OPINI

BUNG TOMO, ISMAIL SUNNY, MAHBUB DJUNAIDI, REBEL YANG VIRAL DI JAMANNYA

By Isfandiari MD

foto by Hafil Pramoedya

Turun tulisan dari TEMPO No.7 Thn IX, 14 April 1979.Setelah ditahan setahun kurang dua hari, Bung Tomo, Mahbub Djunaidi dan Ismail Suny dibebaskan juga. Semula mereka dituduh subversi, tapi belakangan kabarnya dikenakan tuduhan menghasut mahasiswa. Tapi yang pasti mereka tampak gembira, juga Mahbub masih sakit…” Pastinya keluarga masing-masing girang bukan kepalang. Ketiganya berkumpul lagi dengan keluarga setelah 1 tahun lebih mendekam jadi pesakitan di NIRBAYA singkatan Interniran Berbahaya, persis belakang Taman Mini, Jakarta Timur.

          Tiga tokoh ini bukan kaleng-kaleng. Siapa tak kenal Bung Tomo, sosok legendari pertempuran 10 November Surabaya. Pidatonya mengguncang dunia dan membuat tentara Inggris keok, 2 jendralnya tewas. Ismail Sunny dan Mahbub Djunaidi juga beken, yang pertama rektor Universitas Muhammadiyah dan yang kedua tokoh NU, kolomnis-wartawan kondang.  Bertiga memang getol kritik pemerintah Orde Baru, dianggap pembangkang, subversif, hasut mahasiwa.Tak hanya mereka, di Nirbaya, ditahan juga Oemar Dhani, pak Singgih dan tokoh-tokoh lain.  Oemar Dhani atas keterlibatannya di G30-S PKI, ditahan sejak 1966.

          Khusus ketiganya, banyak cerita terkuak. Bung Tomo misalnya, terlihat lebih gemuk dari biasanya. Beliau berseleroh pada wartawan akibat banyak makan dan dilarang senam. Diantara tahanan Bung Tomo diledek cengeng, sering menangis terutama saan perayaan 17 Agustus, saat bendera berkibar di langit Nirbaya. Mahbub sesekali dijenguk keluarganya. Saat anaknya yang masih  bocah besuk, dia ngetes anaknya itu,”Lu tau siapa om ini?” katanya menunjuk ke Bung Tomo. Anaknya bingung tak kenal,”Ini yang sering kamu lihat di pelajaran SD, pahlawan perang 10 November!” Bung Tomo cuma mesem-mesem saat anak itu mencium tangannya. Pernah Mahbub berkisah saat ia dan Bung Tomo bergiliran mengurus sel. Waktu Bung Tomo kebagian cuci piring, Mahbub menggodanya,”Miris nasibmu Bung, pahlawan hebat berakhir di ujung ruang sempit mencuci piring!” Yang digoda tertawa lepas,” Rezim yang kejam..” Diceritakan, mereka tertawa bersama-sama sekedar pelipur lara.

          Peristiwa yang menimpa ketiganya memang fakta sejarah. Waktu itu mereka masih terbilang muda, Bung Tomo pertengahan 50-an, Mahbub dan Suny belum lagi beranjak 50 tahun. Di masa itu, menjadi oposan dan getol mengkritik pemerintah beresiko tinggi. Buktinya, semuanya ditangkap begitu saja, tanpa ada warning bahkan mirisnya tak ada proses pengadilan dan tak ada bukti kesalahan secara hukum. Jaksa Agung Ali Said ditanya wartawan sehabis menghadiri Palantikan badan Pembina Pelaksanaan Pndkidikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila di Istana hanya komentar, ”Berdasarkan pemeriksaan sementara tak ada alasan lagi menahan mereka bertiga. Mereka bebas tanpa syarat,” katanya. Begitu saja! Ismail Suny yang cendikiawan respon, “Sebagai ahli hukum, saya sudah tahu sebelumnya tentang pembebasan ini. Penahanan perkara subversi paling lama kan setahun,” ujarnya.

          Apapun itu, semua menyisakan penderitaan keluarga tak berujung. Mahbub misalnya, saat ditangkap di JL. Nilem Dalam Bandung, buku-buku koleksinya ikut hilang. Tentara datang obrak-abrik rumahnya mencari dokumen.  Ia dibawa ke JL. Jawa Bandung, markas tentara lanjut diboyong ke Jakarta langsung Nirbaya. Sahabat dan tokoh-tokoh parta PPP juga kalangan NU berusaha menjaminnya tapi tak berhasil. PBNU misalnya, ikhtiarkan pembebasan ketiganya  tapi tidak diteken Kyai Idham Chalid, ketua PBNU saat itu. Yahya Ubaid, Sekjen PBNU intens ikhtiar pembebasannya, juga Imron Rosyadi yang tidak pakai ‘baju’ PPP tapi sebagai Ketua Komisi 1/Hamkam DPR RI. Enam pejabat DPR  lain juga turun berusaha, beliau adalah KH. Yusuf hasyim, Zamroni, KH. Saifuddin Zuhri, Anwar Nurris, Muchtar Khudori dan Romas Jayasaputra. Dan begitulah, usaha anggota DPR tak berimbas, kalah kuat oleh  Sudomo (Wakil Panglima ABRI-Wapangab) merangkap Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Danramil dan jajarannya.

Di sisi Mahbub, ekonomi keluarga goyah karena penghasilan hanya bertumpu honor tulis yang tak seberapa. Hasni Asmawi, istri Mahbub menyambung hidup menjahit baju sampai anaknya berjualan es. Klimaksnya, rumah dijual dan pindah melipir ke Selatan Bandung. Darah tinggi Mahbub juga kambuh di tahanan, ia lantas dipindahkan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dan kesehatannya tak pulih juga sampai kematiannya di 1995. Syukurlah, semasa hidup ia tak jua kapok menulis kritikan.”Saya ini tukang jual tulisan. Selama masih ada yang mau membeli saya akan tetap menjual,” tekadnya. Dalam penjara ia tetap produktif, salah satunya menterjemahkan buku The Road to Ramadhan karangan wartawan Mesir Mohamed Heikal.

          Dari sisi kekinian, mereka orang bernyali besar. Jaman itu, kontrol sosial dianggap pembangkang resikonya bukan main-main, masih untung dipenjara bisa jadi hilang. Untungnya ketiganya selalu ada di radar publik dan pantauan internasional atasnama HAM. Bung Tomo, Ismail Suny dan Mahbub dikenal masyarakat luas dan jadi salah satu faktor keselamatan mereka. Sekarang, kritik bisa jauh lebih leluasa. Era digital membuat semuanya serbaterbuka. Semua bisa disampaikan tanpa filter, kritik bermutu atau sekedar cacimaki kosong.

          Sejarah menorehkan catatan pelajaran akan insan-insan yang turut membangun bangsa. Respect kepada mereka bertiga, alfatihah….

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *