Pakar manajemen modern seperti Peter Drucker, psikolog andal Daniel Goleman, hingga sosiolog terkemuka Pierre Bourdieu telah lama mengupas tuntas modal fundamental bagi lahirnya generasi yang tangguh.
Oleh Isfandiari MD
Pakar manajemen modern seperti Peter Drucker, psikolog andal Daniel Goleman, hingga sosiolog terkemuka Pierre Bourdieu telah lama mengupas tuntas modal fundamental bagi lahirnya generasi yang tangguh. Mulai dari penguasaan pengetahuan, kreativitas tingkat tinggi, kemampuan memecahkan masalah, ketahanan mental, disiplin, kepercayaan diri, jaringan pertemanan (networking), hingga nilai moral dan integritas. Namun, di balik sekian banyak instrumen tersebut, ada satu hal esensial yang tidak boleh diabaikan: totalitas. Konsep ini pernah dibahas secara mendalam oleh sang Guru Bangsa, Haji Oemar Said Tjokroaminoto (H.O.S Cokroaminoto) yang berjuluk Raja Jawa Tanpa Mahkota. Warisan berharganya yang lahir pada awal abad ke-20 terangkum apik dalam trilogi masyhur: Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murnina tauhid, dan sepintar-pintarnya siasat. Ketiganya merupakan tiga pilar utama modal manusia atau sebuah bangsa agar sukses mencapai tujuan besarnya.
Pilar pertama, setinggi-tingginya ilmu, berada di ranah intelektual yang menuntut wawasan luas, pikiran cerdas, dan karakter well-informed. Di dalam intelektualitas ini, tertanam secara kuat pilar toleransi keberagaman. Berbeda latar belakang bukanlah sebuah masalah; mereka tetap dapat bersatu padu tanpa harus kehilangan identitas kebangsaan serta mampu berkolaborasi dalam perbedaan. Pilar kedua, kemurnian tauhid, berfungsi sebagai fondasi spiritual yang kokoh bagi setiap insan. Dengan keyakinan dan keimanan yang bersih, manusia tidak akan mudah goyah dalam menjalani dinamika kehidupan karena memiliki tauhid murni sebagai kompas moral. Sebagai pamungkas, pilar ketiga yaitu sepintar-pintarnya siasat yang berbicara tentang strategi. Siapapun orangnya, mereka wajib mengasah olah pikir dalam hal berstrategi, taktik, serta diplomasi yang mumpuni demi menghadapi berbagai tantangan zaman di tengah arus globalisasi yang kian deras.
Bagi generasi Z, generasi Alpha, dan generasi seterusnya, hal ini tentu bukan sekadar perkara sepele. Mau tidak mau, mereka harus siap berhadapan secara head-to-head dengan selaksa tantangan yang menghadang agar bisa menjadi ndoro (tuan) dan bukan sekadar jongos (budak) di negeri sendiri. Totalitas dalam trilogi pemikiran para leluhur bangsa ini menjadi modal utama untuk mengarungi samudra tantangan yang kompleks. Terlebih lagi, situasi masa depan diprediksi jauh lebih rumit, mengingat kita sudah mengalami lompatan ekstrem (leaping forward). Saat ini saja, kebutuhan akan penguasaan teknologi serta sains modern seperti Data Science, Cybersecurity, Biotechnology, hingga AI Prompt Engineering sudah menjadi sebuah keharusan. Disiplin ilmu tersebut terhubung secara langsung dengan komputasi kuantum, algoritma media sosial, serta disrupsi teknologi yang merombak total cara belajar, sistem produksi, hingga strategi masa depan bagi generasi muda.
Jika perubahan ini tidak disikapi secara serius dan anak muda hanya memilih untuk ‘rebahan’, maka fenomena pemutusan generasi (generational gap) yang fatal akan benar-benar terjadi dan berdampak buruk bagi kelangsungan bangsa. Kondisi yang ada hanya akan terjebak dalam lingkaran stagnasi, di mana anak-anak muda sekadar menjadi objek mobilisasi, alat kepentingan agenda elit, atau sekadar instrumen penggalangan massa untuk kepentingan sesaat. Kalangan akademisi, seperti sahabat penulis yaitu ET Hadi Saputra, turut mewanti-wanti agar pemanfaatan teknologi tidak sekadar berfokus pada aplikasi instan, pembuatan portal berita seremonial, atau berujung pada platform statistik yang mangkrak pascapeluncurannya. Jangan sampai teknologi digital hanya berhenti sebagai alat publikasi semata, alih-alih menjadi wadah rekayasa pengetahuan berbasis sanad keilmuan yang terintegrasi. “Hasilnya adalah kebingungan sistematis dan gagap struktural dalam membaca arah zaman,” ungkapnya dengan nada serius.
Baca Juga : Mengapa Kebijakan Selalu Berakhir Jadi Bancakan?
Kendati seluruh kemampuan tersebut berhasil dikuasai, masih ada satu hal lain yang tidak kalah urgen. Berbagai rekayasa teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) ataupun algoritma digital pada dasarnya tidak memiliki landasan moral yang otonom. Jika salah arah, dampaknya bisa sangat destruktif, mulai dari ancaman homogenisasi budaya hingga erosi kearifan lokal. Masih menurut pandangan Hadi, hal tersebut bahkan berpotensi mengarah pada kejahatan digital atau malah praktik kapitalisme eksploitasi siber. Oleh karena itu, generasi muda mutlak memerlukan ‘senjata’ tandingan berupa proteksi kuat, semisal tradisi intelektual kaum santri melalui bahtsul masail sebagai bentuk kegiatan ilmiah yang wajib digalakkan. Aktivitas semacam ini dapat berfungsi sebagai panduan etis sekaligus kompas etika global yang membentengi masyarakat dari dampak buruk modernisasi.
Pada akhirnya, perwujudan totalitas paripurna ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk menentukan apakah generasi mendatang akan tumbuh secara stagnan atau justru progresif. Hal ini berlaku baik untuk jangka panjang maupun dalam rentang trek pendek demi menyongsong persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Insya Allah, dengan kesadaran kolektif dan usaha yang sungguh-sungguh, hal tersebut pasti bisa diwujudkan!

Tentang Penulis
Isfandiari Mahbub Djunaidi adalah seorang jurnalis senior, penulis, dan Wasekjen PBNU yang juga merupakan putra dari sastrawan legendaris Mahbub Djunaidi [Penerbit Javanica]. Mewarisi darah literasi sang ayah, ia aktif menulis karya bertema biografi dan subkultur, termasuk buku “Bung: Memoar Tentang Mahbub Djunaidi” [Penerbit Javanica]. Di luar ranah keagamaan dan literasi, ia dikenal luas sebagai tokoh pergerakan motor di Indonesia, Gus is panggilan akrabnya juga menjadi Pimpinan Umum dimedia online gasride.net, serta membagikan cerita dan esai kesehariannya lewat Instagram @isfanoutsider
