OPINI

PARENTING IDEAL MODAL GENERASI EMAS 2045

By Isfandiari MD

foto by Hafil Pramoedya

Mari berhitung gampang.  Jika 2026 anak berumur 4, 5, 7 tahun, berarti di 2045 dia sudah matang, usia 20 han, manggung sebagai generasi emas  yang diharapkan gemilang. Perlu persiapan? Jelas! Harusnya wajib ajeg-digdaya mental-fisik. Untuk sampai kesitu, didikan dan perlakuan orang tua jadi syarat vital, seriusi ilmu parenting.

Fakta kebanyakan, anak dikondisikan serbagampang, manja dan rapuh mental fisiknya. Kejadian di mall atau publik area  misalnya, banyak ayah-ibu ‘latah’ kasih komando jangan ini jangan itu, awas ini awas itu pada anaknya. Padahal si anak anteng tak melakukan hal berbahaya buat dirinya apalagi buat orang lain. Power orangtua terasa berlebihan, gampang melarang dan ucap awas bahaya. Melarang dan mewanti  jadi latah, keharusan. Anak berlari sedikit atau manjat handikap landai,  awas jatuh. Andaipun jatuh dalam batas insiden kecil, respon berlebihan saking sayangnya. Dalam beberapa kasus, anak menangis bukan karena sakitnya jatuh tapi reaksi panik orangtua yang membuatnya keder.  Anak dianggap benda pecah belah yang gampang cidera. Agak ‘menganggu’ saksikan  anak harus dibantu bukakan tutup botol atau tumbler saat haus padahal ia bisa buka sendiri. Makin miris, orangtua tergopoh-gopoh bukakan pembungkus permen waktu dimintai tolong anaknya. Sudah jadi kebiasaan,  andalkan orangtua dalam hal sepele. Akhirnya, orangtua jadi jongos, anak ndoro. Orang tua abdi, anak menjelma jadi  majikan. Hasilkan anak mandiri? Jauh dari harapan.  Belajar dari orangtua dahulu, anak bisa jadi pelayan orangtua dalam kapasitas wajar. Ayah pulang kerja, disuguhi minum walau sekedar air putih.  Ada kemauan dan kemampuan menyapu halaman atau ngepel lantai, bersihkan wc.  Banyak memori yang sudah langka, anak kecil injak-injak punggung bapaknya yang pegal habis pulang seharian kerja, anak yang bawakan ibunya belanjaan di pasar, wujud bakti pada orangtua.

          Ini masih seputaran fisik. Masalah mental selaksa peristiwa dihadapi sehari-hari. Taruhlah  saat makan di restoran. Jarang terjadi anak disuruh orangtua membayar bill tagihan makanan. Dititipi uang melenggang ke kasir untuk handle masalah kecil ini. Yang banyak terjadi, anak tetaplah di meja makan, main games sambil makan atau buka medsos. Semuanya dibereskan orangtua, ia tidak diberi tanggung jawab dan punya fungsi dalam aktivitas sosial.  Harusnya, makin naik usianya, tanggungjawabnya makin besar, ia menjadi fungsional dalam keseharian dan…tak banyak keluarga menerapkan ini.

         Tak salah jika menilik pendapat pakar. Psikolog anak, Laura Markham penulis Peaceful Parent, Happy Kids , sharing ilmu. Kelewat padat katakan ‘jangan’ pada anak bakal menutup insting inisiatif, daya kreatif. Lanjut dijabarkan, kata ‘jangan’ yang tak tepat bakal menghambat keberanian anak lakukan lelaku inisiatif spontan. Instruksi itu  membuatnya terkungkung secara psikologis dan sosial. Ia jadi lembek, kurang struggle, rapuh-rentan. Padahal dalam situasi terukur dan aman ia harusnya dibiarkan bebas merdeka ekspresikan kebebasan eksplorasi ala anak-anak.

         Perlakuan ekstra memanjakan ini berdampak banyak. Bertemu kerabat, pasif tak menyapa malah harus disuruh sekedar salaman. Tak bernyali menyapa duluan dan berinteraksi dengan orang lain. Didikan serba ‘jangan’ dan ‘awas’ membuatnya tidak percaya diri, tak  punya keberanian dan merasa sesuatu yang sejatinya gampang dan enteng jadi sangat berat. Siapa yang membentuknya? Orangtua mereka sendiri.  Padahal semuanya jadi modal saat dewasa kelak : kemandirian, hargai proses bukan hasil, tanggung jawab, skala prioritas, problem solving, trial and error sampai menyoal adab etika.

         Syukurlah, ada juga orangtua yang serius membentuk karakter ideal anak. Mereka intens menggali ilmu parenting yang baik. Walau keluarga mapan anak dibentuk dan disiapkan hadapi kerasnya hidup.   Diajari bersyukur dan tahu diri. Dibentuk beretika, berempati dan cergas dalam banyak hal. Dalam situasi lain, anak-anak tertentu dibentuk tegar akibat keadaan. Mereka yang lahir di keluarga tidak mampu biasanya bermental baja,  para pejuang sejati yang tak cuma mampu mandiri tapi juga menopang ekonomi keluarganya.

         Jadi mari berhitung lagi. Generasi emas 2045 yang diharapkan harus dipersiapkan dari sekarang. Generasi berganti, yang lama mundur yang baru maju. Tantangan makin besar. Mari kita list kebutuhan yang wajib dipenuhi:  daya juang, mental baja,  kecerdasan spontanitas, keberanian, respect pada proses, open minded,  kepribadian bangsa, nasionalisme,  kedalaman ilmu agama, skill ilmu science dan teknologi, tidak hedonistik, tidak  instan, tidak konsumtif tapi produktif,  hati yang baik dan seterusnya. Semuanya dipupuk dari sekarang, dimulai dari hal kecil keseharian.

         Bisa?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *