Jurnal Sumatra Utara Part 1, Isfandiari MD-jurnalis FKN

HORAS, MENYAPA LELUHUR BERSAMA FORUM KEBERAGAMAN NUSANTARA

….Roda gendut pesawat Garuda sedikit mendecit  lalu stabil saat bersentuhan dengan aspal Bandara Kualanamu Medan (Selasa 4/8/2026).  Cuaca cerah, langit biru muda dan awan tak seberapa banyak. Inilah bebuka awal perjalanan dalam agenda ziarah makam dan petilasan leluhur zona Sumatra Utara Agustus ini…..(Catatan Perjalanan Forum Keberagaman Nusantara-FKN, bersama Ketum, Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun)

Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun, Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara (FKN)

Tujuan awal menuju Danau Toba dan merangsek masuk ke jantungnya, Pulau Samosir. Menjelang siang, pelabuhan penyebrangan Ajibata, sudah siap mengantar menuju pulau Samosir. Air danau Toba seperi biasanya tenang, riak kecil berwarna biru kehitaman. Lansekap indah, gunung-gunung bukit menyediakan lahannya dibangun rumah-rumah penduduk, mesjid, gereja dan resort mewah bagi para pelancong.   Tak berapa lama, kami berlabuh di Pulau Samosir, rehat sejenak untuk sebuah perjalanan ziarah  yang sangat berkesan.

Pelabuhan Ajibata menuju Samosir

Tak menunggu berganti hari, awal menyapa leluhur bermula di Batu Sawan, Sappurna7 Oppu Oppu. Letaknya di Parik Sabungan, Desa Sarimarrihit, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir Sumatra Utara. Lokasi persisnya ada di kaki gunung Pusuk Buhit tempatnya leluhur suku Batak,  pemandian suci si Raja Uti, salah satu dari sepuluh putra Tatea Bulan atau nama lain Baso Bolon, cucu si Raja Batak.

Malam di Batu Sawan, Sianjur Mula Mula
Di Batu Sawan, kami makan bersama, hangat dalam kebersamaan

Perjuangan menuju lokasi bukanlah giat mudah. Dalam pekatnya malam, tanjakan curam, jurang dalam, bebatuan belum lagi angin dingin yang sesekali berhembus keras menyertai perjalanan. Penerangan seadanya dari handphone dan senter cukup membantu melihat celah-celah perjalanan mengurangi resiko terjatuh atu melenceng arah. Kurang lebih 1 jam perjalanan, sampailah.  Hati menyapa, Horas pada alam tempat mata air unik yang dipercaya kesakralannya. Mata air mengalir dari tebing batu ditampung kolam kecil berbentuk cawan bulat. Airnya beda dengan mata air kebanyakan, terasa asam persis rasa jeruk purut. Masyarakat Batak meyakinini punya khasiat pengobatan dan pembawa berkah.

Memang sudah diniatkan untuk habiskan malam di puncak bukit ini. Walau gelap, dingin vegetasi yang rapat, suasana jauh dari seram. Tempat ini menjanjikan keteduhan batin dan energi positif terasakan. Dinginnya malam membawa batin dalam keteduhan mendalam. Ada kerinduan terasa pada leluhur yang sudah berpulang, bahkan keinginan menyapa tersibak dalam hati sebagai sambung rasa antara kita dengan orang terdahulu.  Malam semakin larut, menuju subuh udara dingin menusuk tulang, lalu disambut pagi  5 Agustus yang cerah lengkap dengan ‘hadiah’ pemandangan indah dari ketinggian pegunungan. Kebun-kebun kopi terhampar luas berjajar tertata bersama vegetasi hutan Sumatra hijau membentang.

MENGUNJUNGI PETILASAN OMPU RAJA BATAK-TITIK NOL PERADABAN DI PUSUK BUHIT

Ketum mendoakan kekuatan dan kemakmuran bangsa. Kombinasi tiga warna dalam budaya Batak. Merah-putih -hitam(bonang manalu/Tolu Datu. Merupakan lambang kosmos, falsafah hidup dan spiritual ( merah:keberanian, semangat hidup, kekuatan. Putih:kesucian,kejujuran kebenaran. Hitam:Ketegasan, kekuatan batin)
Berfoto bersama warga sekitar, horas!!!
Pendakian penuh perjuangan mengunjungi tempat awal mula si Raja Batak
Abadikan kenangan di geosite Pusuk Buhit

