By Isfandiari MD
Founding father ada berkata, “Jika Pancasila diperas jadi satu sila aja jawabannya Gotong Royong.” Jadi sejatinya, dia penting , jadi landasan utama berbangsa. Dimana dia sekarang? Ini problemnya, masih ‘buron’, sulit ditemukan, nyempil di sela-sela sempit peradaban. Jadi itulah, kita masih stagnan, susah maju, terseok-seok mencapai tujuan.

Gotong royong memang tidak sepele. Didalamnya berisi sinergi apik ide cemerlang dengan pelaksanaan. Ibaratnya orkestrasi membuahkan harmoni indah. Masing-masing tahu fungsinya, tidak terlelu berisik, tidak terlalu senyap. Seimbang dan enak didengar membuat insan terpacu bukannya senewen. Inilah yang belum maksimal terasa walau di tingkat wacana terdengar ekstra ordinary menjanjikan revolusi perubahan. Pernah dengar khan ‘mega’ ide-program semisal Danantara, hilirisasi, Leaping forward, lompatan digital, MBG, poros dunia dan lainnya, arus bawah masih melongo, mendoakan lancar tanpa merasakan dampak siginifikannya. Cendikiawan bilang, masih ada distorsi antara cita dan realita.
Menyimak pidato pejabat? Dalam gaya, berapi-api ataupun kalem berwibawa outputnya sama: spektakuler dalam retorika tapi lemah di pelaksanaan. Mereka lupa, retorikanya belum sejalan dengan mesin birokrasi yang lambat. Masih njelimet, ada involusi, lagi kepentingan kantong pribadi, orang-orang hedon dalam birokrasi yang membuat semua program jadi high cost. Makin nyungsep, hadirnya orang dalam tanpa kompetensi yang ngobyek sana sini. Ini realita, terjadi di sekitar kita. Dari semua itu indikator tidak kompeten dalam pelayanan publik, tak punya empati dan integritas. Orang banyak jengkel, mereka diskonek dengan rakyatnya, sibuk menjaga citra, lebay-mendramatisir atas kerja keras dan perjuangan walau tidak seberapa. Padahal hidupnya relatif nyaman, gaji tetap, ada bonus atau dana giat lain. Kebutuhan primer-sekunder-tersiernya terjamin. Masih juga mengeluh betapa beratnya perjuanga mengurus rakyat. Situasi begini membawa rasa sakit hati dan kecemburuan umat. Visi terasa mengalir lancar, kapabilitas belum tentu. Hasrat menggebu-gebu tapi komitmen dan disiplin dalam eksekusi itu soal lain.
Otokritik juga di masyarakat bawah. Stagnasi, jumud mengisi keseharian beberapa kalangan. Sebut saja adegan di warung kopi. Semua penghuni warung menjelma jadi policy maker, menjadi kritikus militan. Semua merasa jadi presiden atau ada yang jadi mentri pertahanan, mentri pendidikan dan seterusnya. Kritik mengalir deras, negara harus begini dan begitu. Kenyatannya, mereka sendiri duduk ber-jam-jam di warung kopi, habiskan waktu bicara ngalor ngidul tanpa bergiat sebagaimana mestinya. Ide, gagasan, kritik menguap seiring kopi yang tinggal keraknya. Ujung-ujungna bisa ditebak, kesimpulan bahwa negara tidak jelas, bangsa absurd dan tak punya masa depan. Padahal masa depan itu ada di tangannya sendiri.
Deskripsi subjektif ini tentu ada imbangannya. Ada harapan yang menyeruak juga. Masih banyak garda-garda terdepan perubahan yang senyap namun berkontribusi nyata. Pejuang-pejuang lingkungan yang kadang dicuekin pemerintah tetap semangat menjaga kelestarian alam. Mereka bergerak barengan ataupu sendiri-sendiri. Atas panggilan moral, mereka bergerak simultan lewat aksi ekologi sungai,hutan,lembah laut. Contoh konkretnya lelaku Letjen Mohamad Hasan pejuang ekologi. Tanpa anggaran negara, ia dan 1500 relawan menginisasi gerakan adat dan ekologi bertajuk Ngalokat Sirah Cai Ciliwung, mereka membuka kembali-revitalisasi telaga yang menampung 5 juta kubik air dan berkembang jadi desa wisata lestari. Katanya, krisis banjir di hilir karena prilaku destruktif manusia di hulu. Belum laigi tokoh mulia lainnya yang berjuang tanpa pamrih. Ini role model yang harusnya naik panggung sebagai inspirasi kita bergiat nyata. Mereka masih ada bertebaran, jauh dari gemilau panggung, jarang disorot tanpa publikasi berlebihan. Ormas, paguyuban di sektor kebudayaan yang berani berjibaku membuat ruwatan alam dengan dana yang dikhtiarkan sendiri tanpa sokongan dana pemerintah. Ada juga klub otomotif, organisasi kepemudaan, ormas keagamaan yang berjuang sendiri-sendiri menguatkan pondasi berbangsa di berbagai bidang.
Disinilah gotong royong harusnya hadir. Kalaulah koar-koarnya Pancasilais, terjadi gotong royong antara semuanya. Pemerintah wajib tahu diri-tahu kekuatan dana yang bisa menyokong insan-insan pengabdi ini. Lewat pejabat yang punya power, ada dorongan moral menjadi konduktor orkestrasi yang harusnya harmoni. Bukan malah asyik profiling agar terlihat cemerlang di mata publik, mendahulkukan seremonial semu dan gila di eluk-elukan. Pejabat yang duduk di kursi empuk dan safety dalam kesusahan hidup harusnya merenung betapa mereka orang beruntung diberi amanah dalam hidup yang memang singkat. Bisakah mereka berambisi mengisi perjalanannya untuk mengambil hati Tuhan? Ambisi membangun legacy yang bisa membanggakan anak turunannya? Ormas-ormas besar menjadi penekan kontruktif betapa pentingnya gotong royong itu. Dan orang bawah, rakyat banyak menyokong penuh sebagai masyarakat yang didefinisikan orang berbeda-beda untuk mencapai tujuan sama?
Moga gotong royong segera ditemukan, tak perlu menunggu diambil alih generasi emas 2045!

