MERETAS JALAN PANJANG…….
By Isfandiari MD

Apa boleh buat, Bandung wajid diberi respect para bikers atau motorcycle enthusiast se-Nusantara. Ada sumbangsih peraban bermotor di zona ini,romantika yang layak dikenang. Coba simak narasi bersejarah ini:
“Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap perintah agama dan melaksanakan tugas Negara kesatuan republik Indonesia, serta siap mengimplementasikan silih asih, silih asah, silih asuh dengan penuh tanggung jawab” –Kode etik Kehormatan HCB

Begitulah, kode etik Harley Club Bandung (HCB) dengan kearifan lokal paling diberi garis tebal, Silih Asih-Asah-Asuh! Para pionir ini menorehkan sejarah di 1960, pemuda-pemuda Sunda yang wara wiri, sangat eye cathing saat itu dan kini. Ini bukanlah sejarah terputus. Jauh hari, masih era penjajahan Belanda, Bandung khususnya sudah dibikin berisik knalpot motor yang kini diberi predikat rider atau collector item. Barang itu adalah Bike Who Wins The War, Harley-Davidson 45 kubik inc alias 750 cc. Tentunya ditunggangi opsir Belanda, para tuan tanah,onderming alias Demang di tanah berjuluk Paradise In Exile- Surga Di Pembuangan atau juga disebut Preangher Planters.
Sedikit nostalgia,serdadu Belanda dalam kesatuan berjuluk CORO (Cursus Opleiding Reserve Officieren) keluar dari markasnya, asrama (Kazerne) di Lapangan Siliwangi, riding ke Pieterspart (sekarang Taman Merdeka-Red)arah Utara Jalan Braga.Ikhwal ini ada disebut di buku Planolog Kondang Jawa Barat, almarhum Haryoto Kunto dalam buku Bandoeng Tempoe Doeloe. Atau sedikit diulas di adegan film Dilan-Ancika, saat Dilan (diperankan Arbani Yasiz) dan bokapnya diperankan Mathias Mutchus. Bokap Dilan ngasih edukasi singkat soal CORO ini, upacara bendera Vlag Vertoon dan Taptoe.

Sahabat-sahabat , senior HCB pastinya terispirasi moment itu. Opsir Belanda usia belia, klimis, rapi, riding Harley menuju Upacara rutin. Atau, merekadijejali cerita kolot baheula, saat opsir Belanda pakai sespan (side-Car) patroli, siapa tahu ada bajingan, kriminal yang resahkan warga Bandung. Sespan saat itu memang dipakai buat menangkap pesakitan untuk dijebloskan ke bui.

Kisah HCB sebelum menjadi klub terbilang panjang. Beres Belanda-Jepang-Sekutu hengkang, republik tidak juga stabil. Banyak pemberontakan menggoyang republik, salah satu yang terpanas, pemberontakan DI/TII, yang ikhtiar dirikan negara Islam, beda ideologi dengan kesapakatan founding father. Tentara merekan juga disinyalir pakai motor-motor terutama HD versi Army.
Pendiri HCB, almarhum Ayi Agus berkisah. Ia punya HD pertamanya hasil rampas gerombolan DI TII.”Kejadiannya di Sumedang, gerombolan kabur ke Gunung dikejar Tentara. Motornya ditinggalkan di jalan, saya masih usia belasan, dapat motor gratis untuk dipakai daily riding,” jelasnya. Disisir logika, gerombolan itu juga dapat dari rampasan Belanda dulu. Atau kisah Bpk. Jenderal (purn) Widjojo Soejono yang dapat motor dari perjuangan beliau. Setelah merdeka, HD WLA dipakai sebagai kendaraan operasional Pomal, Patwal juga dan Polisi Militer (PM).
Itulah cikal bakal HCB. Lanjut kisah, romamantika mereka makin berwarna. Mereka terkenal solid, setiakawan dan pastinya kreatif. Kata terakhir inilah yang paling diwarisi anak-anak Bandung sampai sekarang. Simak lelaku Almarhum Wiweko Soepono (1923-2000), mantan direktur Garuda Indonesia. Ia dijuluki bapak pesawat two man cockpit . Sebagai pejuang tulen ia dicatat sebagai pendiri Bandungsche Jongen Luchtvaart Club. Gila! merancang pesawat ekperimental saat di sekolah menengah ( 1936-1941) pada 27 Oktober 1948. Pesawat yang dinamainya WEL (Wiweko Eksperimental Lightplane/Pesawat ringan ekseperimental Wiweko) diberi jalankan oleh mesin Harley-Davidson ’the forty five’ 750 cc. Gen Z masih bisa lihat karyanya, ada di Museum Satrya Mandala Jakarta. Waktu itu, masih berusia 25 tahun.Salute!
KISAH SERU BARUDAK BANDUNG

Fokus di HCB- Mereka memang pembuka inspiratif komunitas Harley-Davidson yang ada sekarang. ”Waktu itu bikers tak mengenal perbedaan kasta. Kaya, miskin, pejabat, orang biasa, semua kompak berkat kesamaan hobi.” Abah Rachmat Hidayat almarhum, aktor legendaris dan ketua pertama HCB bertutur. “Mereka yang doyan HD sepakat bikin klub Harley Club Bandung Ya.., kamilah yang pertama.” Sederet legend hadir di era itu, ada Letnan. Poniman (Alm), H.Bariji (Alm), Kang R.Amir (Alm), Brigjen Somali dan Haryoto Kunto (Alm), planolog kondang sekaligus penulis buku Bandung Tempo Dulu. Zaman dulu mereka raja jalanan, punya nyali ekstra.Mereka berani amankan anak-anak pejabat bandel yang kebut-kebutan di Dago. ”Waktu itu kami berani!” kenang Saulus De Soil Lacaden, pengurus HCB masa kini.
Ini yang unik. Semua anggota HCB menamai motornya Bunga Klasik. Saat tur bawa bekal sendiri, langseng, kuali, beras, kecap untuk ngeliwet di perjalanan. “Untuk melepas lelah tak sungkan kami tidur di emperan toko. Itulah masa-masa paling bahagia. Secara historis, kami turut serta membinani kelahiran HDCI. Kita HCB mendapat tugas menjadi panitia pelaksana Munas I HDCI 24-27 mei 1990 beragendakan peleburan klub-klub HD se-Indonesia di Wisma Garuda. Plakat MUNAS HDCI di Bandung itu masih ada dan rapat penurus dilakukan di pos RW Kelurahan Cikutra. Saya mejadi salah satu panitianya.” Info penting dari Saulus Lacaden.


Sejak tahun 60an sampai sekarang dinamika harleymania memang sangat dinamis. “Momen historikal lainnya ada di tahun 1973 saat digelar wingday pertama. Waktu itu, penyemplak HD berusaha keras mendapatkan wing mereka di pantai ini. Perjalanan yang nggak mudah. Jalanan masih jelek dan tunggangan juga nggak secanggih sekarang. HD waktu itu didominasi the forty five (750 cc, army atau civil) atau yang berbasis big twin Knuckelhead, Panhead atau Shovel. Motor-motor ini terbilang bukan motor yang mudah disemplak. Perlu adaptasi dan nyali karena kapasitas besar dan hanya bisa dihidupkan dengan kick start. Disinilah karaktert keras, macho harleymania kelihatan. Dengan penuh haru dan bangga,”jelas Drs. H. Indrodjojo Kusumonegoro atau lebih beken disapa Indro Warkop, komedian papan atas Indonesia. Bro Indro bercerita sekilas romantika saat itu. Beberapa harleymania senior langsung masih bisa mengingat momen itu dan merasakan aura yang ada menurut versinya masing-masing.
Jadi jelas, motoris Bandung adalah pionir yang mencatatkan sejarah!