Siang menjelang sore, ziarah petilasan berlanjut. Jeda beberapa kilometer, kami menuju ketinggian gunung Pusuk Buhit lainnya, rumah sang Raja Batak di ketinggian 1.972 mdpl diyakini sebagai titik nol peradaban, masih kawasan desa Sianjur Mula-Mula. Diyakini disinilah bermula turunnya si Raja Batak ke bumi, bermukim  dan memulai nasab keturunan seluruh suku Batak. Untuk mencapainya perlu perjuangan ektra! Jika sanggup berjalan kaki, silakan menghadapi jalan berbatu terjal menguji stamina prima. Jalan lain, abang ojek setempat siap mengantar dengan imbalan. Itupun bukan perkara nyaman. Sebagai boncenger kita harus sanggup menahan goncangan dan pinggang serasa terhantam.  Selain pencapaiannya perlu kerja keras, tempat istirahatnya hanya berbentuk  gubuk reot atas prakarsa masyarakat setempat. Makin miris, jika ada pelancong lokal yang menginap dan kedinginan, satu persatu kayu di gubuk ini diambil untuk kayu bakar. Wajar jika semakin menciut, reot tak berdaya seakan minta tolong, beginikah perlakuan tempat singgah peziarah yang ingin mendatangi rumah sang Raja Batak?  Ada rasa malu  saat berpapasan dengan beberapa turis Eropa, mereka berjalan beriringan dalam rombongan kecil. Khasnya warga Nusantara, mereka kami sapa dan dibalas dengan ramah. Dalam hati terpikir apa kesan mereka datang di tempat ini.

KISAH PULAU MALAU, BIDING LAUT DAN OMPU SARIBU RAJA

Perjalanan berlanjut demi romantisme historis dan mitos yang berkembang. Tujuan lanjutan, pulau Malao, kecamatan Simanindo, kabupaten Samosir. Letaknya  hanya sepeminum teh  dari pulau besar Samosir menumpang kapal kecil. Walau pulau kosong yang hanya dihuni burung berbagai jenis, lokasi ini punya kisah tersendiri. Zona sunyi ini dipercaya memiliki kekuatan mistis dan memiliki satu bangunan tua ratusan tahun lalu. Legenda yang dikandungnya layak diketahui publik. Dikisahkan peristiwa tragis tokoh si Boru Nantinjo, putri bungsu Guru Tatea Bulan atau si Baso Bolon, Leluhur Batak Toba.  Di kalangan masyarakat Toba berupa kisah folklor, tradisi lisan berisikan unsur geneologis, relasi keluarga,peran gender dan pengorbanan. Ia dikaitkan dengan tenggelamnya perahu di danau Toba muasal lahirnya pulau Malau. Ia adalah anak kesepuluh Guru Tatea Bulan (Baso Bolon), putra  sang Raja Batak bersama saudara lainnya, Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, Lau Raja, Biding Laut, Boru Pareme, Anting Haumasan, Sinta Haumasan. 

Pemandangan menuju Pulau Samosir

Jejak leluhur berlanjut di patilasan selanjutnya, Si Boru Biding Laut salah satu putri dari sepuluh  anak Tatea Bulan atau cucu Raja Batak. Menariknya, anak keenan si Baso Bolon ini ini terkait langsung dengan Nyai Roro Kidul yang ada ditanah Jawa. Biding laut berarti  penakluk laut, atau penguasa tepi laut, dalam khasanah mitologi Nusantara, sosoknya diyakini sama dengan Nyai Roro Kidul. Ia lahir di kawasan Pusuk Buhit yang memiliki kesaktian sejak muda. Boru Biding Laut terkait dengan kedekatan spiritual masyarakat agrasis maritim terutama kekuatan alam-air. Beruntung kami sempatkan ke petilasannya di wilayah Samosir. Di kamar pribadi Boru Biding laut, sama persis dengan kamar Ratu Pantai Selatan di Samudra Beach Hotel Sukabumi, tatar Sunda. Lukisan Nyi Ratu, warna hijau kesukaannya, lengkap dengan tempat tidur dan sesaji. Di petilasannya terpampang keterangan, Istana Ratu Pantai Selatan  (Biding Laut).

Kamar Biding Laut di Samosir
Suasana kamar Biding Laut
Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun Ketua Umum FKN di Situs Keramat Batu Hobon Ompu Saribu Raja
Syech Albiner Sitompul di Batu Hobon Saribu Raja

Pancakaki-napak tilas leluhur Batak berujung ke petilasan cucu lain si Raja Batak, Ompu Saribu Raja di Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. Tempat batu Hobon pusaka peninggalan raja Batak. Beliau tokoh penting dalam silsilah, induk leluhur yang menurunkan 100 marga Suku Batak bersama saudaranya Si Boru Pareme. Garis nasab beliau ke 100 marga ini terhubung lewat putranya, Si Raja Lontung, Raja Borbor dan Raja Galeman.

          Kisah lanjutannya membawa banyak pelajaran sejarah, ziarah leluhur yang terkait dengan peradaban Islam Nusantara di part 2.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *