MENJELANG MUKTAMAR KE 35 TAMBAK BERAS

HASRAT LEAPING FORWARD

Oleh:H.N Falah Amru- Anggota DPR RI

H.N Falah Amru-Anggota DPR-RI

Putusan  jitu saat  Tambak Beras Jombang jadi pilihan perhelatan akbar Muktamar NU ke 35. Selaksa romantisme historis terjadi di sini. Di masa silam, terjadi perjumpaan sanad agama dan kearifan adat Nusantara. Zona bebuka fondasi keilmuan nahdiyin dimotori tokoh multi dimensi, KH. Wahab Hasbullah. Isi pikirnya jadi embrio  keberagaman, fleksibilitas, warisan leluhur Nusantara termasuk kelenturan pergaulannya di berbagai kalangan. Sejarah mencatat prestasinya dalam kelahiran Taswirul Afkar, gerakan komite hijaz atau yang ‘ringan’ seperti jasanya dalam membentuk perkumpulan sepak bola sampai lifestylenya di dunia otomotif.

Energi Tambak Beras mendorong giat mulia pengurus benahi tata kelola internal yang sedang krisis sekaligus merangkai ulang puzzle terserak kemana NU melangkah dalam koridor konstitusi negara. Moment ini jauh dari sekadar debat seru demi porsi kekuasaan, rebutan pengaruh 5 tahunan atau hingar bingar ekstravaganza massa membludak penuh semangat seperti mars epik, Ya lal Wathon. Tak sekadar perhelatan seru riungan tokoh spiritual ahlus sunnah wal jama’ah  kyai, nyai, ajengan, gus bareng jutaan santri struktural ataupun kultural..

          Prioritasnya keselarasan substantive- pemegang kekuasaan tertinggi, penentu strategis, etika jami’ah  (syuriah) dan para teknokrat, birokrat, pelaksana operasional (executing body) berjuluk tanfidziah. Keduanya ditantang selaras-harmonis sejalan mandat sila 4 Pancasila- musyawarah mufakat. Bukan perkara mudah, perlu ekstra giat demi hasil idaman, pinjam slogan Mao Tse Tung, pemimping Tiongkok  –leaping forward-. melompat jauh ke depan hindari tergerus peradaban. Jangan sampai kejadian, terlihat dinamis tapi nyatanya  ‘jumud’ – stagnan. Tak boleh kejadian, syuriah melemah akibat terlalu ‘lincahnya’ tanfidziah bertransaksional.

          Keselarasan keduanya jadi harapan terbesar. Dua unsur penentu kebijaksanaan strategis kelembagaan, tata kelola aset termasuk kordinasi dengan pihak eksternal utamanya urusan bisnis demi pendanaan penggerak roda organisasi. Simpelnya, tanfidziah punya rem, strategi mencari berkah dan takzim, sedang syuriah tak sekadar stempel legitimasi formalis tapi  garda depan keputusan krusial, sinergi antarlembaga, masalah hukum sampai investasi. Ia pengendali lewat saringan bahtsul masail, uji konstitusionalitas sampai soal terkait adat-agama. Semuanya terkait system of check and balance yang wajib termuat dalam Peraturaan Perkumpulan (PERKUM) NU. Inilah inti yang harus diperjuangkan.

          Jika berhasil, Nahdlatul Ulama betulan leaping forward. Ialah sang perawat  jagad, pembangun peradaban. Ormas keagamaan digdaya sebagai pengawal moral bangsa. Siap head to head dengan segala kemungkaran, korupsi, ketimpangan sosial dan semua musuh bangsa yang ingin makmur.

          Itulah harapan, ending manis sehabis Muktamar ke 35. اللَّهُمَّ يَسِّرْ وَلَا تُعَسِّرْ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *