BAHAYA PENDAKWAH DESTRUKTIF

JAUH DARI HIGH TASTE,  BERPIKIR BENAR, LOGIS DAN MENDEWASAKAN By Isfandiari MD

          Tergugah malah  bikin resah saat ustad pandakwah tawarkan narasi sarat lelucon, low taste dan justru ber-indikasi pembodohan.  Misal, enteng berorasi  agar jama’ah berdoa pada Allah, supaya diberi anak pintar. Tapi, jangan semua! Berdoalah agar diberi  anak bodoh diantaranya.

Ini bahaya! Pertimbangan  berdasar logika melenceng. Anggapan anak bodoh lebih care urus orang tua jauh dari logika lurus.  Tak masuk akal, anak bodoh-katanya- lebih intens urus orangtua ketimbang anak yang ‘manggung’ pinter, sukses digdaya. Sebaliknya, ditekankan lagi, anak bodoh gak akan kemana-mana, stay di rumah utama, mengurus hari tua para sepuh, bapak-ibu, kakek nenek sampai buyut jika masih hidup. Singkatnya, doa wajib strategis, jangan minta semua anak pintar-sisakan anak bodoh. Dakhwah  x-traordinary, out of the box luarbiasa kacau!  Jikalau umat menelan dakwah model begini, hasilnya antiproduktif dan destruktif. Care atau intens tak ada hubungannya dengan bodoh-pintar. Terpenting soal nurani, akal budi, adab-etika. Anak pintar jika dihitung definisi pintar paripurna mencakup banyak hal. Tahu balas budi, berbakti pada orang tua dan bisa menjaga mereka batin ataupun finansial. Sebaliknya, bodoh bermakna serba tidak baik. Ini bukan materi doa yang benar.  Makin miris, narasi model begini dan sejenisnya berseliweran di moment moment pengajian, ustad viral yang full job, makin pede dan makin kaya.

          Mohon maaf,  mereka aportunis. Tak punya  pendalaman atas logika berpikir dan ogah mengajarkan jama’ah berpikir jernih dan punya visi ke depan. Mereka juga -maaf- low taste, dominan lelucon dan dominan merasa paling benar dan anggap media dakwah jadi ajang lelucon rendah yang pastinya bikin muslimin makin terpuruk. Suka atau tidak, cepat atau lambat.

          Mereka memposisikan diri sebagai perfomer. Percaya diri, sering diajak selfie, dipuja. Retorikanya seakan ber-nas, komunikasi gesit manarik penuh pesona. Biasanya banyak berkisah lelaku dirinya sendiri, serba isitimewa, dramatis, spektakuler beda dengan kisah orang kebanyakan yang stagnan tidak menarik.  Adalah ‘bumbu’ retorika bernuansa rendah hati, berhati bersih, kisah menyentuh hati. Maka, bintangnya makin bersinar, ialah ‘artis spiritual’ dalam definisinya sendiri. Gawatnya, umat punya pandangan sama, terlena kharisma semu yang makin menyesatkan.

Ini miris! Tujuan utama dakwah membawa insan pada kebenaran, kebahagiaan dunia akhirat. Membantu perbaiki akhlak perilaku sesuai ajaran Islam. Allah Swt. berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat yang terang benderang. Dakwah bukan perkara main-main. Bolehlah segar, renyah ada joke terseling, tapi bukan itu intinya. Wajib membawa komunikan ke arah lebih baik. Berpikir baik, berselera baik, sadar, Islam adalah pencerah, pemintar memposisikan kaumnya garda terdepan peradaban. Jauh dari jumud dan ikhtiar untuk ijtihad dalam pemikiran, dinamis pintar dan tangguh hadapi tantangan zaman.  Karena jelas, dakwah adalah fardlu ain, wajib  atas suruhan sebagian ulama berdasar Surat Ali Imran ayat 104.

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Diperkuat hadis HR Bukhari no.3461-  Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat-

          Jadi begituah kejadiannya. Kesalahan tertumpu pada beberapa pihak. Mereka yang mengundang, wajib teliti memboyong pendakwah model begini. Di pihak lain, wajib ada otokritik dari mereka yang diberi anugrah retorika bagus dan panggung memukau. Instropeksi dan tahu betul posisi sebagai insan istimewa yang diberi panggung penuh penghormatan malah diberi upah menyamankan.

          Jika demikian, Alhamdulillah!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *