By Isfandiari MD
Ibadah haji jelas lelaku fisik-spiritual rukun Islam ke lima sesuai perintah Allah. Pencapaian yang diidamkan setiap muslim jika ada kelegaan ongkos. Harapan ideal, pulang ber-status mabrur, insan paripurna, seperti digambarkan sahabat saya, Fahmi Arif El Muniry- Mahasiswa Program Doktor UNISSULA Semarang-Founder Kampung Al Mahabbah-Demak: “Tak sekadar safar jasadiyah tapi juga safar ruhaniah menuju Allah”. Ia menerangkan kalimat khidmat Kyai Soleh Darat yang tertuang dalam kitab karyanya, Manasik Al-Haj wa Al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al-Mursalin (1340H/1922 M). “Bukan perjalanan badan menuju baitullah tapi perjalanan hati menuju ma’rifatullah.”

Untuk insan spesial ibadah ini punya catatan sejarah luarbiasa. Momennya terjadi tahun 1948, dikenal sebagai Misi Diplomasi Haji Indonesia I. Bukan perjalanan haji biasa! Journey spiritual membawa misi besar menentukan arah republik Indonesia. Adalah H. Syamsir Sutan Rajo Ameh, asal Bukit Tinggi Minangkabau yang mukim di Solo. Beliau figur kunci pegang peran krusial sebagai bendahara, diperintahkan Moh. Hatta barengan K.H.R Mohammad Adnan (Ketua Mahkamah Islam Tinggi) ,K.H.M Saleh Suaidy (Sekretaris) dan Ismail Banda, M.A sebagai anggota. Inti kegiatan menggapai pengakuan Kerajaan Saudi Arabia atas eksistensi Negara Indonesia. Kisah ini juga pernah ditulis Mahbub Djunaidi, Kolumnis ternama di Harian Pelita tahun 80-an.
Generasi sekarang wajib menyimak kisah perjalanan ini. Bayangkan, untuk mencapainya resiko nyawa dipertaruhkan. Orang-orang berani ini bertolak subuh dini hari, September 1948 dari Bandara Maguwo Jogja, pakai pesawat Dakota carteran demi mengelabui blokade ketat tentara Belanda. Sukses keluar Nusantara, sempat transit di Thailand lantas Kairo lanjut mesir menjuju Hejaz, Saudi Arabia. Selain beresiko ini bukan perjalanan mewah menyenangkan di sisi finansial. Disediakan dana darurat dari pemerintah Rp.3500 bukan ongkos saja tapi dialokasikan buat para mahasiswa yang mukim di sana dan jemaah terlantar. Mahbub menulis,”Pemerintah tak punya duit.Yang dibantu cuma ongkos penerbangan Maguwo-Bangkok. Selebihnya urusan H. Syamsir.” Disinilah jasa beliau yang layak kita kenang. Ia membawa segengam berlian miliknya untuk hendel urusan-urusan finansial lainnya, harta pribadi demi misi mulia ini. Misi yang sukses atas ijin Allah, pada 9 zulhijah Bendera besar Merah Putih berkibar di langit Arafah, disambut haru jemaat Indonesia yang sedang wukuf. Bayangkan! Sang saka merah purih berkibar bangga diatas jutaan umat muslim seantero dunia. Mereka juga merintis pembuatan Al-Qur’an Pusaka yang kini ada di mesjid Baiturahim Istana. Pengibaran bendera pengakuan itu tentu tak mudah, penuh perjuangan dan doa. Sukses, raja Saudi Arabia ini memberikan dukungan politik-pengakuan penuh bagi kemerdekaan Indonesia. Dari sana tim sowan ke Raja Ibnu Saud, menyerahkan pesan khusus dari Presiden Soekarno. Ada tiga point penting pesan Presiden, rasa terima kasih atas pengajuan kerajaan Arab Saudi, keterangan yang benar ikhwal Indonesia dan memperkuat basis perjuangan diplomasi di Timur Tengah. Ada juga pesan dari Bung Hatta yang fokus pada kemanusiaan, perlindungan warga Indonesia serta penguatan jejaring politik luar negri. Alhamdulillah, misi ini berlanjut dengan misi haji ke II tahun 1949, barengan tokoh nasional lain Prof. Ali Hasjmy dan Prof. Abdul Kahar Mudzakir.
Moment historikal ini moga saja diingat jemaah haji yang hadir memenuhi panggilan Allah dari tahun ke tahun. Paling pas, mengirimkan al-fatihah kepada insan-insan mulia yang rela berkorban demi republik di awal kelahirannya. Mereka bukan insan biasa, pusaka nusantara, luarbisa hebat. X-tra ordinary person in x-tra ordinary moment!
Respect!

