By Isfandiari MD

Ada buah pikiran menarik dari Syed Habibul Haq Nadvi, guru besar dan kepala departemen of Arabic studies, Universitas Durban/Westville. Ia juga menulis buku beken semisal The Holy Prophet of Islam and the Orientalist dan The Dimension Of Islam Education. Buah pikirnya: Politik pendidikan, kolonial dirancang hasilkan pegawai kantor bermental budak. Bakat terpendam yang kreatif dicuci otak. Sistem pendidikan kolonial tanamkan rendah diri, ajarkan muslimin atas pengertian Islam peniru segala sesuatu. Ini jauh dari kenyataan! Islam menurutnya sangat digdaya di soal keilmuan. Ia mengutip beberapa buku, The Stolen Legacy (Goerge GM James) yang dengan jelas bilang ilmu dari Eropa diambil dari peradaban Islam. Filsafat Yunani diambil dari filsafat Afrika Utara dan Mesir. Filsuf pra-Socrates semua berasal dari Mesir. Pemikir macam Socrates, Plato dan Aristoteles tidak ajarkan hal baru. Perpustakaan di Iskandariah adalah sumber mereka semua. Ada strategi licik orientalis agar Islam makin terpuruk. Selalu saja memberi gambaran jika kebangkitan kontemporer Islam fundamental tak lebih dari kambuhnya budaya Arab primitif. Setiap kegiatan pembaharu di dunia Islam pede disebut meniru Barat. Islam dianggap tidak ada kemampuan rekonstruksi ke dalam. Makin parah, dibilang kalau kebangkitan Islam bersumber dari pendidikan , liberalisme, patriotisme dari sistem sosial politik barat yang unggul. Semua ini ditanamkan sejak jama penjajahan. Padahal cendikiawan muslim masa lalu luarbiasa dahyat mempengaruhi alam berpikir peradaban modern sampai sekarang. Mereka sangat progresif di dunia pemikiran. Alim ulama, pemikir Islam cemerlang jadi penentang paling depat atas rasionalisme Yunani yang lemahkan keimanan dan eksistensi Tuhan. Dalam dunia Islam sejati, ilmu dan iman berjalan beriringan dan jadi energi besar membangun peradaban manusia,
Intinya ia usulkan untuk re-thinking progresif mengembalikan ‘api’ Islam dalam keilmuan di sistem pendidikan kita, prioritaskan literatur cendikiawan muslim ketimbang para orientalis di kampus kampus. Jadi itulah, ilmu dan iman satu paket utuh seperti perintah Allah dalam Al-Mujadilah ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
“Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan
Olah karsa dan karya Syed Habibul Haq Nadvi lebih detail dituangkan dalam karya buku Dinamika Islam sekaligus kritik pada buku The Encyclopedia Islam para oriantelis yang menurutnya tidak proper malah cenderung merendahkan peradaban Islam ikhwal keilmuan. Awal bab ia bahas analisis kedudukan Islam yang ajeg hadapi gempuran musuh Islam. Peran kaum sufi, aktivis Islam sebagai pendorong kebangkitan Islam. Lalu dibahas soal aturan hidup dan agama konseptual yang absah. Tentang kepribadian Rasulullah yang tentukan perkembangan Islam di kemudian hari. Soal pendidikan Islam dan Barat, sumbangsih kaum muslimin atas perkembangan ilmu pengetahuan, masalah keadialan sosial-politik dan seterusnya. Menyoal ini, T.B.Irving, Emeritus-Universitas of Tennesse.Knoxville-Amerika komentar, karya Syed Habibul sangat penting. Tujukkan Islam tidak stagnan-statis dan usulkan karyanya dibaca sebagai buku wajib di Universitas. Buku yang mencela filsafat atheistis tentang epistemologis. Ia lebih membela sistem pendidikan yang being oriented daripada activity oriented. Cendikiawan muslim ini percaya betul jika filsafat normatif memerintahkan agar kebajikan spiritual yang utama disebar sebagai norma-norma edukatif.
Sebuah masukan penting bagi kita semua, pemikir, ulama, penceramah dan muslimin keseluruhan. Inspiratif sekali!

