Opini

ROMANTIKA MUKTAMAR NU:  NAHDLATUL  ULAMA  SASARAN HOAX SEJAK 1927

By Isfandiari MD

Apa boleh buat, Nahdlatul Ulama sering  jadi sasaran bully, hoax rongrong wibawa Kyai. Hatters-nya  ‘berkembang biak’ menyimak tingkah polah santri untuk jadi sasaran tembak. Organisasi  besar memang penuh tantangan. Bukan cuma sekarang, tapi mulai awal kelahirannya. Mari bernostalgia….

Hoax bikin jengkel terjadi di Muktamar ke 2 Nahdatoel Oelama (NO), Surabaya 9 Oktober 1927. Paham kalau NU (dulu NO) organisasi Islam besar dan berpengaruh,  kolonial Belanda sebar berita bohong, disimpan dalam arsip Koloniaal Archief Gehein Mail Rapport 216/X/28-Laporan Surat Rahasia Kolonial, disimpan di Nationaal Archief (Arsip Nasional), Denhaag Belanda. Isinya bikin geger! NU pro Belanda! Memuji-muji pemerintah kolonial dalam masalah agama dan berharap kesinambungan kerjasama dengan Belanda. Keterangan ini disampaikan Rais Akbar KH. Hasyim Asy’ari dihadapan 2000-an nahdiyin, mesjid Ampel Surabaya. Malamnya digelar rapat umum, hadiri 1500-an kyai- santri. Digambarkan Belanda, pucuk tertinggi NU terus memuji muji Belanda, mesra dan sangat kooperatif. Makin afdal, Belanda mendramatisir,   segera gebuk ormas atau umat Islam  pemberontak apalagi bawa agama untuk urusan politik. Keras warning Belanda:  Mereka calon pesakitan, dihukum, dibuang ke Boven  Digul Papua Selatan, ujung Timur Nusantara. Di jaman itu naik kapal laut, Jawa-Digul bisa sebulan. Bayangkan!

          Arsip intel Belanda itu tak sesuai fakta.  Sikap NU dari awal konsisten: non koperatif pada Belanda. Penjajah tahu betul, walau NU fokus di soal agama, organisasi itu potensi ancaman. Tokoh-tokoh NU diawasi ketat. Apalagi gebrakan NU membuka komunikasi internasional lewat komite Hijaz (1926). Masuk akal jike Belanda cemas. Giat ini  dipimpin KH. Abdul Wahab Chasbullah, menemui raja Ibnu Saud di Saudi Arabia. Agenda meeting soal kebebasan bermahzab, pelestarian situs sejarah, keterbukaan tarif haji,ada juga tentang hukum.

Muktamar ke 2 yang diplintir Belanda membahas hal penting. Disepakati KH. Hasyim Asy’ari sebagai rais akbar, KH. Hasan Gipo ketua Tanfidziah. Diskusi intens masalal aktual hukum Islam (bahtsul masail), penguatan organisasi, diperkenalkannya lambang resmi NU atas karya seniman-ajengan, KH. Ridwan Abdullah, terbit majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) dengan pemrednya KH. Wahab Chasbullah, mengukuhkan peran ulama tradisional di tanah air juga perannya dalam pergerakan nasional. Kyai-kyai kharismatik lain hadir sebagai saksi sejarah. Ada KH. Masykur,KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo),KH. Machrus Ali (Surabaya-Kediri), KH. Ma’sum (Krapyak-Jogjakarta), KH. Mustamid (Buntet Cirebon) dan banyak lagi. Dan semuanya konsisten, pilih non kooperatif. Lanjutannya di muktamar ke X Nu (Solo, April 1935),  makin keras menentang Belanda, bahas hukum penggunaan seni, broadcast sebagai media perjuangan, cinta tanah air. Saat itu ketua tanfidziahnya KH. Mahfud Shidiq, kelahiran 10 Mei 1907 pimpinan ponpes Ash-Siddiqiyah Jember. Saat itu beliau masih belia, 28 tahun.

Kini situasinya sudah lain. Dulu berhadapan langsung head to head dengan Belanda, kemudian Jepang, lalu komunis,  lanjut bertempur dengan radikalis Islam. Paling kekinian, melawan  hatters  offline atau medsos yang tak suka NU ajeg. Pe’er di kalangan Nahdiyin, struktural-kultural jelas, beberapanya menjaga sikap ideal kesantrian, adem, santai, cerdas, berilmu, strategis  dan peka. Ingat, polah para santri disorot terus, dicari celahnya demi hancurnya wibawa NU, termasuk hal-hal receh.

Selamat menjelang Muktamar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *