ULAMA YANG DICINTAI SEMUA AGAMA
Oleh H.N Falah Amru-DPR RI

Bukan rahasia jika politik pecah belah penjajah Belanda efektif membuat bangsa kita lemah. Di semua pelosok Nusantara, strategi ini dijalankan demi kepentingan politik-ekonomi Belanda. Namun ada fakta sejarah yang layak menjadi pelajaran berharga, sosok Kyai Nusantara yang mampu melawan itu semua, ia adalah Tuan Syech Haji Ibrahim Sitompul bergelar Patuan Longgom Syah. Bersama saudaranya Pabean Sitompul, tuan Syech melawan, ia didukung rakyat dan mampu menyatukan warga Batak dari berbagai keyakinan berbeda, Islam, Parmalin juga kristen Protestan.

Peristiwa ini terjadi wilayah Mandailing Ankola, Tapanuli Utara-Sumatra Utara kisaran tahun 1849. Di masa itu, A.P Godon, Asisten residen Mandailing melakukan politik devide et empera dengan mengkotak-kotakkan agama, utamanya Kristen-Islam-Pelebegu. Strateginya, kaum muslim dikondisikan terpisah dari saudara-saudaranya penganut agama lain. Di sisi lain, lewat berbagai cara mereka mengkristenkan warga penganut Pelebegu,agama atau kepercayaan pra Islam-Kristen. Fakta ini berdasarkan pengakuannya sendiri setelah pensiun di tahun 1857. “Dalam laporan umum tahun 1849 selaku Asisten Residen Mandailing Angkola, saya menyatakan bahwa guru agama Kristen pada saat itu masih bisa bekerja dengan dengan baik. Saya sarankan agar antara suku Melayu-Batak Islam dan Batak harus dipisahkan dengan jelas. Metode yang paling baik adalah menyeru orang-orang Batak pelebegu agar masuk Kristen.” (Lihat O.J.H. Graaf van Limburg Stirum, hal. 126).”
Taktik Godon tentu direstui Gubernur Jendral Belanda, pemerintah pusat saat itu dengan melarang tokoh muslim menjadi pemimpin non-muslim tahun 1889. Tak hanya itu, kebiasaan yang mendukung Islampun tidak dibenarkan (lihat: Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889).
Di tingkat bawah, ketidaksukaan pada Islam terasa nyata. Dua orang residen Tapanuli, Westenberg dan Barth memecat kepala desa yang mualaf, pemecatan itu didukung pemerintah pusat karena sejalan dengan beslit rahasia 1889 tersebut. (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, (Arnheim, 1966) Hal. 112).
Taktik strategi Belanda itu mendapat hambatan. Mereka lupa bahwa di zona ini ada tokoh yang sangat disegani, Syech H. Ibrahim Sitompul bersama saudaranya Janji Angkola Pabean Sitompul. Gebrakan keduanya dipicu ketidak adilan pada ayahnya Aman Jahara Sitompul yang dipecat Belanda karena menjadi mualaf di tahun 1903, mengikuti jejak putranya. Pemecatan ini menunjukkan bahwa Beslit Rahasia kolonial dijalankan terang-terangan.
Syech Ibrahim melakukan perlawanan secara intektual. Ia berdiskusi dengan Dr. Haze dari Adviseur voor Islandsche zaken. Lembaga yang berdiri tahun 1899, semacam konsultan yang beri nasehat pada Pemerintah. Diskusi ini intinya menyampaikan protes atas ketidakadilan atas pemecatan kepala desa ayah Tuan Syech. Hasilnya tidak ditanggapi, dibuat mengambang sampai 6 tahun berselang. Setelah itu, protes ditolak mentah-mentah oleh residen Westenberg. Pemerintah tetap pada keputusannya, pegawainya sudah lakukan tugas dengan baik , tidak melenceng dari yang digariskan, kebijakan tahun 1889. Keputusan itu semakin kuat dengan dukungan residen melalui Frijling, Penasehat Urusan Luar Jawa. Jadi begitulah, kebijakan pemecatan sang kepala desa wajib dilaksanakan.
Semakin berat perjuangan Tuanku Syech setelah datang surat keputusan Gubernur Jendral,pimpinan tertinggi penjajah di Indonesia tanggal 5 Juni 1919. Mereka tegas melicinkan pemecatan ini (Christelijke Zending en Islam in Indonesia- Koleksi GAJ. Hazeu, setelah pemecatan dilakukan pemilihan kepala desa yang baru pada Maret 1919 secara demokratis. Kandidatnya Syech Ibrahim Sitompul melawan Aristarous. Belanda berhitung, Aristarous yang beragama kristen pasti menang melawan Syech, karena saat itu komposisi warga Ankola, adalah 400 kristen dan 60 orang muslim. Disinilah kuncinya! Warga tidak memandang agama yang dianut calon kepala desanya. Ini soal kredibilitas dalam pemilihan demokratis Syeikh Ibrahim Sitompul menang. Artinya, warga Kristenpun respect atas kualitas leadership Syech.
Belanda malu, taktiknya tidak berhasil. Residen Vorstman melakukan langkah lain, agar instruksi rahasia 1889 tetap jalan. Caranya, melakukan pemilihan ulang dengan harapan warga merubah pilihannya. Langkah ini justru membawa petaka bagi Belanda, mereka tetap papa pendiriannya, pemilihan ulang tetap memenangkan tuanku Syech. Mereka menganggap, tokoh beragama Islam ini layak dan ideal memimpin desanya. Di putaran kedua ini, Syekh Ibrahim menang tipis, 218 dan 204 untuk lawannya. Belanda kalah, mau tak mau terima nasib.
Leadership Syech menorehkan tinta emas toleransi beragama di wilayah ini. Walau disana mayoritas Kristen Protestan, suasana damai, menerima keberagaman sangat terasa. Ini semua atas usaha ikhlas Syech dan menjadi ladang amal beliau. Tokoh Tarekat Naqsabandiyah ini dikenal insan inspiratif, nasionalis terang-terangan melawan Belanda. Kedamaian beragama di wilayah ini, terinspirasi oleh kepemimpinan beliau.”Sosok sang pendamai, menyatukan seluruh umat dalam bingkai keberagaman,” komentar Brigjen (Purn) H. Albiner Sitompul, tokoh masyarakat, mantan ketua Jami’ah Batak Muslim Indonesia dan penulis Buku Sang Pendamai-Syech Haji Ibrahim Sitompul.
Kini, makam dan rumahnya banyak diziarahi santri. Rumahnya sangat sederhana, ada beberapa peninggalan beliau, jubah, surban dan beberapa koleksi piringan hitam. Di ujung ruangan teronggok barang-barang keramik dan mesin tua pengolah karet. Sebagai saksi sejarah, artefak sang ulama masih kurang dirawat apik pemerintah daerah, padahal jasanya bagi persatuan antaragama di Nusantara khususnya tanah Batak teramat besar. Beliau wafat pada 8 Oktober 1956.
Alfatihah…

