OPINI

ANTARA ISI BENSIN DAN SYI’AR PART 2

By Isfandiari MD

…..Dalam bersyi’ar,  seimbangkan antara fikih dan tasawuf sebagai ciri aswaja…..

Tulisan Antara Isi Bensin Dan Syi’ar baru lalu direspon langsung H.Fitrah Dani Ahmad, M.Sos,. Selain apresiasi positif, kyai muda yang disapa kang Boim ini ingin shadaqah ilmu. Dia ingin beri tips mengacu pengalamannya agar pergaulan dengan komunitas di luar santri lancar jaya. Bebuka sharing ia mengutip ayat Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat :13: “Wahai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar kami seling mengenal..” Ia juga share beberapa ayat lain, QS. Luqman;18,”Dan janganlah kami memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh..” Diteruskannya dengan QS. An-Nisa:36,”…Berbuat baiklah kepada kedua orang tua,kerabat,anak yatim,orang miskin,tetangga yang dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil…”

          Jebolan pesantren Tebu Ireng ini bilang, tergantung bawaan kita. “Dengan siapa saja asal baik dan santun. Respect dengan perbedaan suku bangsa, status sosial selalu tebarkan salam senyum dan perkataan baik. Jangan lupa selasksa energi kesabaran atas kekurangan orang lain.” Makin afdal ia mengutip hadis Nabi,”Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.”-(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi). Katanya, “Saya juga terkesan dengan hadis Rasulullah dari Bukhari-Muslim yang isinya: Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencitai dirinya sendiri.”

          Bisa ditebak ini gak mudah. Eksekusinya di lapangan hadapi banyak kendala. Tabiat beda, lifestyle yang penuh kenikmatan duniawi dan jurang pemisah dunia santri dan mereka. Khusus lahan para bikers yang ditekuni Kang Boim, ada sekat tak terlihat. Ia sama sekali tak menghakimi jika dunia itu serbagelap dan harus ‘hijrah’ meninggalkan itu semua. Baginya, motor bisa jadi sarana silaturahmi dan lelaku riding, turing jauh samahalnya dengan polah Nabi dan rasul terdahulu. Bahkan para penerus nabipun melakukan hal sama lewat jalan pengembaraan. “Bahkan seperti kita paham, insan mulia Kyai Nusantara semisal KH. Wahab Hasbullah, muassis Nahdlatul Ulama juga seorang bikers. Sampai kini, teman-teman motoris yang paham sejarah hormat kepada beliau sebagai tokoh motor nasional yang inspiratif,” jelas Kang Boim lagi. Perkara ini pernah diulas sejarawan Universitas Padjadjaran, Juhana Sutisna alias kang Joe yang juga artis film.”Walau tidak detail infonya, Mbah Wahab sesuai jamannya memakai Birminghall Small Arm (BSA-Goldstar M20) atau Harley-Davidson 45 cu atau 750 cc The Forty Five bersi sipil,” ulasnya.”Mbah Wahab dijamannya Kyai kaya tapi tidak suka flexing macam orang jaman sekarang. Bisa juga beliau pakai Brough Superior, Rudge, Norton atau malah Vincent. Diingat sejarah juga koleksi muscle car semacam Impala atau Chevrolet Bell Air,” jelasnya lagi. Kang Boim juga menambahkan terispirasi KH. Abdullah Ubaid, Kyai muda Nahdlatul Ulama, bikers sejati, wafat dalam kecelakaan riding saat perjalanan pulang hadiri Muktamar ke-13 NU di Menes Banten. Beliau terjatuh dari Harley-Davidson kesayangannya pada 1938. Dalam profil lainnya ada juga teringat lelaku H. Mahbub Djunaidi, tokoh NU yang akrab bergaul dengan kalangan motoris. Dalam buku Outsiders Kisah Para Penunggang motor -versi Inggris- One Nationz Under Outsiders ada ditulis pergaulan almarhum dengan geng motor era 90-an.

          Ada tips lain Kang Boim? “Dalam bersyi’ar,  seimbangkan antara fikih dan tasawuf sebagai ciri aswaja.” Penjabaran dalam tasawuf adalah mahluk spiritual cerminan rahmat Allah. “Dalam praktiknya memang menantang! Orang yang bertato shalat tidak sah karena air tidak masuk. Bergaulah dengan orang sholeh dan seterusnya. Ini khan murni pandangan fikih. Nah, kita harus juga mencari jalan lain dari sisi tasawuf yang lebih menitiberatkan pada kasih sayang dan rahmat Allah. Dari sanalah saya berpijak agar hati mereka tersentuh dalam mencari rahmat-Nya,” tutupnya serius.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *