DAKWAH LEBAY ..UMAT GOODBYE
By Isfandiari MD

Ada rantai emas turun dari langit, pesawat terbang mundur kendali kesaktian habib, bensin mobil ganti air mushola, jubah yang bisa bertasbih dan banyak lagi. Pesawat mundur beres take off? Bagaimana penjelasannya, apa direkam menara kontrol? Ada turbulensi? Bensin diganti air mushola? Bensin rumus kimia kompleks hidrokarbon: alkana, iso alkana, aromatik, air mushola hanya H2o. Masak bisa jadi pemantik ledakan di ruang bakar mesin? Yang dengar puyeng, tertawa atau cemberut kesal. Selain lebay, berbahaya sebagai konten dakwah. Katakanlah itu terjadi dan jelas-jelas muzizat, tetap saja bukan konten yang sehat bagi kemajuan berpikir umat Islam. Tidak inspiratif, tidak menebalkan iman malah cenderung pembodohan, bahan lawakan.
Setelah soal khurafat hadir juga ‘style’ narsis tingkat tinggi. Habaib atau siapapun dia, bangga tampangnya cetakan Timur Tengah. Lebih mentereng ketimbang sosok kebanyakan warga Nusantara, mas-mas, akang akang, uda dan seterusnya. Dalam gaya lawakan, ada jelas meledek bentukan lokal, pipi tembem, pesek, kulit bluwek lalu tawa pecah, ajaibnya jemaah yang jadi objek hinaan juga ikut terawa dalam intensitas yang sama senangnya. Demi adab santun, gak enakan, nrimo dihina. Idealnya berdiri tegak dan beri pemahaman, “Jenengan menghina kami? Kamu makan dimana, ngapain kesini?” Nah, gitu harusnya! Keterlaluan memang, promosi diri insan spesial, bukan di sisi ilmu tapi estetika. Bersambung, banggakan nasab mulia, diproklamirkan repetitif di tiap mimbar berikut bumbu-bumbu yang perlu. Ini yang paling laku!
Konten lain, jelek-jelekkan agama lain. Banyak dai mua’laf lakukan ini, wajar mereka punya bahan, teralami langsung, jadi lebih jos, lebih laku dan lancar cuan. Jika masih sebatas wajar, okelah tapi kadang kelewat batas outputnya blunder dan boomerang. Nabi bersabda: Jangan engkau membenarkan para ahli kitab, jangan pula mendustakan mereka. Katakanlah,”Saya beriman dengan apa yang diturunkan kepada kami dan kepada kalian (HR. AL Bukhari). Sering sadar-tidak sadar sabda Nabi ini tidak diikuti hingga hadir dakwah kebablasan yang efeknya tak kalah tragis, reaksi tak kalah keras. Padahal jelas dilarang Allah, Q.S Al Anam 108:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٠٨
wa lâ tasubbulladzîna yad‘ûna min dûnillâhi fa yasubbullâha ‘adwam bighairi ‘ilm, kadzâlika zayyannâ likulli ummatin ‘amalahum tsumma ilâ rabbihim marji‘uhum fa yunabbi’uhum bimâ kânû ya‘malûn (Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Ini terkait tujuan berbangsa sejalan ikhtiar ormas besar Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah soal moderasi beragam ( (Wasathiyah), semangat tasamuh (toleransi) dikuatkan lagi para ulama seperti KH. Bahauddin Nursalim ngaji tafsir jalalain surat Al-Anam 108, “Jangan menjelek-jelekkan agamanya orang lain, nanti yang mereka ejek adalah Allah, bukan kita. Wa la tasubbulladzina yad’una min dunillah fayasubbullah adwan bighari ilm…
Soal lain perlu dicatat, konten dakwah becanda tak berujung. Isinya murni entertaining. Dalihnya supaya umat tertarik hadiri majelis terhibur dan seterusnya. Ini juga gak kalah bahaya, agama malah jadi lawakan. Hasilnya, lahir generasi recehan low taste saling sambung kaderisasi ustad setelahnya. Orang bermutu makin langka, berakhirlah masa gemilang, lahir dark age peradaban manusia.
Moga gak terjadi, tapi yang pasti, gen z (1997-2012) dan setelahnya sudah tak mudeng lagi dakwah model begitu. Walau ada harapan, tidak atheis ranah agnostik lumayan jadi pilihan. Kata data, mereka lebih dinamis dalam lelaku keagamaan, toleran (data kemenag 2025/2026- 56.29) dan kurang religius ketimbang generasi seniornya. Lumayan miris, makin tidak rutin beribadah, umur 15-18 tahun 7%, umur 23-25 13 %. Kata data, mereka lebih trust pada koneksi digital ketimbang ‘turun lapangan’ cari ilmu, pencerahan, ketenangan batin secara mandiri.
Kata kuncinya secara mandiri, salah satunya, scroll hp medsos terkait keagamaan. Itu dia, jika kebetulan mampir konten yang sudah ‘bukan gue banget’ mereka makin menjauh. Syukur masih ada ibadah Jum’at yang masih dihadiri kaum muda. Itupun jangan banyak berharap, penceramah jarang lakukan improvement, muter disitu-situ aja dalam gaya dan materi. Gen-Z tertib dengar musabab ibadah ritual semata, bukan dapat ilmu.
Semuanya pe’er mereka yang peduli. Ormas keagamaan besar-sedang-kecil, pemuda alim progresif, orang berumur yang ingin menyimpan legacy sebelum berpulang, pemilik sumber-sumber finansial, kepala-kepala daerah, pejabat birokrasi sampai tingkat mentri-presiden. Ini sudah warning! Karakter gen emas di 2045 wajib disiapkan. Bukan lagi generasi pecinta khurafat, kaum receh yang mencak-mencak cuma lantaran warteg buka siang bulan puasa, suka debat kusir urat leher soal hal-hal yang gak begitu penting. Bolehlah berandai-andai. Jika sinergi kekuatan positif berjalan bareng, pencerahan hadir, dakwah jadi majelis ilmu sesuai konteks dan terstruktur. Semua narasi daging semua, wajah Islam terlihat jelas, agama penyempurna ruh spiritual manusia. Semua hadir di celah-celah panggung komunikasi: medsos ataupun mimbar off line. Seriusi kontennya, jangan sampai umat goodbye, pamitan, we don’t trust you all no more!

