INVOLUSI OJOL UNPAD

By Isfandiari MD

Isfandiari MD

….Terjadi demo ojek online (Ojol)  di kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor Sumedang, Selasa (31/3). Tak cuma di lapangan, tiktok dan beberapa platform media sosialpun ramai….

Keluhan ojol terasa wajar, terpaksa muter di gerbang atas, dilarang masuk di gerbang bawah kampus. Di titik jemput tertentu,  ojol lebih susah payah ketimbang biasa untuk jemput pelanggan di lingkungan kampus, berat dari sisi fisik utamanya efisiensi bahan bakar. Penghasilan berkurang, nafkah semakin berat.

          Aturan melarang ojek masuk di gerbang khusus mahasiswa dan pegawai kampus  pastinya lahir dari diskusi intens internal mereka. Gerbang khusus mahasiswa, dosen , pegawai kampus agar traffic tidak terlalu padat. Gerbang yang boleh dimasuki ojol juga atas petimbangan seputar itu,  ada pertimbangan keamanan, kenyamanan dan seterusnya. Urgent kah?

          Urgent tidaknya relatif tergantung sudut pandang. Tapi menyoal  pendidikan dan karakter yang akan dihasilkan civitas akademika tentu lain cerita. Aturan yang menyulitkan ojol langsung terhubung dengan empati juga solidaritas sosial yang harus ditanamkan mahasiswa sejak dini. Selain ilmu yang didapat di fakultas masing-masing, mereka wajib dibiasakan menjauh dari polah laku involusi.  Dalam konteks sosial, istilah ini terkait dalam beberapa perkara. Situasi gampang dibuat sulit, dekat dibuat jauh, ringan jadi berat  dan banyak lagi. Involusi bisa masuk pada sistem, birokrasi berbelit, urusan simpel menjadi ruwet,  beres di satu meja jadi beberapa meja supaya terlihat penting-berwibawa, ongkos urusan harusnya murah jadi mahal. Hasilnya, korban involusi jadi tersendat-sendat, susah payah, terseok-seoak dalam hidup yang semakin berat akibatnya: stagnasi kesejahteraan.

Persoalan ini jadi renungan mahasiswa juga. Mereka yang punya kendaraan sendiri atau andalkan ojol sejatinya berpikir. Memberatkan giat nafkah ojol di lingkungan kampus tentu bertentangan dengan pembangunan karakter mereka setelah terjun ke masyarakat. Persoalannya bukan sekedar gerbang yang boleh atau tidak semata.  Di sini kecerdasan spiritual mahasiswa diuji, bagaimana respon mereka atas aturan ini.  Insan yang peka tentunya menimbang, ikut merasakan beratnya mencari nafkah para pejuang rupiah diluar lingkungan kampus. Mereka ingin mencapai pemahaman sebagai mahasiswa ideal sesuai prinsip output dunia pendidikan. Di sisi kognitif dapat pengetahuan, pemahaman dan keterampilan intelektual dan afektif: sikap, nilai, empati, solidaritas sosial  dan seterusnya.

          Pengelola kampus tentunya bisa manfaatkan momentum ini. Jika merenung dan bertimbang ulang, bisa jadi aturannya direvisi kembali. Karena trafficnya  di lapangan juga tidak terlalu urgent, ojol bisa beroperasi seperti biasa tidak menambah berat mereka  dalam giat nafkah yang nyatanya sudah berat. Mahasiswa memetik pelajaran berharga juga, betapa kampus mendidik mahasiswa berempati pada lingkungan sekitar dengan berani merubah keputusan.

          Syukurlah, hari berselang, Aiesha Rengganis, mahasiswi Unpad jurusan digital merketing kasih bocoran. “Demo akang Ojol buahkan hasil, aturan tak boleh masuk batal. Mereka boleh bergiat nafkah seperti biasa,” katanya.

          Begitulah,  karena demo, ada tekanan, ada reaksi, aturan dibatalkan. Ya, setelah para bikers ini menyatukan diri, hadir massal  di zona Unpad suarakan aspirasi. Hari yang lelah dan sulit  karena hari itu mereka tak bica cari uang demi sebuah perjuangan.

          Berat memang!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *