PANGKAL PERADABAN ISLAM NUSANTARA
… Setelah mengunjungi dan menyapa Horas pada leluhur di tanah Batak, perjalanan berlanjut pada DNA yang lebih variatif: napak tilas kabuyutan awal peradaban Islam di Nusantara di Swarnadwipa-Sumatra. Disini, garis keturunan lebih kompleks lagi, hadir darah Persia, Arab, Eropa,Tamil India,Cina dengan etnis asli warga Batak dan melayu astronesia. Disinilah pangkal peradaban Islam... (Catatan perjalanan Forum Keberagaman Nusantara-FKN, dipimpim Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun)….

Menjalin ‘jembatan’ energi pada leluhur berlanjut dengan kisah hadirnya Islam di wilayah ini. Melalui jalan darat, menuju wilayah Barus Tapanuli Tengah. Ribuan tahun lalu, wilayah ini menjadi tujuan perdangan internasional. Manuskrip tentang Barus yang diedit Jane Drakard-Barus Kingdom menceritakan hal ini termasuk komoditi kapur Barus sebagai pengawet Mumi Fir’aun sejak jaman Nabi Musa. Hadir juga catatan Marcopolo, pengelana kristen asal Venesia. Dalam catatannya, ia berlabuh di pesisir Sumatra menunggu angin baik sebelum menuju Eropa sehabis singgah di kerajaan Mongol dipimpin Kubilai Khan (1292). Dalam tulisannya tercatat ramainya pelabuhan Purba didatangi pengelana Arab dan Mesir tapi juga Armenia sampai Tingkok.Tergambar ramainya pelabuhan pesisir Selatan Sumatra, zona Barus sekarang ini.

Segudang kisah sejarah ini membawa kami ziarah ke makam Raja Barus, Sultan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Tarusan pesisir Barat Minangkabau. Beliau insan mulia dan menjadi tokoh sentral berkembangnya Islam di tanah Sumatra dan berlanjut ke seluruh pelosok Nusantara. Hal ini dibuktikan oleh berbagai riset arfkeologi, salah satunya temuan dua lembaha kesejarahan Ecolo Francaise d’Extreme –Orient (EFEO), peneliti Perancis, dan mitranya arkeolog nasional (PPAM) di Lobu Tua (1995-2000). Sebagai raja pertama kesultanan Barus, wilayahnya tersebar luas di pesisir Sumatra.

Gaya kepempinannya menjadi inspirasi republik di masa setelahnya. Beliau menjalankan roda pemerintahan kesultana secara demoktaris, mengikuti pola kesultanan leluhurnya, nagari-nagari di Minangkabau, dengan mendirikan balai-balai tempat musyawarah mufakat dalam setiap kepututusan penting.
Zona yang dipimpinnya sangat sentral dan terbukti telah menjadi peradaban maju ribuan tahun lalu. Dikenal sebagai Fansur (pelabuhan) yang sudah berdagang hasil bumi utama terutama emas, kamper (kapur barus) ribuan tahun lalu. Dalam kronik Barus berjudul Sejarah Tuanku Batu Badan, kesultanan ini bermula dari berpindahnya keluarga kesultanan Indrapura ke Tarusan, Pesisir Selatan hingga menuju Utara masuk wilayah Barus.



Dalam perjalanan sebelum berdirinya kesultanan, beliau memasuki kawasan pedalaman Silindung dan diangkat menjadi raja Toba-Silindung. Mengikuti pola pemerintahan Minangkabau Sultan Ibrahimsyah membentuk institusi 4 penghulu untuk mewakilinya di wilayah ini. Selanjutnya sang Sultan menuju Bakara dan menikah dengan putri Batak dan memiliki putra bernama Sisingamangaradja. Asal mula nama Barus dinisbatkan dari kampung masa kecilnya di Tarusan.


MAKAM MAHLIGAI


Terbaring damai aulia Syech Rukhnuddin di makam Mahligai, wilayah Aek Dakka, Kecamatan Barus, 4 kilometer dari pusat Kota Barus. Berdasar epitaf nisan, tertera 672 Masehi atau 48 Hijriah. Beliau ulama penyebar Islam di Nusantara berasal dari jazirah Arab. Di sini juga ada makam, Syech Zainal Abidin Ilyas Syamsudin, Imam Khatib Muddah, Syech Imam Muadhdam dari negeri Fansuri pengikut syech Syamsudin. Zona ini di rangkul pemerintah setempat sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan SK Menteri bernomor PM.88/PW.007/MKP/2011.

Nisan tertata rapi berjumlah 215 dalam empat tipe bentukan, Pilar/tiang dengan delapan oktagonal motif hias utama bunga teratai, motif bunga dan kaligrafi Arab ada nisan tiang Selinder bermahkota bentuk teratai, nisan pipih, nisan potongan papan batu, pipih bagian atas melengkung serupa lunas kapal Persia.

Dalam kunjungan sebelumnya, dikunjungi juga makam bersejarah yakni Makam Syech Mahmudsyah atau Syekh Mahmud Al-Mutahzam atau Syech Mahmud Papan Tinggi di atas bukit, 800 anak tangga,Desa Pananggahan Kecamatan Utara Tapanuli Tengah. Angka tahun, Abad ke-7 sekitar 640-an. Masih di lokasi, bersemayam wanita mulia,Siti Tuhar Amisuri (abad 13-14 Safar 602 Hijriah-6 Oktober 1205 Masehi), tokoh ini tercatat 94 tahun lebih tua dari makam Sultan Malik As Shaleh Meunasah Beringin Kutakarang Aceh.
Napak tilas Forum Keberagaman Nusantara di tanah Sumatra. Semoga bermanfaat.


