MENYALAKAN HATI NUSANTARA
Written Isfandiari MD
Cahaya bukan semata fenomena fisik! Ia adalah petunjuk, hidayah, pengetahuan yang menerangi hati dan pikiran manusia. Ia mampu menajamkan rasa, melembutkan kalbu, berpendar menerangi sanubari manusia. Ia perlu dinyalakan, agar benderang menghadapi romantika hidup. Dari sinilah kami memulai, menjalankan lelaku spiritual menuju tanah Swarnadwipa, dari Selatan terus ke Utara menyisir pantai Timur, ketengah lantas turun melalui pesisir Barat……
TIM PERJALANAN SPIRITUAL LINTAS SUMATRA
TUANKU ALAMSYAH ARIF RAHMANSYAH MARBUN
ERBE SENTANU
ISFANDIARI MD
NAPIS KURTUBI
KHAIRUL ANAM
ROIFUL MACHFUDI
ETAPE 1- LAMPUNG-PALEMBANG-JAMBI-PEKAN BARU (Start : 30 Mei 2025- Jum’at)
“IJIN NUMPANG MEROKOK BISA?”
Baling-baling raksasa Kapal Feri Batumandi berputar di selat Sunda, bergerak penuh wibawa menuju Swarnadwipa, Pulau Emas, Sumatra persis di 11.48 siang hari. Di atas kapal, kumandang adzan berkumandang, mengajak umat muslim shalat Jum’at berjamaah. Walau berdesakan dalam fasilitas terbatas, jemaah tetap khusuk mendengarkan ceramah ustad untuk lanjut shalat 2 rakaat. Di horison sebelau Utara dari haluan tampak daratan Sumatra, seolah mengucapkan selamat datang. Sebuah pulau ‘tua’ yang banyak menyimpan kisah peradaban. Kami intens berbincang tentang pulau iini. Pulau dengan segudang keberkahan, tempat kali pertama insan-insan mulia menyebarkan Islam di Nusantara. Atau ditarik jauh lagi, sudah menjadi kota perdagangan ramai mencari bahan-bahan berharga untuk di sebar ke seluruh dunia. “Coba buka-buka naskah kuno? Dari Zaman Nabi Musa dataran Sumatra sudah dikenal, jauh sebelum adanya Nusantara apalagi Indonesia. Mereka mencari salah satu hasil bumi terlangka, zat yang mampu mengawetkan mumi Jaman Fir’aun. Bahkan zat itu juga dinamai sesuai daerah tempatnya ditemukan: BARUS,” buka Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun di sela-sela obrolan ringan sebelum kami berlabuh.

‘Keajaiban’ Silaturahmi sudah terjadi sejak baru saja menginjakkan kaki di Tanah Sumatra ini. Ujug-ujug hadir di dek kami sosok pria berbadan tegap. “Numpang merokok ya?” Spontan kami persilakan dan terjadi dialog ringan dengan tema yang menarik. Kami lantas akrab dan saling menanyakan latar belakang masing-masing. “Barusan saya Wa-an dengan teman saya, tuan rumah pelabuhan ini. Kalian diundang rehat ngopi sejenak din kantornya, mau?” ajak sahabat baru yang mempernalkan diri sebagai Edwin asal Jakarta. Tanpa pikir panjang kami mengiyakan ajakan pria bergaya bicara spontan, lugas tanpa basa basi ini.
Baru kapal bersandar, kami langsung menuju kantor ASDP Bakeheuni Lampung. Pak Syamsudin, Sang tuan rumah adalah GM dari ASDP Bakeheuni ia adalah sahabat Bang Edwin. Walau baru kenal, kami cepat akrab, ngopi dan berbincang santai melepas lelah kantornya yang nyaman. Dalam bincang-bicang santau, terselip topik-topik penting. Bicara kebangsaan, toleransi, kebudayaaan, sejarah, politik dan yag paling menarik, topik tentang keberagaman yang menjadi anugrah Allah kepada kita. Bang Arif banyak berbincang soal Forum Keberagamann Nusantara (FKN) yang dipimpinnya. Antusias tampak dari rona wajah mereka dan secercah harapan akan kontribusi forum ini kepada khalayak banyak. Bang Arif sebagai pimpinan rombongan sempat dihadiahi selendang khas sebagai ucapan selamat datang di Tanah Sumatra.
SULTAN DAN MUAROJAMBI
Lepas Palembang (31 Mei 2025) kami sampai di Jambi dan bersenda gurau dan diskusi intens dengan tokoh masyarakat Jambi di kediamannya. Beliau adalah Sultan Indra Rahimsyah Daulat Sultan Muhammad Syah dan istrinya Putri Srihati Rekna Gumala. Atas budi baik Sultan, kami dijamu berbagai mengundang selera di kediamannya. Nasi lengkap dengan lauknya, martabak, kopi teh dan cemilan-cemilan khas Jambi. Beliau tokoh yang paham sejarah dan tak segan memberika arahan destinasi perjalanasn spriritual yang perlu dikunjungi. Romantika kesultanan Nusantara, berbagai persoalan yang timbul, masalah kebudayaan, adab etika, kearifan lokal menjadi topik hangat yang selalu diperbincangkan . Atas arahan beliau, kami memantapkan hati untuk datang ke sebuah zona bersejarah yang menjadi destinasinpenting peradaban kebudayaan Nusantara:Candi Muarojambi.
Ini bukan tempat biasa. Lokasin ini adalah universitas terbesar di dunia pada masanya. Pusat pendidikan Budha di dunia, mencetak para biksu-biksu jempolan dan cerdik pandai pengikut Sidarta Gautama. Ia adalah kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya yang sudah berdiri megah sejak abad ke 7 Masehi dan berakhir di abad 13 masehi. Salut dan respek pada penemu, Letnan Inggris, SC Crooke yang melaporkan kepada komandannya penemuan candi di pada 1824 saat dia dan pasukannya menyisir sungai untuk pekerluan militer. Baru 1975 Pemerintah Indonesia serius melakukan pemugaran dipimpin R. Soekmono. Dari sekian Candi, baru sembilan yang mampu dipugar. Semuanya berdesain Budhis, yakni Candi Koto Mahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung,Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu dan Candi Astano. Junus Satrio Atmojo seorang pakar menilai, zona ini adalah pertemuan berbagai budaya. Ditemukan manik-manik asal Persia, Cina dan India, dan mayoritas disini adalah penganut Budhja Tantrayana.
Suasana asri Candi Muarojambi memang jadi magnet pecinta romantikja sejarah atau kelkuarga yag sekedar pelesir menikmati keindahan alam. Cafe dan warungf kopi terserak teratur, nafkah penduduk lokalpun terpenuhi dengan jasa antar gojek dari lokasi parkir sampai candi atau menjual merchandise sebagai pengingat kita pernah berkunjung ke sana. Ada rasa bangga dan harapan saat kami membuka dialog dengan anak-anak muda yang datang. Mereka mahasiswa asal Papua yang sedang bersekolah di Swarnadwipa. Terlihat antusias mereka tentang kesejarahan, bagi kami ini menjadi harapan, sejarah tetap dikenang tak hanya album masa lalu, tetapi pelajaran dari leluhur betapa Nusantara adalah peradaban yang mempengaruhi tata kelola sosial masyarakat dunia. Alhamdulillah!

JOURNAL JOURNEY PART 2 –JELAJAH SWARNADWIPA (SUMATRA)
MENCARI WIFI….MENDAPATKAN SAUDARA
Its A Journey Not The Destination menjadi patokan kami saat menjelalah pulau Emas Sumatra. Mengalir bagai air, riding the wave-tunggangi gelombang dan membiarkan semesta menentukan ke arah mana kami melangkah dan apa yang akan kita lalui nanti. Diperlukan kesabaran, jiwa yang selalu optimis dan berkawan dengan lelah dan penat. Jadikanlah semua itu pelajaran sepertihalnya leluhur kita dahulu, sabar,ikhlas dan tetap mensyukuri semua rahmat-Nya…-
Awal Juni sudah datang. Persis 1 Juni lalu, kami masih ada di Candi Muaro Jambi, tepat dengan hari lahirnya Pancasila. Selepas itu, kami sudah bergerak terus menuju Pekan Baru di hari yang sama. “Rutinitas tetap harus saya jalani! Ada kelas yang tak bisa saya tinggalkan, semoga kita bisa singgah sejenak menemukan WIFI,” tutur Erbe Sentanu, salah satu tim penulis buku kondang Quantum Ikhlas dan rutin mengajar di berbagai tempat.
Dari situlah kami digiring mendapatkan moment berharga:singgah di Polsek Tungkal Ulung Tanjung Jabung yang masih wilayah Jambi. Alhamdulillah, penerimaan mereka sangat hangat bagi kami sang musafir.”Silakan singgah, ngopi dan rehat! Wifi aman, pak Erbe bisa pakai kantor saya.” Yang bicara sosok muda tegap dengan raut muka bersahabat. Ia adalah Windy Trias Kumoro, S.H.,M.H Kapolsek Tungkal Ulu. Saat kami datang, Ia sedang santai sahabatnya Agung Heru Wibowo, kapolsek Merlung dan beberapa polisi yang sedang berjaga.
Raut muka Erbe Sentanu terlihat sumringah. Ia cekatan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan zoom meet dengan pada santrinya. Sedang kami yang lain, tenggelam dalam obrolan seru dengan pada penegak hukum yang rata-rata masih berusia muda. Suka duka menjaga wilayah ini, terjadi konflik yang harus diselesaikan sampai urusan kriminalitas menjadi obrolan di tengah dingginnya malam. Mereka memang garda terdepan dari lembaga kepolisian, posisi yang langsung terjun di tengah masyarakat.”Pendekatan budaya, sisi –sisi manusiawi, keakraban dengan penduduk adalah kunci terjalinnya stabilitas di wilayah ini. Suku Melayu, Batak, Minangkabau, Jawa, Kalimantan, Madura, Sunda dan lainnya berbaur di sini. Mereka membawa karakter kesukuan yang khas, belum lagi perbedaan agama juga strata sosial. “Uniknya lagi suku anak dalam! Mereka sangat khas dalam prilaku dan kita harus mengerti betul adat istiadat mereka. Suku ini relatif baik dan tidak suka buat onar. Mereka kerap berpindah-pindah dan mengerti betul seluk beluk daerah ini. Hati-hati juga, disini masih kental ilmu kanuragan ataupun hal-hal berbau mistis. Tapi jika kita bermaksud baik, insya Allah tidak akan kena dengan namanya santet atau guna-guna,” kisah Mas Agung Heru sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Terus terang, kami merasa betah berlama-lama di markas mereka, namun kita harus terus bergerak apalagi pak Erbe Sentanu sudah menuntaskan misinya, zoom meeting dengan banyak peserta di dunia maya. Selamat tinggal all brothers petugas kepolisian, selamat bekerja menjaga wilayah ini. “Terima kasih atas segala sambutan Mas Windy, Mas Agung dan semua saudaraku. Selamat bertugas menjaga keharmonisan di bumi Swarnadwipa,” jabat Tuanku Arif Rahmansyah Marbun selaku road captain rombongan. Malam semakin larut, bulan sabit menggantung rendah di zona Jambi, teriring ucapan selamat tinggal kepada mereka, moga lain waktu berjumpa lagi.

RIUNGAN PARA SULTAN DI PALAS RUMBE PEKAN BARU
Pelukan hangat KH.Rusli Ahmad, SE.,MM untuk road captain Tuangku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun terjadi siang hari di kediaman beliau di zona Palas Kecamatan Rumbe, Pekan Baru (2 Juni 2025). Kediaman asri berkolam ikan luas, pohon kurma dan bangunan estetik berlukis di dinding-dindingnya.
Di sana rombongan sudah dinanti banyak pihak. Atas undangan tuan rumah, hadir Jhon Inten Panglima Hulu Balang Lamkota Pekan Baru,Kawit Parisade Hindu Dharma Indonesia Propinsio Riau, Habib Ahmad, Nursal Tanjungm ketua K-SPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Sekuruh Indonesia), Eyang Surahmat (Ketua Masyarakat Sunda-Riau), Tenku Nazir (Kesultanan Siak), Datuk Sri Muspidaun SH.MH. DPH Lamr (Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekan Baru) dan banyak lagi tokoh-tokoh lain dari kesultanan, lembaga adat, tokoh agama juga politisi.
Riungan ini tentunya tak sekedar temu kangen, tegur sapa dan saling tanya kabar. Agenda penting terkuak di forum ini, intinya menyambut antusias kehadiran Forum Keberagaman Nusantara (FKN) di wilayah ini, termasuk tokoh-tokoh inti yang memperkuat organisasi ini. Disimak peran kesultanan dan sumbangsihnya bagi negara dan bangsa, kiprah mereka di masa lalu,kini dan akan datang termasuk bahasan perkembangangan budaya, geopolitik, sosial kemasyarakatan. Para tokoh sepakat untuk merapatkan barisan dan aktif di FKN sebagai wadah pemersatu dan menjadi mesin penggerak menuju Indonesia Emas dan Indonesia sebagai mercusuar dunia. “Menyalakan hati Nusantara salah satunya disasar di wilayah ini. Dengan kehadiran para tokoh lintas suku, agama, budaya Forum ini bakal lebih mantap menjalankan misinya, Beragam Bersatu Berdaya dan lahirnya rumah Keberagaman di Pekan Baru Riau,” jelas Arif Rahmansyah Marbun.
Agenda tak kalah penting tentunya menggelar event akbar dideklarasikan FORUM KEBERAGAMAN NUSANTARA secara nasional. Moment historikal ini sedang digodok matang dan masih menerima masukan-masukan dari berbagai pihak termasuk struktur organisasi yang solid di sini. Optimisme bergelora di semua khalayak yang hadir termasuk dari golongan pemuda. Bismillah, semoga Tuhan merestui!-Pekan Baru Riau, 2 Juni 2025-
JOURNAL JOURNEY SWARNADWIPA (SUMATRA) PART 3
BARUS, TAPANULI TENGAH: BEBUKA PERADABAN ISLAM NUSANTARA
.Ecolo Francaise d’Extreme –Orient (EFEO), peneliti Perancis sinergi dengan arkeolog nasional (PPAM) di Lobu Tua (1995-2000) menyimpulkan secara arkeologis bahawa Barus adalah tempat kali pertama Islam hadir di Nusantara. Bukti Arkeologis banyak bertebaran di Barus, salah satunya makam Syech Rukhnuddin wafat di 672 Masehi atau 48 Hijriah juga 11 lokasi makam lain seperti di Papan Tinggi tempat disemayamkan jenazah Syech Mahmudsyah. Ada juga kajian journey perjalanan Marcopolo yang sempat datang ke wilayah ini bersaksi banyak pedagang Arab-Persia-Armenia dan banyak orang dari belahan dunia lain datang ke Barus. Di klaim secara historikal sebagai kota tertua di Nusantara dan hadir sebelum dinasti Sisingamangaradja…..
Jalur tengah malam hari menjadi zona kekuasaan bus-bus cepat dari atau ke Medan dari berbagai daerah. Rangsangan ‘uang tancap’ sebagai pendorong agar supir cepat sampai tujuan membuat jalur ini persis sirkuit balap dengan bus-bus kecepatan tinggi. Manuver mereka ekstrem dan kadang tidak peduli pengguna jalan lain apalagi mobil-mobil kecil. “Makanya jika bisa dihindari jalur malam. Sudahlah rehat saja disini kita ngobrol santai,” kata sahabat kami Bang Fery Andhika Dalimunthe, tokoh muda, politisi Partai Demokrat di Kabuhanbatu Sumatra Utara. Kami sampai di rumahnya di 3 Juni tengah malam.
Walau usia muda, wawasan Bang Fery sangat luas. Ia diskusi tentang banyak hal, fakta sejarah di Barus, tipografi wilayah Labuanbatu, soal-soal politik, kebudayaan dan obrolan-obrolan ringan menemani malam. Ada juga terbahas masukan-masukan tentang Forum Keberagaman Nusantara yang dipimpin Bang Arif dan langkah-langkah strategis ke depan khususnya bagi Sumatra. Kami lantas bermalam di penginapan di sini untuk bersiap melanjutkan perjalanan esok harinya.
BARUS..WE’RE COMING!!!
BARUS..WE’RE COMING!!!
Melewati Sibolga, kami masuk wilayah paling historikal dalam sejarah Islam Nusantara. Inilah Barus, zona peradaban pertama di Nusantara, destinasi ekonomi dunia tempat para pedagang, cedikiawan dan ulama masuk Nusantara. Naskah-naskah kuno, arkeolog dan parta sejarawan ramai membicarakan wilayah ini, tempat zat yang sangat berharga tumbnul di dalam sebuah pohon besr, Kapur Barus sebagai pengawet mayat, wewangian dana berbagai kebutuhan lainnya. Mulai jaman Nabi Musa, pemerintahan Fir’aun sudah menjadi tujuan bahkan nama pengawet ini dinisbatkan pada wilayah ini BARUS…sebagai Kapur Barus yang legendaris itu.
Zona pesisir yang relatif sepi, tepat di pesisir Barat Sumatra berhubungan langsung dengan samudra Hindia. Masuk tengah malam tim sudah bercengrama dengan penduduk setempat, pemuda dan tokoh masyarakat di sebuah kedai kopi sederhana berjuluk Mr. Black, Jl. Zainal Arifin no.26, kelurahan Pasar Batu Gerigis. Tak ada lagi lelah saat berada disini. Energi kuat terasakan dan agendaagenda besopk hariu cukup padat, utamanya ziarah makam-makam para aulia mulia. Kami tuntaskan malam dengan bermalam di Mess Pemprof Barus, Jl. Sudirman no. 17 persis di tengah kota tak jauh dari Pantai.
Cuaca yang biasanya terik kali ini sendu cenderung mendung. Bang Arif Marbun sempatkan waktu bermain-main di Pantai Barus bernostalgia masa kecil di wilayah ini. Ombang awalnya tidak begitu beriak, namum lama kelamaan sedikit bergolak mungkin mengucapkan selamat datang dan temu kangen dengan putra Barus yang sudah lama tak berjunjung. Begitu juga cuaca, lama kelamaan mendingin, langit lepaskan beban dan hujan berkah turun. Kami lantas bergeser ke lokasi lain, Tugu Peradaban Islam Nusantara masih di sisi Pantai. Tugu ini diresmikan Presiden lalu, Pakde Joko Widodo dan diteruskan kunjungan Wakil Presiden di waktu lainnya, KH. Ma’ruf Amin dengan perhelatan besar-besaran dan sangat viral saat itu. Ada rasa bangga sampai di Tugu ini, Pak Camat, Kapolsek setempat ikut mendampingi dan melihat kembali prasasti Titik Nol Peradaban Islam Nusantara, berdiri kokoh berbentuk bola dunia dan pilar-pilar sebagai simbol kisah yang tercatat dalam sejarah Indonesia.
MAKAM MAHLIGAI PAPAN TINGGI SYECH MAHMUDSYAH – 800 RATUSAN ANAK TANGGA MEGAH
Syech Mahmudsyah Barus adalah menyebar agama Islam ternama di wilayah ini. Makamnnya ada di ketinggian puncak bersama makam-makam tertua diantaranya Makam Aulia Tuhar Aminsuri yang dalam catatan lebih tua 94 tahu dari makam Sultan Malik As Shaleh Meunasah Berinmgin Kutakarang Aceh.
Pendakian ke Papan tinggi tentunya menyita energi. Namun energi besar dan karomah sang Aulia membuat kami tetap bersemangat untuk mencapai puncak. Dalam kewilayahan, makam ini terletak di Desa Pananggahan Kecamatan Barus Utara Tapanuli Tengah. Disini kami berziarah makam berdoa kepada Allah diberi keselamatan dan barokah. Hari sudah menjelang sore dan kumandan adzan Maghrib terdengar sayupsayur dari dataran redang desa di bawahnya. Kami shalat berjama’ah di puncak bukit ini. Udara mendingin dengan cepat dan angin berembus semakin kencang. “Dari ketinggian lansekap indah tanah Sumatra. Disini kami berziarah kepada aulia Agung Syach Mahmudsyah. Beliau leluhur kami dn menjadi tokoh panutan yang selalu menjadi cahaya yang menyinari Nusantara. Dari zona ini kami sadari tuah keramat tanah Barus sebagai bebuka peradaban Islam Nusantara, menyalakan hati, mensyukuri keberagaman di negri ini,” paparan Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun saat di lokasi. Persis di bawah bendera Indonesia yang berkibar di kompleks makam.
JOURNAL JOURNEY SWARNADWIPA (SUMATRA) PART 4
BARUS…. HATI YANG TERTAMBAT
.Claudius Ptolomeus, Gubernur Yunani di Alexandria Mesir memberi catatan tebal tentang sebuah peradaban maju bernama Barousai. Zona ini adalah bandar niaga jauh di ujung dunia belahan Timur. Peta ini berangka tahun 2 Masehi. Ia ada di ujung Barat Sumatra tempat sebuah zat paling berharga di dalam kayu Kanfer yakni kapur Barus. Wewangian ini dicari orang-orang untuk kepentingan khusus, bahan parfum dan zat pengawet mayat dari jaman Nabi Musa, digunakan para Fir’aun berbagai generasi untuk mengawetkan pada raja-raja, istri dan petinggi kerajaan…….
Semua info yang didapat itu membuat kami ‘tertambat’ cukup lama di wilayah ini. Energi dan romantika yang tersimpan di masa lalu seolah beresonansi di masa kini. “Entah apa yang menjadi tuah Barus. Saya dulu sekali tersedot untuk datang kesini dan masih di sini sampai sekarang,” pengakuan seorang tua kepada Bang Erbe Sentanu saat dia jalan-jalan di sekitaran pantai Barus. Ia dan kami beruntung sampai di wilayah ini, kampung halaman road captain tim Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun (Minggu 8 Juli 2025)
Sebagai adab juga ibadah, kami diboyongnya ziarah beberapa makam kerabat. Selain Makam Papan Tinggi dan Mahligai, dua komplek makam menjadi tujuan kami. “Informasi terserak memerlukan daya upaya keras untuk disusun.Walau belum mendekati kesempurnaan jalur nasab, kita bisa menapaki jejak jejak mulia leluhur kita.Ziarah ke Bapak Dolok putra Yang Mulia Mara Alamsyah membawa nuansa sakral riwayat mereka mengisi peradaban zaman romantisme kerajaan Pagaruyung,Kesultanan Indrapura juga Raja Palopa.Kisah leluhur kami, ini membawa kami berziarah,menghayati olah karsa dan rasa mereka dalam syiar Islam di Tanah Batak dan beresonansi ke seluruh pelosok Nusantara.Moga generasi ke depan tetap memelihara jejak nasab ini agar mereka menauladai kiprah insan insan mulia, menjadi pencerah yang mencerahkan,sebagai nasab penyambung energi besar untuk kami memgabdi pada negri tercinta,” papar Bang Arif saat kami melangkahkan kaki menuju makam luluhurnya itu.
Suasana makam kuno itu menyisakan kesan tersendiri. Nisan-nisan bertuliskan arab pegon yang menerangkan nama, kelahiran dan kematian masih tersusun rapi dan dirawat dengan baik. Doa khusyuk dipanjatkan, udara pagi masih sangat terasa dan sinar mentari menyeruak berpendar dari sela-sela dedaunan. Setelah itu sebuah agenda penting dilakukan, berkunjung ke makam tokoh penting yang juga leluhur Bang Arif Marbun, Tuanku Ibrahimsyah pendiri Kesultanan Barus.
KEPEDULIAN ANAK CUCU SULTAN IBRAHIMSYAH SEBAGAI SURI TAULADAN
Tuanku Ibrahimsyah bukanlah orang biasa. Ia adalah tokoh pendiri Kesultana Barus dengan riwayat panjang dang berakhir saat pendudukan Belanda di Abad 19. Bermula dari keluarga Kesultana Indrapura ta Tarusan Pesisir Selatan lantas berbelok ke Utara menuju Barus dan lahirlah sebuah kesultanan oleh Sultan Ibrahinsyah bin Muhammadsyah dari Tarusan Pesisir Selatan tanah Minangkabau. Dalam naskah naskah tersusun, terjadi masalah antara Tuanku dengan keluarganya di Tarusan hingga beliau memilih menyusuri pantai Barat Sumatra hingga tiba di Batang Tobu dan terus masuk kempadalaman daerah Silindung. Kharisma beliau sangat kuat di sana hingga ia diangkat menjadi raja di Toba-Silindung. Disana beliau membentuk institusi empat penghulu sepertihalnya di Minangkabau. Para pengulu inilah yang mewakili Silindung dalam berbagai hubungan diplomatis dengan Kesultanan lain. Setelah membentuk institusi ini, sang raja berpindah menuju Bakara dan menikah dengan putri raja setempat. Dari hasil perkawinan itulah lahir seorang putra bernama Sisingamangaradja.
Dai sana beliau melanjutkan perjalanan ke Pasaribu dan bertemu raja disana. Dalam sebuah naskah disebutkan bahwa Ibrahimsyah berkata ia juga bermarga Pasaribu. Raja sangat senang karena tokoh kharismatik ini bermarga sama dan memintanya tinggal di Pasaribu. Sejarah menceritakan beliau tidak berkenan tinggal di sana dan memilih terus bergerak ke tepi laut bersama raja-raja dari 4 pusaran (Empat Suku), tepi laut itulah yang dinamainya BARUS, sesuai nama kampung halamannya saat di TARUSAN. Disini beliau diangkat sebagai raja dengan gelar Tuanku Ibrahimsyah.
Kesultana Barus terbilang gemilang di Abad 14, ia adalah pelabuhan ramai bagian dari Kerajaan Pagaruyung bersama Tiku dan Pariaman, dan menjadi pintu utama jalur pedagangan ke Swarnadwipa (Sumatra). Tahun 1525 Kesultanan Barus ada di bawah Kesultanan Aceh lalu beralih menjadi kekuasaan kerajaan Minangkabau (Pagaruyung). Posisi Kesultanan ini menjadi kemudaia menjadi pengikut (vassal) Aceh hingga tahun 1668. Jadi tak heran, semasa inilah warga Barus berpindah keyakinan dari kepercayaan tradisional dan memeluk agama Islam.
Kisah sejarah terus bergulir. Pernah, Barus dipimpin 2 raja yakni Raja Hulu mempimpin Tona-Silindung (Pedalaman) dan Raja Hilir yang memimpin orang-orang Minangkabau (Pesisir) bermukim di Barus hingga Batahan. Pembentukan 2 raja ini memberikan keuntungan terhadap dominasi Aceh Di Barus sekaligus melegitimasi kedudukan raja-raja Batak. Masuk VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Perusahaan Hindia Timur Belanda di 1668 menciptaklan dualisme sikap antara 2 raja ini. Raja Hulu menolak kehadiran VOC dan bersumpah setia pada Aceh sedangkan Raja Hilir menerima VOC dan menentang dominasi Aceh di Barus. Akhirnya, pada abad 19 Barus jatuh menjadi kekuasaan VOC dan masuk propinsi Sumatra Weskust (Barat) , berpusat di Padang.
Histori Hikayat inilah yang membuat anak-cucu keturunan Tuanku Ibrahimsyah tergerak. Salah satu bakti yang bisa dijadikan suri taulana adalah merawat makam agar lebih nyaman dikunjungi peziarah. “Saat ini malam Tuanku Ibrahimsyah dan keluarganya terhalang sebuah bangunan ruko dari jalan raya. Melalui ikhtiar inilah kami membebaskan tanah ini agar murni menjadi bagian dari kompleks makam. Ke depan, ruko ini ajan dirobohkan dan dibuatkan musholla atau mesjid yang layak bersanding dengan makam di belakangnya. Para peziarah akan lebih nyanam datang kesini, beribadah dan berdoa,” haru Tuanku Alamsyah Arif Rahmasyah Marbun saat penandatanganan legalitas pembelian ruko yang persis di depan kompleks makam. Kejadian ini termasuk viral saat itu karena prosesi penandatanganan ada di areal makam desa Gabungan Hasang Kecamatan Barus.
Tak sampai distu ada juga moment penting pelatakan batu pertama di sebuah areal lahan kosong tak jauh dari areal ini. Untuk hal ini masih menyisakan tanda tanya. Biarkan saja waktu yang akan menjawab……
