Oleh Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak. Anggota LSBPI MUI Pusat
Ada masa ketika kewibawaan seorang tokoh tidak diukur dari mobil dinas, pelat nomor khusus, atau jumlah pengawal. Seekor kuda sudah cukup, apalagi jika penunggangnya seorang kiai. Jalan kampung menjadi jalur dakwah, pelana menjadi kendaraan pengabdian, dan perjalanan menuju majelis dapat berubah menjadi bagian dari sejarah yang dikenang masyarakat.
Kuda dan pesantren tampaknya dua dunia yang berjauhan. Yang satu berkaki empat, yang lain dihuni santri berkopiah. Namun sejarah mempunyai selera humor tinggi. Keduanya berbicara tentang perjalanan, kendali, disiplin, keberanian, tujuan, dan kesetiaan. Bedanya, kuda dapat meringkik ketika lelah, sedangkan santri biasanya cukup menguap diam-diam sambil menunggu pengajian selesai.
Kuda Para Kiai, Jejak Perjuangan
Dalam khazanah Islam klasik, kuda bukan sekadar binatang tunggangan. Abu Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna dalam Kitab al-Khayl (Mathba’ah al-Nahdah al-‘Arabiyyah, 1986) mencatat perhatian masyarakat Arab terhadap kuda, termasuk sifat, warna, dan berbagai kisah yang melekat padanya. Ibn al-Kalbi bahkan menulis khusus Ansab al-Khayl fi al-Jahiliyyah wa al-Islam wa Akhbaruha (Mathba’ah Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1946).
Karya Ibn al-Kalbi itu menarik karena sejarah kuda dianggap cukup penting untuk dicatat secara khusus. Ia membicarakan nama, silsilah, dan kisah kuda pada masa Jahiliah dan awal Islam. Al-Jahiz melalui Kitab al-Hayawan (Dar Ihya al-Turath al-’Arabi, 1969) juga menunjukkan keluasan tradisi intelektual Islam dalam mengamati dunia binatang. Sejarah rupanya pernah begitu teliti.
Dalam sejumlah sumber sirah dan hadis, Rasulullah juga disebut memiliki dan menunggang beberapa kuda. Nama Al-Sakb, Al-Murtajiz, Al-Ward, dan Al-Lizzaz sering muncul dalam pembahasan tersebut. Namun kualitas dan detail riwayatnya tidak seragam. Karena itu, yang lebih aman adalah melihatnya sebagai bagian dari khazanah riwayat tentang kuda dalam sejarah Islam.
Dalam tradisi Asyura, Dzuljanah dikenang sebagai kuda Imam Husain bin Ali. Kisahnya kemudian berkembang menjadi bagian dari memori Karbala dan simbol kesetiaan dalam tradisi masyarakat Muslim tertentu. Di sini kuda tidak sekadar alat transportasi. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang perjalanan, pengorbanan, kesetiaan, dan tragedi yang membekas dalam sejarah umat.
Tradisi tersebut kemudian menemukan gema di Nusantara. Pangeran Diponegoro dikenang bersama Kyai Gentayu, kuda hitam dengan warna putih pada ujung keempat kakinya. Museum Nasional menyebut Gentayu sebagai salah satu pusaka hidup Diponegoro. Dinas Kebudayaan Yogyakarta juga mencatat kisah kuda tersebut dalam hubungan dengan perjuangan Diponegoro pada Perang Jawa.
Kyai Gentayu bukan sekadar kuda yang tampak gagah dalam lukisan. Ia menjadi bagian dari memori perjuangan Diponegoro. Bahkan pelana kuda Diponegoro pernah dibawa ke Belanda dan kemudian dikembalikan kepada Indonesia. Sejarah memang mempunyai cara unik menyimpan kenangan. Bahkan benda yang tampaknya sederhana dapat menjadi saksi perjalanan politik dan perjuangan sebuah bangsa.
Jika Diponegoro memiliki Gentayu, KH. As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo dikenang dengan kuda putihnya. ANTARA menyebut Kiai As’ad muda dikenal sebagai “Kesatria Kuda
Putih”, dengan kuda putih yang digunakan ketika memimpin pasukan menghadapi penjajah. CNN Indonesia juga pernah mengangkat sosoknya melalui judul As’ad Syamsul Arifin, Penunggang Kuda Putih Bergelar Pahlawan.
Dalam riwayat perjuangannya, Kiai As’ad tercatat pernah memimpin penyerangan terhadap gudang senjata Belanda di Bondowoso dan markas Jepang di Jember. Kuda putih dalam kisah itu bukan aksesori seorang kiai yang ingin tampak gagah. Ia berada dalam konteks perjuangan. Seorang ulama bergerak menghadapi penjajahan, sementara kuda menjadi sarana mobilitas menuju medan pengabdian.
Bekasi mempunyai kisah berbeda melalui KH. Noer Ali. Ketika remaja belajar kepada Guru Marzuki di Klender, ia tidak hanya mempelajari Al-Qur’an, fikih, tauhid, dan ilmu agama. Ia juga belajar menunggang kuda. Santri yang berminat dapat mengikuti Guru Marzuki ke kebun kelapa untuk berlatih ketangkasan dan berburu. Pendidikan masa itu memang cukup lengkap.
Pelajaran tambahan tersebut hari ini mungkin membuat sebagian orang mengernyitkan dahi. Tetapi ada logika pendidikan di baliknya. Menunggang kuda membutuhkan keseimbangan, membidik membutuhkan konsentrasi, sedangkan perjalanan ke kebun membutuhkan ketahanan fisik. Pendidikan tidak hanya mengisi kepala. Ia juga mempersiapkan tubuh dan mental menghadapi kehidupan yang tidak selalu ramah.
KH. Muhammad Tambih menghadirkan kisah yang lebih dekat dengan dakwah. Ulama pendekar Bekasi itu pernah mendapat hadiah seekor kuda dari Djamaluddin Malik, Bapak Industri Film Indonesia. Kuda tersebut kemudian menjadi kendaraannya ketika salat Jumat dari Kranji menuju Bintara, lengkap dengan jubah ala Pangeran Diponegoro. Kuda pun berubah menjadi kendaraan dakwah seorang ulama.
Dari Gentayu Diponegoro hingga kuda putih Kiai As’ad, dari latihan berkuda KH. Noer Ali hingga perjalanan dakwah Kiai Tambih, terlihat satu benang merah. Ulama bukan manusia yang menjauh dari kehidupan. Mereka bergerak, menemui masyarakat, menghadapi risiko, dan mengubah pengetahuan menjadi pengabdian. Kuda menjadi kendaraan, sementara khidmah menjadi arah perjalanan mereka.
Baca Juga : POTENSI MUALAF FRESH
Pesantren Menunggangi Zaman
Di sinilah filosofi kuda bertemu dengan pesantren. Kuda yang kuat membutuhkan kendali. Ilmu juga demikian. Santri boleh menguasai kitab, bahasa, teknologi, bahkan kecerdasan buatan. Tetapi semuanya membutuhkan adab. Tanpa kendali, kepintaran dapat menjadi kuda liar yang berlari cepat, sementara penunggangnya sendiri tidak tahu hendak menuju ke mana.
Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (LP3ES, 1982) memperlihatkan pesantren sebagai tradisi pendidikan yang bertumpu pada kiai, santri, pondok, masjid, dan pengajaran kitab. Pesantren bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan, melainkan ruang pembentukan watak. Di sana ilmu dipelajari, adab ditanamkan, dan tanggung jawab sosial dibiasakan melalui kehidupan sehari-hari.
Abdurrahman Wahid dalam Menggerakkan Tradisi (LKiS, 2001) memperlihatkan kemampuan pesantren beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan akar tradisinya. Nurcholish Madjid dalam Bilik-Bilik Pesantren (Paramadina, 1997) melihat pesantren memiliki potensi besar dalam pembentukan pribadi dan masyarakat. Pelana boleh berganti, kendaraan boleh berubah, tetapi arah pengabdian jangan sampai hilang.
Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam (Mizan, 1991) mengingatkan pentingnya nilai yang bekerja secara transformatif dalam kehidupan sosial. Pesantren mempunyai modal besar untuk itu. Pendidikan memberikan bekal, dakwah menentukan arah, dan pemberdayaan memastikan perjalanan menghasilkan manfaat. Santri tidak cukup menjadi manusia pintar. Ia harus menjadi manusia yang mampu menjadikan ilmu sebagai khidmah.
Kita sering terlalu mudah mengukur pendidikan melalui angka. Jumlah santri, gedung, lulusan, sertifikat, akreditasi. Semua penting, tetapi manusia bukan tabel Excel. Pesantren mengajarkan ukuran lain berupa kejujuran, kemandirian, ketekunan, kesediaan melayani, dan kemampuan menahan diri. Sebab ilmu yang tidak melahirkan akhlak hanya menghasilkan manusia pintar yang kebetulan kehilangan rem.
Hari ini kuda peradaban telah berubah menjadi teknologi digital dan kecerdasan buatan. Santri dapat menjelajahi perpustakaan dunia tanpa meninggalkan kamar pondok. Informasi datang lebih cepat daripada kuda berlari. Tetapi cepat bukan berarti tepat. Algoritma dapat membantu menemukan jawaban, tetapi tidak otomatis mengajarkan kebijaksanaan, adab, sanad, dan tanggung jawab kepada penggunanya.
Karena itu, pesantren tidak perlu takut menunggangi teknologi. Yang perlu ditakuti adalah kehilangan kendali. Tradisi harus tetap hidup, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan. Teknologi harus dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi tuan baru. Santri harus mampu menggunakan zaman tanpa diperbudak zaman. Inilah tantangan pendidikan pesantren masa depan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, kuda para kiai bukan cerita tentang kegagahan menunggangi hewan. Ia adalah cerita tentang manusia yang bergerak. Gentayu membawa ingatan perjuangan Diponegoro. Kuda putih mengiringi kisah perjuangan Kiai As’ad. Kuda menjadi latihan ketangguhan Kiai Noer Ali dan kendaraan dakwah Kiai Tambih. Semuanya mengajarkan arti perjalanan pengabdian kepada masyarakat.
Pesantren pun demikian. Ia bukan sekadar tempat seseorang pernah tinggal dan belajar. Pesantren adalah jalan panjang membentuk manusia yang mampu menunggangi perubahan tanpa kehilangan kendali. Sebab peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai membaca sejarah, tetapi oleh mereka yang berani berjalan, menentukan arah, dan meninggalkan jejak kemaslahatan bagi generasi berikutnya.

Fahmi Arif El Muniry ( Penulis )
