama, diskusi tentang keragaman mereka. Menyoal ini, monggo simak film dokumenter singkat ‘Tersesat Dalam Surga’ berjudul Zona Tanpa Sumbu di youtube.

          Jumat, 20 Oktober 1972 (12 Ramadhan 1392 H) selepas shalat Jum’at,  si Mbah berpulang. Jenazahnya dimakamkan di  komplek Masjid Jami’ Lasem berdekatan dengan makam para masyayikh Lasem lainnya. Tak jauh juga dari sana berdiri museum Islam Nusantara, ber arsitektur Rumah Gadang khas Minangkabau, ujud respect keluarga atasnya, Sultan Mahmud Al Minangkabawi yang datang ke Jawa, berguru pada Sunan Bonang dan tinggal di Lasem.

          Alfatihah, Mbah Ma’shum….

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *