Oleh: Isfandiari MD

Ijin berbagi kisah. Seorang sobat, turunan Cina-Manado bikin kejutan. Dianggap keajaiban, ia bersila di depan ustad mesjid, bersahadat. Wajar dianggap ajaib, kok mau? Gaya hidupnya jauh dari ‘rasa’ muslim dimata awam: Super rasional, kadang sinis, intelek, lihai bergaul. Cenderung bikin iri, ia magnet bagi gadis-gadis cantik. Tampang bak artis korea, mendekati cantik walau pria, langganan dugem, uang banyak dan sangat konsumtif. Dulu diajak bicara seputar spiritual sangat alergi, bukan atheis tapi cenderung agnostik. Kini, takzim, di sudut mesjid, terbata-bata bersaksi tak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya. Bibirnya bergetar malah berurai airmata.
Selain girang-bersyukur ada banyak rasa penasaran. Tarohlah ia dari golongan lempeng, hidup tak banyak gejolak ekstravagansa, jenis manusia tertib, keinginan mualaf tak seberapa aneh. Tapi ia lain: hidup gemerlap, musik menghentak, mobil ceper, miras mahal dan selaksa surga dunia lainnya. Apa ada sepenggal hidupnya yang dramatis? Misal ujug-ujug bertemu malaikat, mendapat pengalaman diluar nalar atau sejenisnya. Atau bermimpi masuk neraka dengan nyala api berkobar-kobar? “Bukan..bukan katanya. Saya percaya, kagum takjud pada Islam.” Awalnya, ia iseng membuka buku-buku Islam, kagum pada Rabi’ah Al Adawiyyah, cewek Basra (801 M) soal cinta mistik, penyerahan diri total pada ‘kekasih’ –nya Allah lewat puisi mahabah berisi kecintaan sejati.”Itulah cara terindah mendekatkan diri,” tuturnya.
Pengalaman lain ia bagi. “Saya tertarik dengan agamamu! Pada pada nafsu keilmuan para ulama, yakin AL-Quran sebagai pijakan berbagai bidang: politik, fisika, ekonomi sampai etika gaul. Fisika tentang kepastian hukum alam , ada dalam surat Al Qamar 49:Susungguhnya kami menciptakan sesuatu menurut ukuran. Ditambah penguat lain di surat seperti Az Zariyat (47), As Sajdah (11-13), Fatir (14), AT Talaq (12) dan banyak lagi. Semuanya seperti guidance temuan-temuan ahli fisika ternama tentang Galaksi, teori dentuman besar (Big Bang) tentang materi dan banyak lagi. Pantas Ibnu Sina bisa membuat buku Al Magest tentang astronomi, Muhammad Bin Musa, perintis ilmu pasti. Atau Jabir Bin Hayyam, bapak ilmu kimia, fisikawan Al Hazen alias Ibnu Haitam dan banyak lagi,” nada suaranya yakin dalam kekaguman mendalam. Makin seru ia menyodorkan berbagai data: Paus Silvester II (999-1003) yang bernama asli Gerbert Of Auvergne, penyelidik angka-angka arab dan memperkenalkan angka nol pengganti angka Romawi di Eropa adalah lulusan perguruan tinggi Islam Qairawan di Afrika Utara. Universitas itu ada di bawah kekuasaan Daulah Al-Muwahhidun.
Sosial kemasyarakatan, “Hebat sekali. Nuruddin Ar Raniri, ulama Aceh abad 17 itu! Selain penyebar bahasa Melayu di Asia Tenggara ia juga penulis produktif bidang perbandingan agama, filsafat, akidah sejarah juga mistik,” katanya. Diteruskannya pada sepak terjang ulama besar, KH. Hasyim Ashari, Ali Ma’soem sampai ulama yang juga sastrawan H. Mahbub Djunaidi.
Percakapan intens ini hadir mulai Isya sampai menjelang subuh. Di penghujung malam itu, otak saya lelah ‘melouding’ data dari dirinya. Pengalaman intelektualnya menjadi mualaf membuat saya iri. Sepanjang hidup menjadi muslim, banyak dari kita mengalami kekeringan data dan merasa jalan di tempat. ”Sayang…sayang! Info ikhwal kecanggihan Islam harus diburu melalui literatur mahal di perpustakaan dan buku-buku. Sharing data yang dalam belum maksimal dilakoni mubalig pada umat. Mau contoh? Saya keliling-keliling mencari ilmu lewat kutbah Jumat. Yang didapat: retorika repetitif, kadang mengulang-ulang itu-itu saja. Diskripsi soal hukuman neraka kalau Anda menyimpang atau sebaliknya iming-iming nikmatnya surga jika berjalan sesuai aturan, serba luks dikelilingi dewi-dewi cantik yang siap melayani apapun kemauanmu. Kurang masuk kedalam hati jikabanyak penceramah menyodorkan informasi menggelikan, soal rantai emas terbang, kapal mundur atau jubah yang bisa bicara. Makin gawat, kadang bernada marah-marah, menyalahkan kaum lain apalagi agama lain soal kemunduran internal yang dialami masyarakat Islam. Humanisme seringkali kalah oleh rasa menjadi pemilik kebenaran. Kok harus begitu? Apa tak ada materi dan jalan lain?” katanya tinggi.
Saya lihat api Islam membara dalam dirinya. Ia seperti ingin menjadi aternatif, pasukan pembaharu sebagai penyegar suasana sumpek yang sering dirasakan. Saya seperti menaruh harapan besar pada dirinya. Bayangkan, baru mualaf sudah banyak ‘isi bensin’ pengetahuan tentang Islam. Ia seperti digambarkan sastrawan-penyair Kristen Maronit Lebanon, Khalil Gibran: seperti anak panah yang lepas dari busurnya! Roh pembaharu yang bakal mengisi kekosongan batin. Bisa jadi, ke depan ia jadi barisan potensial tokoh Islam yang bakal diperhitungkan.
Tak terasa adzan subuh berkumandang. Kamipun wudlu dan masuk mushola mewah di belakang rumahnya. Iapun mempersilakan saya jadi imam. “Silakan di depan, saya makmum!” Ini baru mualaf potensial, fresh dan menjanjikan. Subhanallah….
