Oleh : Ariq Bratasena Adhinata
“Melihat keris dan pusaka Nusantara bukan sekadar dari bilah logamnya, melainkan membaca ulang kitab peradaban, etika, dan spiritualitas luhur yang dipahat oleh para leluhur.”
1. Latar Belakang & Jejak Akademis
Romo Donny Satryo Wibowo, S.S., M.Pd. (yang juga dikenal dengan nama keluarga Donny Satryo Wibowo Ranoewidjojo) merupakan sosok budayawan, akademisi, dan peneliti kebudayaan yang memiliki fokus mendalam terhadap Tosan Aji (seni kriya logam dan keris tradisional Nusantara).
Sebagai seorang sarjana sastera dan magister pendidikan, beliau memadukan pendekatan akademis yang sistematis dengan penghayatan kultural yang kuat. Keterikatannya dengan lembaga-lembaga kebudayaan dan penelitian salah satunya di lingkungan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (PPKB FIB UI) serta jaringan perkerisan dan seni tradisi seperti Lesbumi menempatkannya sebagai salah satu figur penting dalam jembatan antara dunia tradisi dan dunia akademis modern.
2. Perjuangan & Dedikasi Menjaga Pusaka Nusantara
Perjuangan Romo Donny dalam dunia kebudayaan bukan sekadar berfokus pada koleksi atau kepemilikan benda fisik, melainkan pada penyelamatan nilai, filosofi, dan sejarah yang terkandung di dalam benda pusaka.
A. Demistifikasi & Pelurusan Cara Pandang
Di tengah masyarakat modern, benda pusaka khususnya keris, sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem:
- Dianggap semata-mata sebagai benda klenik/mistis yang diselimuti mitos irasional.
- Dianggap sekadar barang antik dagangan yang kehilangan roh filosofisnya.
Romo Donny mengambil peran aktif dalam melakukan demistifikasi. Beliau mengedukasi publik bahwa pusaka Nusantara adalah puncak pencapaian seni metalurgi, estetika, dan spiritualitas pada zamannya. Melalui pendekatan hermeneutika dan semiotika, beliau menjelaskan bahwa pola pamor, bentuk dapur, dan luk pada keris adalah kode simbolik tentang ajaran hidup, etika kepemimpinan, dan kosmologi Nusantara.
B. Edukasi Tata Krama & Etika Perkerisan
Salah satu aspek utama yang konsisten digaungkan oleh Romo Donny adalah pentingnya tata krama (etika) dalam memperlakukan pusaka. Bagi beliau, memegang, memelihara, dan mencabut bilah keris dari warangkanya memiliki ritual dan aturan yang mencerminkan rasa hormat kepada karya seni luhur dan penciptanya (Mpu). Etika ini melatih keheningan batin, kesabaran, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
C. Kodifikasi & Pengkaji Kurikulum Kebudayaan
Sebagai seorang pengajar dan peneliti, Romo Donny terlibat aktif dalam mengodifikasikan pengetahuan lisan dan manuskrip lama ke dalam bentuk kajian ilmiah yang dapat diakses generasi muda. Beliau menyusun bahan ajar, modul muatan lokal, serta materi literasi perkerisan agar seni Tosan Aji tidak punah ditelan zaman dan tetap relevan dalam dunia pendidikan formal maupun non-formal.
3. Matriks Kiprah dan Dimensi Pemikiran
| Dimensi | Bentuk Perjuangan & Fokus Kerja |
| Akademis & Penyelidikan | Mengkaji Tosan Aji dari sudut pandang sejarah, metalurgi kuno, semiotika visual, dan falsafah hidup Nusantara. |
| Edukasi Publik | Menjadi narasumber seminar, bedah buku, dan sarasehan budaya untuk meluruskan stigma klenik pada benda pusaka. |
| Pelestarian Etika (Adab) | Mengajarkan tata cara perawatan, etika penghormatan pusaka, dan makna spiritual di balik ritual penjamasan (siram pusaka). |
| Jembatan Kebudayaan | Membangun dialog lintas ikatan (lintas agama, komunitas kolektor, dan akademisi) untuk memposisikan pusaka sebagai warisan kebudayaan bangsa. |
Baca Juga : Forum Keberagaman Nusantara (FKN): Benteng Toleransi di Tengah Pluralisme
4. Relevansi bagi Generasi Muda & Masa Depan Warisan Nusantara
Di era digital dan globalisasi, Romo Donny Satryo Wibowo menekankan pentingnya menjaga identitas kebangsaan melalui akar budaya. Benda pusaka tidak boleh berakhir hanya sebagai penghias dinding museum atau narasi masa lalu yang berdebu.
Bagi beliau, menjaga keris berarti menjaga memori kolektif bangsa. Keris yang diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity memerlukan pengawal-pengawal kebudayaan yang konsisten yang tidak hanya bangga secara verbal, tetapi juga memahami kedalaman ilmunya (ngelmu).
Melalui dedikasi penulisan, pengajaran, dan aksi nyata dalam komunitas kebudayaan, Romo Donny terus menyalakan api literasi Tosan Aji. Perjuangannya membuktikan bahwa warisan leluhur Nusantara memiliki tempat yang terhormat, bernilai ilmiah tinggi, dan tetap menjadi kompas moral serta estetika bagi generasi masa kini dan mendatang.
